Mau Widget Ini?

Jumat, 12 Desember 2014

Esay - Kehamilan Yang Tidak Diinginkan


Kehamilan Yang Tidak Diinginkan
 Berkah atau musibah?
 


Tahukah anda kehamilan merupakan dambaan setiap pasangan? Setiap wanita pasti menginginkan kehamilan bukan?  Idealnya, kehamilan terjadi karena memang diharapkan oleh pasangan. Pasalnya, kehamilan bagi sebagian orang merupakan anugerah yang  sangat didambakan, karena mereka percaya bahwa anak adalah titipan Tuhan. Dengan hamil, mereka dapat meneruskan keturunannya. Pada kenyataannya, ada juga yang menganggap bahwa kehamilan sebagai malapetaka apabila perempuan itu sendiri belum atau tidak menginginkan kelahiran anak. Disaat sejumlah pasangan tengah berjuang mendapatkan anak, pasangan lain menyesali kehamilan yang tidak diinginkan. Mereka pada umumnya, tidak sadar bahwa kehamilan dapat mempengaruhi kesehatan bahkan dapat mengancam jiwa si calon ibu. Ternyata tidak semua kehamilan disambut dengan kegembiraan oleh orang tuanya. Beberapa justru tidak diinginkan, biasanya untuk mengatasi masalah kehamilan yang tidak diinginkan tersebut mereka menempuh jalan aborsi. Kejadian tersebut banyak terjadi di kalangan remaja.
Kehamilan yang tidak diinginkan adalah suatu kondisi dimana pasangan (laki-laki dan perempuan) tidak menginginkan terjadinya kelahiran sebagai akibat kehamilan. Terjadinya kehamilan di sini dapat diakibatkan oleh perilaku atau hubungan seksual yang disengaja maupun tidak disengaja seperti perkosaan. Banyak kejadian yang menunjukkan orang yang tidak bertanggung jawab atas kejadian ini. Kasus kehamilan yang tidak diinginkan tidak hanya berisiko kesehatan fisik dan psikis bagi remaja wanita, tapi kekalutan pun datang bertubi-tubi kepada jiwa mereka; takut ketahuan, tidak siap terima kenyataan menjadi ibu, serta tidak punya cukup uang untuk membiayai diri sendiri dan anaknya. Penyebab kehamilan yang dialami menjadi tidak diinginkan adalah:
1.   Usia menarche yang semakin dini dan usia menikah yang lama. Menurut Riskesdas 2010, 37,5 persen perempuan di Indonesia mengawali usia reproduksi (menarche) pada umur 13-14 tahun. Hal ini akan menyebabkan masa-masa rawan remaja semakin panjang
2.   Ketidaktahuan atau minimnya pengetahuan tentang perilaku seksual yang dapat menyebabkan kehamilan. Sebuah survei terhadap 8.084 remaja laki-laki dan remaja putri usia 15-24 tahun di 20 kabupaten pada empat provinsi (Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Lampung) menemukan 46,2 persen remaja masih menganggap bahwa perempuan tidak akan hamil hanya dengan sekali melakukan hubungan seks, kesalahan persepsi ini sebagian besar diyakini oleh remaja laki-laki (49,7 persen) dibandingkan pada remaja perempuan (42,3 persen).
3.   Tidak menggunakan alat kontrasepsi. Ada banyak penyebab remaja tidak menggunakan alat kontrasepsi, misalnya tidak adanya akses untuk mendapatkan layanan kontrasepsi dan kurangnya pengetahuan mengenai alat kontrasepsi.
4.   Kegagalan alat kontrasepsi akibat remaja menggunakan alat kontrasepsi tanpa disertai pengetahuan yang cukup tentang metode kontrasepsi yang benar.
5.   Kehamilan akibat pemerkosaan. 
            Kehamilan tidak diinginkan bagi pasangan yang belum menikah dan keluarganya merupakan sebuah aib terutama bagi masyarakat ber-peradaban timur seperti Indonesia. Bagi mereka ini adalah sebuah dilema, Di satu sisi jika kehamilan tersebut dipertahankan maka harus mau menanggung rasa malu dan tentunya harus ada yang bertanggung jawab terhadap calon bayi tersebut agar mempunyai ayah. Disamping itu juga harus mempertimbangkan pendidikan si calon ibu dan bagaimana dengan risiko yang akan dihadapi saat bersalin. Di sisi lain, jika digugurkan maka akan melanggar undang-undang serta norma dan ajaran agama. Kebanyakan mereka melakukan aborsi dengan bantuan tenaga dukun, kebanyakan disebabkan karena rasa malu dan pihak laki-laki tidak mau bertanggung jawab. 
Ketidaktahuan atau minimnya pengetahuan tentang perilaku seksual dapat juga menyebabkan kehamilan. Dan banyak mitos yang dipercaya oleh para remaja yang belum ada penjelasan medisnya.
a.       Satu kali sexual intercourse tidak akan hamil
b.      Sesudah sexual intercourse vagina dicuci dengan minuman berkarbonasi
c.       Loncat – loncat sesudah sexual intercourse agar tidak terjadi pembuahan
d.      Minum pil tuntas untuk menggugurkan kehamilan
e.       Tidak tahu apa itu sexual intercourse 
f.      Adanya keadaan sosial yang tidak memungkinkan (misal ; incest)
g.      Tidak menggunakan alat kontrasepsi selama melakukan hubungan seksual.
h.      Kegagalan alat kontrasepsi. 
       Kehamilan yang tidak direncanakan kadang-kadang merupakan suatu kejutan yang menyenangkan dan serta-merta diterima. Lebih sering akhirnya diterima setelah terlebih dahulu melalui kecemasan dan perasaan khawatir. Tetapi tidak jarang kehamilan yang tidak direncanakan juga tidak diinginkan dan permohonan untuk menghentikan kehamilan tersebut dengan jalan abortus adalah akibatnya. Di kebanyakan negeri, abortus hanya diizinkan apabila kelanjutan kehamilan membahayakan kesehatan ibu. Hal ini mencakup kesehatan mental, keadaan yang berbahaya, dan hal ini sekarang merupakan alasan yang paling lazim di Inggris. Secara umum wanita yang sungguh-sungguh menginginkan abortus merasa sangat lega setelah melakukannya. Tetapi mereka yang perasaannya sangat mendua –  para remaja dan beberapa istri yang dijajah serta mereka yang kesehatan fisiknya membahayakan – mungkin memberikan reaksi yang sangat buruk. Beban wanita yang hanya pura-pura meminta abortus akan menyita waktu baginya untuk menyelidiki perasaan-perasaannya dan kemudian mengambil keputusannya sendiri. 
       Tentu saja ada kemungkinan lain daripada melakukan  abortus, yaitu membiarkan bayi itu lahir tetapi kemudian membiarkannya diadopsi. Untuk mereka yang ingin menyembunyikan kenyataan bahwa mereka hamil dan tidak mampu melakukan kegiatan hidup yang normal, hal ini tidak perlu dipersoalkan. Juga banyak wanita takut bahwa jikalau mereka mempunyai anak mereka terlalu terikat pada bayi itu sehingga pada detik-detik terakhir menolak untuk mengizinkan bayi itu diadopsi. Mereka mungkin benar, karena untuk berpisah dengan bayi yang telah ia kandung selama sembilan bulan dan melahirkannya dengan susah adalah sangat memilukan, walaupun mungkin ia tidak dapat mengurus bayi tersebut setelah dilahirkan. Akan tetapi, untuk sebagian kecil wanita yang ingin janin yang dikandungnya menjadi seorang bayi dan tidak tega melakukan abortus namun melihat tidak ada harapan untuk membesarkannya sendiri, adopsi merupakan jawaban satu-satunya. 
       Jadi pada dasarnya kehamilan adalah suatu anugerah yang sangat diharapkan oleh setiap pasangan suami istri. Tetapi hal tersebut berubah jika kehamilan tersebut tidak sesuai yang diharapkan. Kehamilan yang seharusnya merupakan anugerah berubah menjadi musibah. Maka dari itu kita diharuskan mengetahui apa yang baik dan apa yang buruk. Kita juga harus berpikir bijaksana sebelum melakukan sesuatu. Agar semua itu menjadi kebahagiaan dan berkah, bukan menjadi musibah dan lebih menghargai rezeki yang telah diberikan oleh Allah SWT dengan seindah mungkin.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar