Perkataan Inggris philosophy yang
berarti filsafat berasal dari kata Yunani “philosophia” yang lazim
diterjemahkan sebagai cinta kearifan. Akar katanya ialah philos (philia,
cinta) dan sophia (kearifan). Menurut pengertiannya yang semula dari
zaman Yunani Kuno itu filsafat berarti cinta kearifan. Namun, cakupan
pengertian sophia yang semula itu ternyata luas sekali. Dahulu sophia
tidak hanya berarti kearifan saja, melainkan meliputi pula kebenaran pertama,
pengetahuan luas, kebajikan intelektual, pertimbangan sehat sampai kepandaian
pengrajin dan bahkan kecerdikkan dalam memutuskan soal-soal praktis (The Liang
Gie, 1999).
Banyak pengertian-pengertian atau
definisi-definisi tentang filsafat yang telah dikemukakan oleh para filsuf. Menurut Merriam-Webster (dalam Soeparmo, 1984), secara harafiah filsafat
berarti cinta kebijaksanaan. Maksud sebenarnya
adalah pengetahuan tentang kenyataan-kenyataan yang paling umum dan
kaidah-kaidah realitas serta hakekat manusia dalam segala aspek perilakunya
seperti: logika, etika, estetika dan teori pengetahuan.
Kalau menurut tradisi
filsafati dari zaman Yunani Kuno, orang yang pertama memakai istilah philosophia
dan philosophos ialah Pytagoras (592-497 S.M.), yakni seorang ahli
matematika yang kini lebih terkenal dengan dalilnya dalam geometri yang
menetapkan a2 + b2 = c2. Pytagoras menganggap
dirinya “philosophos” (pencinta kearifan). Baginya kearifan yang
sesungguhnya hanyalah dimiliki semata-mata oleh Tuhan. Selanjutnya, orang yang
oleh para penulis sejarah filsafat diakui sebagai Bapak Filsafat ialah Thales
(640-546 S.M.). Ia merupakan seorang Filsuf yang mendirikan aliran filsafat
alam semesta atau kosmos dalam perkataan Yunani. Menurut aliran filsafat
kosmos, filsafat adalah suatu penelaahan terhadap alam semesta untuk mengetahui
asal mulanya, unsur-unsurnya dan kaidah-kaidahnya (The Liang Gie, 1999).
Menurut sejarah
kelahiran istilahnya, filsafat terwujud sebagai sikap yang ditauladankan oleh
Socrates. Yaitu sikap seorang yang cinta kebijaksanaan yang mendorong pikiran
seseorang untuk terus menerus maju dan mencari kepuasan pikiran, tidak merasa
dirinya ahli, tidak menyerah kepada kemalasan, terus menerus mengembangkan
penalarannya untuk mendapatkan kebenaran (Soeparmo, 1984).
Timbulnya filsafat
karena manusia merasa kagum dan merasa heran. Pada tahap awalnya kekaguman atau
keheranan itu terarah pada gejala-gejala alam. Dalam perkembangan lebih lanjut,
karena persoalan manusia makin kompleks, maka tidak semuanya dapat dijawab oleh
filsafat secara memuaskan. Jawaban yang diperoleh menurut Koento Wibisono
dkk. (1997), dengan melakukan refleksi yaitu berpikir tentang pikirannya
sendiri. Dengan demikian, tidak semua persoalan itu harus persoalan filsafat.
B. Ilmu Pengetahuan Sebagai Sketsa Umum Pengantar Untuk Memahami
Ilmu Filsafat
Pengertian-pengertian tentang filsafat ilmu,
telah banyak dijumpai dalam berbagai buku maupun karangan ilmiah lainnya.
Menurut The Liang Gie (1999), filsafat ilmu adalah segenap pemikiran reflektif
terhadap persoalan-persoalan mengenai segala hal yang menyangkut landasan ilmu
maupun hubungan ilmu dengan segala segi dari kehidupan manusia. Filsafat ilmu
merupakan suatu bidang pengetahuan campuran yang eksistensi dan pemekarannya
bergantung pada hubungan timbal-balik dan
saling-pengaruh antara filsafat dan ilmu.
Sehubungan dengan pendapat tersebut serta
sebagaimana pula yang telah digambarkan pada bagian pendahuluan dari tulisan
ini bahwa filsafat ilmu merupakan
penerusan pengembangan filsafat pengetahuan. Objek dari filsafat ilmu adalah
ilmu pengetahuan. Oleh karena itu setiap saat ilmu itu berubah mengikuti
perkembangan zaman dan keadaan tanpa meninggalkan pengetahuan lama. Pengetahuan
lama tersebut akan menjadi pijakan untuk mencari pengetahuan baru. Hal ini
senada dengan ungkapan dari Archie J.Bahm (1980) bahwa ilmu pengetahuan (sebagai teori) adalah
sesuatu yang selalu berubah.
Dalam perkembangannya filsafat ilmu mengarahkan
pandangannya pada strategi pengembangan ilmu yang menyangkut etik dan
heuristik. Bahkan sampai pada dimensi kebudayaan untuk menangkap tidak saja
kegunaan atau kemanfaatan ilmu, tetapi juga arti maknanya bagi kehidupan
manusia (Koento Wibisono dkk., 1997).
Oleh karena itu, diperlukan perenungan kembali
secara mendasar tentang hakekat dari ilmu pengetahuan itu bahkan hingga
implikasinya ke bidang-bidang kajian lain seperti ilmu-ilmu kealaman. Dengan
demikian setiap perenungan yang mendasar, mau tidak mau mengantarkan kita untuk
masuk ke dalam kawasan filsafat. Menurut Koento Wibisono (1984), filsafat dari
sesuatu segi dapat didefinisikan sebagai ilmu yang berusaha untuk memahami
hakekat dari sesuatu “ada” yang dijadikan objek sasarannya, sehingga filsafat
ilmu pengetahuan yang merupakan salah satu cabang filsafat dengan sendirinya
merupakan ilmu yang berusaha untuk memahami apakah hakekat ilmu pengetahuan itu
sendiri.
Lebih lanjut Koento Wibisono (1984),
mengemukakan bahwa hakekat ilmu menyangkut masalah keyakinan ontologik,
yaitu suatu keyakinan yang harus dipilih oleh sang ilmuwan dalam menjawab
pertanyaan tentang apakah “ada” (being, sein, het zijn) itu. Inilah awal-mula
sehingga seseorang akan memilih pandangan yang idealistis-spiritualistis, materialistis,
agnostisistis dan lain sebagainya, yang implikasinya akan sangat menentukan
dalam pemilihan epistemologi, yaitu cara-cara, paradigma yang akan diambil
dalam upaya menuju sasaran yang hendak dijangkaunya, serta pemilihan aksiologi
yaitu nilai-nilai, ukuran-ukuran mana yang akan dipergunakan dalam seseorang
mengembangkan ilmu.
Dengan memahami hakekat ilmu itu, menurut
Poespoprodjo (dalam Koento Wibisono, 1984), dapatlah dipahami bahwa
perspektif-perspektif ilmu, kemungkinan-kemungkinan pengembangannya,
keterjalinannya antar ilmu, simplifikasi dan artifisialitas ilmu dan lain
sebagainya, yang vital bagi penggarapan ilmu itu sendiri. Lebih dari itu,
dikatakan bahwa dengan filsafat ilmu, kita akan didorong untuk memahami
kekuatan serta keterbatasan metodenya, prasuposisi ilmunya, logika validasinya,
struktur pemikiran ilmiah dalam konteks dengan realitas in conreto sedemikian
rupa sehingga seorang ilmuwan dapat terhindar dari kecongkakan serta kerabunan
intelektualnya.
Lebih lanjut, memahami
filsafat ilmu untuk mengembangkan diri sebagai ilmuwan maupun sebagai pendidik yang dalam melakukan penelitian dapat
menggunakan berbagai alternatif metodologi
penelitian sesuai dengan konsentrasi
bidang studinya. Mampu menerapkan filsafat ilmu sebagai dasar
pemikiran, perencanaan dan pengembangan
keilmuan-pendidikan yang menghayati
nilai-nilai ajaran agama dan nilai-nilai luhur budaya.
C. Fenomenologi Pengetahuan dan Ilmu Pengetahuan
C. Fenomenologi Pengetahuan dan Ilmu Pengetahuan
Fenomenologi
adalah ilmu (logos) pengetahuan tentang apa yang tampak (phainomenon).
Fenomenologi bisa dikatakan sebagai ilmu yang mempelajari yang tampak atau apa
yang menampakkan diri atau fenomenon. Edmun Husserl (1859-1938) adalah pendiri
aliran fenomenologi, ia telah mempengaruhi pemikiran filsafat abad ke 20. Bagi
Husserl fenomena ialah realitas sendiri yang tampak, tidak ada selubung atau
tirai yang memisahkan subjek dengan realitas, realitas itu sendiri yang tampak
bagi subjek. Dengan keterangan ini mulai tampaklah tendensi yang terdalam dari
aliran fenomenologi yang sebenarnya merupakan jiwa dan cita-cita dari semua
filsafat, yaitu mendapatkan pengertian yang benar, yang menangkap realitas itu
sendiri. Dengan pandangan tentang fenomena ini Husserl mengadakan semacam
revolusi dalam filsafat barat. Sejak Descartes, kesadaran selalu dimengerti
sebagai kesadaran tertutup atau cogito tertutup, artinya kesadaran mengenal
diri sendiri dan hanya melalui jalan itu mengenal realitas. Sebaliknya Husserl
berpendapat bahwa kesadaran terarah pada realitas, “kesadaran bersifat
intensional” sebetulnya sama artinya dengan mengatakan realitas menampakkan
diri.
Objek
fenomenologi adalah fakta atau gejala, atau keadaan, kejadian, atau benda, atau
realitas yang sedang menggejala. Pendekatan secara fenomenologi boleh dikatakan
menolak teori. Hal ini disebabkan karena pendekatan ini lebih menekankan
rasionalisme dan realitas budaya yang ada dan bisa dikatakan sejalan dengan
penelitian etnografi yang menitikberatkan pandangan warga setempat, dimana
realitas dipandang lebih penting dan dominan dibanding teori-teori. Fenomenologi
mencoba menepis semua asumsi yang mengkontaminasi pengalaman konkret manusia.
Fenomenologi menekankan upaya menggapai “hal itu sendiri” lepas dari segala
presuposisi dan karena itulah disebut sebagai cara berfilsafat yang radikal.
Secara
umum dapat dikatakan bahwa fenomenologi adalah cara dan bentuk berpikir, atau
apa yang disebut dengan “the styie of thingking”. Biasanya dikatakan bahwa
dasar pikiran itu ialah intensionalisme. Menurut Edmund Husserl sebagai salah
satu tokoh filsafat fenomenologi bahwa, intention, kesengajaan mengarahkan
kesadaran dan reduksi. Dalam perkembangannya, fenomenologi memang ada beberapa
macam, antara lain yaitu
(a) fenomenologi Edidetik dalam linguistik,
(b) fenomenologi Ingarden dalam sastra, artinya pengertian murni ditentukan melalui penentuan gejala utama, penandaan dan pemilahan, penyaringan untuk menentukan keberadaan, penggambaran gejala (refleksi),
(c) fenomenologi transcendental. Bagi fenomenologi transendental, keberadaan realitas sebagai “objek” secara tegas ditekankan. Kesadaran aktif dalam menangkap dan merekonstruksi kesadaran terhadap suatu gejala amat penting.
(d) fenomenologi eksistnsial. Bagi fenomenologi eksitensial, penentuan pengertian dari gejala budaya semata-mata tergantung individu. Refleksi individual menjadi “guru” bagi individu itu sendiri dalam rangka menemukan kebenaran.
(a) fenomenologi Edidetik dalam linguistik,
(b) fenomenologi Ingarden dalam sastra, artinya pengertian murni ditentukan melalui penentuan gejala utama, penandaan dan pemilahan, penyaringan untuk menentukan keberadaan, penggambaran gejala (refleksi),
(c) fenomenologi transcendental. Bagi fenomenologi transendental, keberadaan realitas sebagai “objek” secara tegas ditekankan. Kesadaran aktif dalam menangkap dan merekonstruksi kesadaran terhadap suatu gejala amat penting.
(d) fenomenologi eksistnsial. Bagi fenomenologi eksitensial, penentuan pengertian dari gejala budaya semata-mata tergantung individu. Refleksi individual menjadi “guru” bagi individu itu sendiri dalam rangka menemukan kebenaran.
D.
Filsafat Pengetahuan dan Ilmu Pengetahuan
Filsafat adalah studi tentang
seluruh fenomena kehidupan dan pemikiran manusia secara kritis dan dijabarkan
dalam konsep mendasar. Filsafat tidak didalami dengan melakukan
eksperimen-eksperimen dan percobaan-percobaan, tetapi dengan mengutarakan
masalah secara persis, mencari solusi untuk itu, memberikan argumentasi dan
alasan yang tepat untuk solusi tertentu. Akhir dari proses-proses itu
dimasukkan ke dalam sebuah proses dialektika. Untuk studi falsafi, mutlak
diperlukan logika berpikir dan logika bahasa.
Pengetahuan adalah informasi atau
maklumat yang diketahui atau disadari oleh seseorang. Pengetahuan termasuk,
tetapi tidak dibatasi pada deskripsi, hipotesis, konsep, teori, prinsip
danprosedur yang secara Probabilitas Bayesian adalah benar atau berguna.
Dalam pengertian lain, pengetahuan adalah berbagai gejala yang ditemui dan diperoleh manusia melalui pengamatan akal. Pengetahuan muncul ketika seseorang menggunakan akal budinya untuk mengenali benda atau kejadian tertentu yang belum pernah dilihat atau dirasakan sebelumnya. Misalnya ketika seseorang mencicipi masakan yang baru dikenalnya, ia akan mendapatkan pengetahuan tentang bentuk, rasa, dan aroma masakan tersebut.
Dalam pengertian lain, pengetahuan adalah berbagai gejala yang ditemui dan diperoleh manusia melalui pengamatan akal. Pengetahuan muncul ketika seseorang menggunakan akal budinya untuk mengenali benda atau kejadian tertentu yang belum pernah dilihat atau dirasakan sebelumnya. Misalnya ketika seseorang mencicipi masakan yang baru dikenalnya, ia akan mendapatkan pengetahuan tentang bentuk, rasa, dan aroma masakan tersebut.
Pengetahuan adalah informasi yang
telah dikombinasikan dengan pemahaman dan potensi untuk menindaki; yang lantas
melekat di benak seseorang. Pada umumnya, pengetahuan memiliki kemampuan
prediktif terhadap sesuatu sebagai hasil pengenalan atas suatu pola. Manakala
informasi dan data sekedar berkemampuan untuk menginformasikan atau bahkan
menimbulkan kebingungan, maka pengetahuan berkemampuan untuk mengarahkan
tindakan. Ini lah yang disebut potensi untuk menindaki.
Ilmu atau ilmu pengetahuan adalah
seluruh usaha sadar untuk menyelidiki, menemukan, dan meningkatkan pemahaman
manusia dari berbagai segi kenyataan dalam alam manusia. Segi-segi ini dibatasi
agar dihasilkan rumusan-rumusan yang pasti. Ilmu memberikan kepastian dengan
membatasi lingkup pandangannya, dan kepastian ilmu-ilmu diperoleh dari
keterbatasannya.
Ilmu bukan sekadar pengetahuan
(knowledge), tetapi merangkum sekumpulan pengetahuan berdasarkan teori-teori
yang disepakati dan dapat secara sistematik diuji dengan seperangkat metode
yang diakui dalam bidang ilmu tertentu. Dipandang dari sudut filsafat, ilmu
terbentuk karena manusia berusaha berfikir lebih jauh mengenai pengetahuan yang
dimilikinya. Ilmu pengetahuan adalah produk dari epistemologi.
Ilmu Alam hanya bisa menjadi pasti
setelah lapangannya dibatasi ke dalam hal yang bahani (material saja), atau
ilmu psikologi hanya bisa meramalkan perilaku manusia jika lingkup pandangannya
dibatasi ke dalam segi umum dari perilaku manusia yang konkret. Berkenaan dengan
contoh ini, ilmu-ilmu alam menjawab pertanyaan tentang berapa jarak matahari
dan bumi, atau ilmu psikologi menjawab apakah seorang pemudi cocok menjadi
perawat.
E.
Fokus Filsafat Ilmu
Pengetahuan
Ilmu pengetahuan
merupakan karya budi yang logis dan imajinatif. Tanpa imajinasi dan logika dari
seorang kopernikus, suatu gagasan besar tentang heliosentrisme tidak akan
muncul. Begiti juga halnya jika kita berbicara tentang ilmuan-ilmuan lain.
Metode-metode ilmu pengetahuan adalah metode-metode yang logis karena ilmu
pengetahuan mempraktekan logika. Namun selain logika temuan-temuan dalam ilmu
pengetahuan dimungkinkan oleh akan budi manusia yang terbuka pada realitis.
Keterbukaan budi manusia pada realitas itu kita sebut imajinasi. Maka logika
dan imajinasi merupakan dua dimensi penting dari seluruh cara kerja ilmu
pengetahuan.
Tak pernah ada
imajinasi tanpa logika dalam ilmu pengetahuan. Keduannya akan berjalan
bersamaan. Namun pendekatan pertama tidaklah cukup. Ilmu pengetahuan telah
berkembang sebagai bagian dari hidup kita sebagai manusia dalam masyarakat.
Dengan alasan itu, filsafat ilmu pengetahuan pelu mengarahkan diri selain
kepada pembicaraan tentang masalah metode ilmu pengetahuan juga harus berbicara
tentang hubungan antara ilmu pengetahuan dan masyarakat. Implikasi sosial dan
etis dari ilmu pengetahuan akan dibicarakan dalam konteks ini. Topik yang
dibicarakan disini antara lain adalah hubungan antara ilmu pengetahuan dengan life-world,
antara ilmu pengetahuan dan politik, bagaimana harus membangun ilmu pengetahuan
dalam masyarakat.
\
F. Manfaat Belajar Filsafat Ilmu Pengetahuan
Dengan
mempelajari filsafat pengetahuan dan ilmu pengetahuan, khususnya cara kerja
ilmu pengetahuan. Seseorang akan memperoleh manfaat yang besar sekali bagi
kerjanya kelak di kemudian hari sebagai polisi, ahli hukum, wartawan, teknisi,
ataupun sebagai manajer karena pekerjaan-pekerjaan ini - dan semua pekerjaan
lainnya – pada dasarnya berkaitan dengan upaya memecahkan masalah tertentu.
Dalam hal ini, ilmu pengetahuan dibutukan demi memecahkan berbagai persoalan
yang berkaitan dengan perkejaan masing-masing orang secara lebih rasional,
tuntas, dan memuaskan. Yang dibutuhkan dari seseorang yang profesional dalam
bidang perkejaannya adalah, pertama-tama, kemampuan untuk melihat masalah:
dimana masalahnya, seberapa besar masalahnya, apa dampaknya, dan bagaimana
mengatasinya. Ini sangat dibutuhkan dalam bidang pekerjaannya. Sesungguhnya,
inilah yang dipelajari dalam kaitan dengan filsafat ilmu pengetahuan. Yang
terutama di pelajari dalam masing-masing ilmu adalah kemampuan teknis dalam
masing-masing ilmu untuk memecahkan persoalan dari sudut ilmu masing-masing,
sedangkan filsafat ilmu pengetahuan lebih melatih mahasiswa untuk mampu melihat
masalah, mampu melihat sebabnya, apa akibatnya, dan apa solusinya.
Ilmu
pengetahuan tidak hanya bersifat puritan-elitis, melainkan juga pragmatis.
Dalam pengertian, ilmu pengetahuan tidak hanya berhenti sekedar memuaskan rasa
ingin tahu manusia. Melainkan juga bermaksud membantu manusia untuk memecahkan
berbagai persoalan yang dihadapi manusia dalam hidupnya. Salah satu persoalan
aktual yang dihadapi kita dalam konteks Indonesia sekarang ini adalah problem
modernisasi. Problem modernisasi adalah bagaimana memecahkan masalah
kemiskinan, kebodohan, keterbelakangan, maupun penyakit dengan menggunakan ilmu
pengetahuan dan teknologi. Ternyata, ilmu pengetahuan dan teknologi, terlepas
dari akibat negatifnya yang pernah dialami manusia, sekurang-kurangnya hingga
sekarang membantu mengurangi penderitaan manusia dan meningkatkan
kesejahteraannya, melalui apa yang kita kenal sebagai proses modernisasi.
G.
Ruang Lingkup dan
Kedudukan Filsafat
Ruang lingkup dalam bidang filsafat
mencakup dua pokok bahasan yaitu, sifat ilmu pengetahuan dan cara-cara
mengusahakan pengetahuna ilmiah. Bidang pertama berkaitan dengan filsafat
pengetahuan atau epistemologi yang secara umum menyelidiki syarat serta bentuk
pengetahuan manusia. Bidang kedua berkaitan dengan logika dan metodologi, pada
bidang ini filsafat sering disamakan pengertiannya dengan metodologi.
Filsafat ilmu dikolompokan menjadi
dua, yaitu :
1. Filsafat ilmu umum
Kelompok ini mencakup kajian tentang
persoalan kesatuan, keseragaman, serta hubungan diantara segenap ilmu.
2. Filsafat ilmu
khusus
Kelompok ini
membahas tentang kategori serta metode yang digunakan pada ilmu tertentu.
Filsafat ilmu
dapat pula dikelompokan berdasarkan model pendekatan, yaitu :
1.
Filsafat ilmu
terapan
Yaitu filsafat
ilmu yang mengkaji pokok pikiran yang melatarbelakangi pengetahuan normatif
ilmu. Filsafat ilmu terapan bertitik tolak dari ilmu bukan dari filsafat.
Filsafat ilmu terapan sebagai pengetahuan normatif mencakup Pengetahuna yang
berpola hakekat keilmuan, pengetahuan model praktik ilmiah dari pola pikir,
pengetahuan dari berbagai sarana ilmu, dan serangkaian nilai yang bersifat
etis.
2.
Filsafat ilmu
murni
Yaitu bentuk
kajian filsafat yang menelaah secara kritis dan eksploratif terhadap
materi kefilsafatan dan membuka kemungkinan berkembangnya ilmu baru. Filsafat
ilmu murni berasal dari kajian filosofis asumsi dasar yang berlaku pada ilmu.
H.
Sejarah Perkembangan Ilmu
1.Zaman
Pra Yunani Kuno (Zaman Purba)
Pada era ini, secara umum
terbagi menjadi tiga fase, yaitu:
a.Zaman
Batu Tua
Zaman batu tua disebut juga
masa prasejarah.[8] Era ini berlangsung sekitar empat juta tahun SM (sebelum Masehi)
sampai 20.000 atau 10.000 tahun SM.[9] Pada zaman ini telah mempunyai
beberapa ciri khas, di antaranya adalah menggunakan alat-alat sederhana yang
dibuat dari batu dan tulang, mengenal cocok taman dan beternak, dan dalam
kehidupan sehari-hari didasari dengan pengamatan primitif menggunakan sistem
trial and error (mencoba-coba dan salah) kemudian bisa berkembang
menjadi know how.[10] Pada zaman batu tua, yang menjadi tokoh utama
disebut-sebut dengan manusia purba. Belum ditemukan secara spesifik data diri
mereka, tetapi yang terlihat secara jelas adalah hasil karya mereka.
Karya-karya mereka yang fenomenal adalah peralatan yang terbuat dari batu dan
tulang.
b.Zaman
Batu Muda
Era ini berlangsung tahun
10.000 SM sampai 2.000 SM atau abad 100 sampai 20 SM. Di zaman ini telah
berkembang kemampuan-kemampuan yang sangat signifikan. Kemampuan itu berupa
tulisan (dengan gambar dan symbol), kemampuan membaca (bermula dari bunyi atau
suku kata tertentu), dan kemampuan menghitung. Dalam zaman ini juga berkembang
masalah perbintangan, matematika, dan hukum. Pada zaman batu muda sudah ada
kerajaan-kerajaan besar yang ikut andil dalam mengukir sejarah. Kerajaan itu
adalah Mesir, Babylon, Sumeria, Niniveh, India , dan Cina. Karya-karya yang
didapat dari zaman ini berupa batu Rosetta (Hieroglip), segitiga dengan
unit 3, 4, 5 (segitiga siku-siku), nilai logam sebagai nilai tukar, perundangan
yang ditulis, lukisan di dinding gua, tulisan Kanji (Pistographic Writing),
dan zodiac.[11]
c.Zaman
Logam.
Zaman ini berlangsung dari
abad 20 SM sampai abad 6 SM. Pada zaman ini pemakaian logam sebagai peralatan
sehari-hari, bahkan sebagai perhiasan, peralatan masak, atau bahkan peralatan
perang. Pada zaman Logam didominasi oleh kerajaan Mesir. Tetapi kerajaan Cina
dan Sumeria juga masih mempunyai peran. Pada masa ini karya-karya yang ada
berupa didominasi dengan alat-alat yang terbuat dari besi dan perunggu. Seni
membuat patung juga menjadi karya fenomenal pada masanya, bahkan sampai saat
ini. Contohnya adalah karya-karya dari Mesir, seperti patung istri raja Fir’aun
(Neferitti).[12]
Menurut
Soetriono dan SDRm Rita Hanafie, masa sejarah dimulai kurang lebih 15.000
sampai 600 tahun Sebelum Masehi. Pada masa ini pengetahuan manusia berkembang
lebih maju. Mereka telah mengenal membaca, menulis, dan berhitung. Kebudayaan
mereka pun mulai berkembang di berbagai tempat tertentu, yaitu Mesir di Afrika,
Sumeria, Babilonia, Niniveh, dan Tiongkok di Asia, Maya dan Inca di Amerika
Tengah. Mereka sudah bisa menghitung dan mengenal angka.[13]
2.Zaman
Yunani Kuno
Menurut Bertrand Russel, diantara
semua sejarah, tak ada yang begitu mencengangkan atau begitu sulit diterangkan
selain lahirnya peradaban di Yunani secara mendadak. Memang banyak unsur
peradaban yang telah ada ribuan tahun di Mesir dan Mesopotamia. Namun
unsur-unsur tertentu belum utuh sampai kemudian
bangsa Yunanilah yang menyempurnakannya.[14] Zaman
ini berlangsung dari abad 6 SM sampai dengan sekitar abad 6 M. Zaman ini
menggunakan sikap an inquiring attitude (suatu sikap yang senang
menyelidiki sesuatu secara kritis), dan tidak menerima pengalaman yang
didasarkan pada sikap receptive attitude (sikap menerima segitu saja).
Sehingga pada zaman ini filsafat tumbuh dengan subur. Yunani mencapai puncak
kejayaannya atau zaman keemasannya.[15]
Pada zaman ini banyak
bermunculan ilmuwan terkemuka. Ada beberapa nama yang popular pada masa ini, yaitu :
a.Thales
(624-545 SM) dari Miletus.
Kurang lebih enam ratus tahun sebelum Yesus
terlahir, muncullah sosok pertama dari tridente
Miletus yaitu Thales yang menggebrak cara berfikir
mitologis masyarakat Yunani dalam menjelaskan segala sesuatu. Sebagai
Saudagar-Filosof, Thales amat gemar melakukan muhibah. Ia bahkan pernah
melakukan lawatan ke Mesir. Thales adalah
filsuf pertama sebelum masa
Socrates. Menurutnya zat utama yang menjadi dasar segala materi adalah air. Pada masanya, ia
menjadi filsuf yang mempertanyakan isi dasar alam.[16]
b.Pythagoras
(580 SM–500 SM)
Pythagoras
lahir di Samos (daerah Ioni), tetapi kemudian berada di Kroton (Italia
Selatan).[17] Ia adalah seorang matematikawan
dan filsufYunani
yang paling dikenal melalui teoremanya.
Dikenal sebagai “Bapak Bilangan”, dan salah satu peninggalan Phytagoras yang
terkenal adalah teorema Pythagoras,
yang menyatakan bahwa kuadrat hipotenusa
dari suatu segitiga siku-siku
adalah sama dengan jumlah kuadrat dari kaki-kakinya (sisi-sisi siku-sikunya).
Walaupun fakta di dalam teorema
ini telah banyak diketahui sebelum lahirnya Pythagoras, namun teorema ini
dikreditkan kepada Pythagoras karena ia yang pertama kali membuktikan
pengamatan ini secara matematis. Selain itu, Pythagoras berhasil membuat
lembaga pendidikan yang disebut Pythagoras Society. Selain itu, dalam
ilmu ukur dan aritmatika ia berhasil menyumbang teori tentang bilangan,
pembentukan benda, dan menemukan hubungan antara nada dengan panjang dawai.
c.Socrates
(469 SM-399 SM)
Socrates lahir di Athena,
dan merupakan generasi pertama dari tiga ahli filsafat besar dari Yunani, yaitu
Socrates, Plato dan Aristoteles. Socrates adalah yang mengajar Plato, dan Plato
pada gilirannya juga mengajar Aristoteles. sumbangsih Socrates yang terpenting
bagi pemikiran Barat adalah metode penyelidikannya, yang dikenal sebagai metode
elenchos,
yang banyak diterapkan untuk menguji konsep moral yang pokok. Karena itu,
Socrates dikenal sebagai bapak dan sumber etika atau filsafat moral, dan juga
filsafat secara umum.[18]
d.Plato
(427 SM-347 SM)
Ia
adalah murid Socrates
dan guru dari Aristoteles.
Karyanya yang paling terkenal ialah Republik (Politeia)
di mana ia menguraikan garis besar pandangannya pada keadaan “ideal”. Selain
itu, ia juga menulis ‘Hukum’ dan banyak dialog di mana Socrates
adalah peserta utama. Sumbangsih Plato yang terpenting tentu saja adalah
ilmunya mengenai ide.
Dunia fana ini tiada lain hanyalah refleksi atau bayangan daripada dunia ideal.
Di dunia ideal semuanya sangat sempurna.
e.Aristoteles
(384 SM- 322 SM)
Aristoteles
adalah seorang filsufYunani,
murid dari Plato
dan guru dari Alexander yang Agung.
Ia memberikan kontribusi di bidang Metafisika, Fisika, Etika, Politik, Ilmu
Kedokteran, dan Ilmu Alam. Di bidang ilmu
alam, ia merupakan orang pertama yang
mengumpulkan dan mengklasifikasikan spesies-spesies
biologi secara sistematis. Sementara itu, di bidang politik,
Aristoteles percaya bahwa bentuk politik yang ideal adalah gabungan dari bentuk
demokrasi dan monarki. Dari kontribusinya, yang paling penting adalah masalah
logika dan Teologi (Metefisika). Logika
Aristoteles adalah suatu sistem berpikir deduktif (deductive
reasoning), yang bahkan sampai saat ini masih dianggap sebagai dasar dari
setiap pelajaran tentang logika formal. Meskipun demikian, dalam penelitian
ilmiahnya ia menyadari pula pentingnya observasi, eksperimen dan berpikir induktif (inductive
thinking). Logika yang digunakan untuk menjelaskan cara menarik kesimpulan
yang dikemukakan oleh Aristoteles didasarkan pada susunan pikir (syllogisme).
Selain
nama-nama diatas, masih ada filosof-filosof sepertiAnaximander (610 SM-546 SM)
dengan diktum falsafinya bahwa permulaan yang pertama, tidaklah bisa ditentukan
(Apeiron), karena tidaklah memiliki sifat-sifat zat yang ada sekarang. Anaximenes
yang hidup pada abad ke 6 SM., masih satu generasi dengan Anaximander, ia
berpendapat bahwa zat yang awal ada adalah udara.
Ia menganggap bahwa semuanya di alam
semesta dirasuki dengan udara. Demokreitos (460-370
SM), ia mengembangkan teori mengenai atom
sebagai dasar materi,
sehingga ia dikenal sebagai “Bapak Atom Pertama”. Empedokles (484-424 SM)
adalah seorang filsufYunani
berpendapat bahwa materi
terdiri atas empat unsur dasar yang ia sebut sebagai akar, yaitu air, tanah, udara,
dan api.
Selain itu, ia menambahkan satu unsur lagi yang ia sebut cinta (philia).
Hal ini dilakukannya untuk menerangkan adanya keterikatan dari satu unsur ke
unsur lainnya. Empedokles juga dikenal sebagai peletak dasar ilmu-ilmu fisika
dan biologi pada abad 4 dan 3 SM. Dan juga Archimedes, (sekitar 287
SM-212
SM) ia adalah seorang ahli matematika, astronom, filsuf, fisikawan,
dan insinyur
berbangsa Yunani. Archimedes,
dianggap sebagai salah satu matematikawan terbesar sepanjang masa, hal ini
didasarkan pada temuannya berupa prinsip matematis tuas, sistem katrol (yang
didemonstrasikannya dengan menarik sebuah kapal sendirian saja), dan ulir
penak, yaitu rancangan model planetarium yang dapat menunjukkan gerak matahari,
bulan, planet-planet, dan kemungkinan konstelasi di langit. Di bidang
matematika, penemuannya terhadap nilai p (phi) lebih mendekati dari
ilmuan sebelumnya. Dari karya-karyanya yang bersifat eksperimental, ia kemudian
dijuluki sebagai, “Bapak IPA Eksperimental”.[19]
3.Zaman
Pertengahan
Zaman ini masih berhubungan
dengan zaman sebelumnya. Karena awal mula zaman ini pada abad 6 M sampai
sekitar abad 14 M. Zaman ini disebut dengan zaman kegelapan (The Dark Ages).
Zaman ini ditandai dengan tampilnya pada Theolog di lapangan ilmu pengetahuan.
Sehingga para ilmuwan yang ada pada zaman ini hampir semua adalah para Theolog.
Begitu pula dengan aktifitas keilmuan yang mereka lakukan harus berdasar atau
mendukung kepada agama. Ataupun dengan kata lain aktivitas ilmiah terkait erat
dengan aktivitas keagamaan. Pada zaman ini filsafat sering dikenal dengan
sebagai Anchilla Theologiae (Pengabdi Agama).[20] Selain itu, yang menjadi
ciri khas pada masa ini adalah dipakainya karya-karya Aristoteles dan Kitab
Suci sebagai pegangan.
Ketika Bangsa Eropa
mangalami masa kegelapan, kebangkitan justru menjadi milik Islam. Hal ini
dimulai dari munculnya Nabi Muhammad SAW pada abad ke-6 M, perluasan wilayah,
pembinaan hukum serta penerjemahan filsafat Yunani, dan kemajuan ilmu
pengetahuan Islam pada abad ke-7 M sampai abad ke-12 M. Pada masa ini Islam
mandapatkan masa keemasannya (Golden Age).
Selain itu, pada abad ini
terjadi perkembangan kebudayaan di Asia Selatan dan Timur, seperti Ajaran Lao
Tse (menjaga keharmonisan dengan alam) dan Confucius (konsep kode
etik luhur mangatur akal sehat). Pada masa kegelapan ini ilmu pengetahuan di
Eropa tidak berkembang. Karya ilmuwan yang masih menjadi pegangan hanya karya
Aristoteles. Pada abad 12 M, yang diklaim sebagai awal mula zaman Renaissance
telah muncul beberapa nama yang mempelopori di bidang ilmu dan eksperimen,
yaitu:
a)Roger
Bacon (1214 M
- 1294
M), juga dikenal dengan sebutan Doctor Mirabilis (guru yang sangat
mengagumkan). Ia adalah seorang filsuf Inggris
yang meletakkan penekanan pada empirisme,
dan dikenal sebagai salah seorang pendukung awal metode
ilmiah modern di dunia Barat. Teorinya menyatakan
bahwa apa yang menjadi landasan awal dan ujian akhir dari semua ilmu
pengetahuan adalah pengalaman, dan syarat mutlak untuk mengolah pengetahuan
adalah dengan matematika. Sehingga ia dikenal sebagai pelopor empirisme
b)Thomas
Aquinas(1225 M
-1274 M)
adalah seorang filsuf
dan ahli teologi ternama dari Italia.
Ia terutama menjadi terkenal karena dapat membuat sintesis dari filsafat Aristoteles
dan ajaran GerejaKristen.
Sintesisnya ini termuat dalam karya utamanya: Summa
Theologiae (Ikhtisar
Teologi). Selain itu, karya Theologis Thomas yang sangat terkenal adalah “Summa
Contra Gentiles (Ikhtisar
Melawan Orang-Orang Kafir)”
c)Gerard
van Cremona (1114 M -1187
M), adalah seorang penerjemah Arab
karya ilmiah. Dia adalah salah satu orang paling penting di Toledo. Ia
menerjemahkan sekitar 70 bahasa Arab dan karya-karya klasik Yunani ke dalam bahasa
Latin termasuk karya Euclidius,Al-Farabi,Al-Farghani
dan karya-karya lain.
d)Giovanni
Boccaccio (1313 M - 1375 M) adalah seorang Italia
penulis dan penyair. Karya yang dihasilkan dalam periode ini meliputi Filostrato
dan Teseida, Filocolo,
sebuah versi prosa yang ada roman Prancis, dan La Caccia di Diana,
sebuah puisi dalam daftar sajak oktaf neapolitan perempuan. Boccaccio terus
bekerja, memproduksi Comedia delle ninfe fiorentine (juga dikenal
sebagai Ameto) campuran prosa dan puisi, tahun 1341, menyelesaikan lima
puluh canto
puisi alegoris Amorosa visione di 1342 M, dan Fiammetta di 1343
M. Salah satu karya terakhirnya di Italia,
satu-satunya karya penting lainnya adalah Corbacci.[21]
Sepanjang Eropa mengalami
masa kegelapan, di sebelah selatan Laut Tengah berkembang kerajaan bangsa Arab
yang dipengaruhi dengan Islam. Dengan berkembangnya pengaruh Islam, maka
semakin banyak pula tokoh-tokoh ilmuwan Islam yang berperan dalam perkembangan
Ilmu. Dengan berkembanganya pengaruh islam, maka semakin banyak pula
tokoh-tokoh ilmuwan yang berperan dalam perkembangan ilmu. Mereka adalah
sebagai berikut :
a.Al-Kindi
(801 M-873 M), bisa dikatakan merupakan filsuf pertama yang lahir dari kalangan
islam. Al-kindi menuliskan banyak karya dalam bidabg goemetri, astronomi,
aritmatika, musik (yang dibangunya dari berbagai prinsip aritmatis), fisika,
medis, psikologi, meteorology, dan politik.
b.Al-Farābi
(870 M-950 M) adalah seorang komentator filsafat Yunani yang sangat ulung di
dunia islam. Kontribusinya terletak di berbagai bidang matematika, filosofi,
pengobatan, bahkan musik. Al-farabi telah membuat berbagai buku tentang
sosiologi dan sebuah buku penting dalam bidang musik, kitab al-Musiqa.
Selain itu, karyanya yang paling terkenal adalah al-Madīnah al-Fadhīlah
(kota atau Negara utama) yang membahas tentang pencapaian kebahagian melalui
kehidupan politik dan hubungan antara razim yang paling baik menurut pemahaman
dengan hukum Ilāhian Islam.
c.Al-Khawārizmi
(780 M-850 M), hasil pemikiran berdampak besar pada matematika, yang terangkum
dalam buku pertamanyanya, al-Jabar, selain itu karyanya adalah al-Kitāb
al-Mukhtasar fi Hisab Al-jabr Wa’al-Muqalaba (buku rangkuman untuk
kulturasi dengan melengkapkan dan menyeimbangkan), kitab suratal-Ardh
(Pemandanganan Bumi). Karyanya tersebut sampai sekarang masih tersimpan di
Strassberg, Jerman.
d.Ibnu
Sina (980 M-1037 M) di kenal sebagai Avicenna di dunia barat. Ia adalah seorang
filsuf, ilmuwan, dan juga dokter. Bagi banyak orang beliau adalah bapak
pengobatan modern dan masih banyak lagi sebutan baginya yang berkaitan
dengan karya-karyanya di bidang kedokteran. Karyanya merupakan rujukan di
bidang kedokteran selama berabad-abad.
e.Al-Ghazāli
(1058 M-111 M) adalah seorang filsuf dan theolog muslim Persia, yang dikenal
sebagai Algazel di dunia Barat. Karya beliau berupa kitab-kitab, antara lain
kitab al-Munqidih min Adh-Dalāl, al-Risālah al-Quadsiyyah, dan Mizan al-Amāl.
f.Ibnu
Rusyd (1226 M – 1198 M), yang bahasa latin di sebut dengan Averroes, dan dia
adalah filsuf dari spanyol (Andalusia). Karya-karya Ibnu Rusyd meliputi bidang
filsafat, kedokteran dan fiqih dalam bentuk karangan, ulasan, essai, dan resume.
Menurut Betrand Russell, Ibn Rushd lebih terkenal dalam filsafat Kristen
daripada filsafat Islam. Dalam filsafat Islam dia sudah berakhir, dalam
filsafat Kristen dia baru lahir. Pengaruhnya di Eropa sangat besar, bukan hanya
terhadap para skolastik, tetapi juga pada sebagian besar pemikir-pemikir bebas
non-profesional, yang menentang keabadian dan disebut Averroists. Di Kalangan
filosof profesional, para pengagumnya pertama-tama adalah dari kalangan
Franciscan dan di Universitas Paris. Rasionalisme Ibn Rushd inilah yang
mengilhami orang Barat pada abad pertengahan dan mulai membangun kembali
peradaban mereka yang sudah terpuruk berabad-abad lamanya yang terwujud dengan
lahirnya zaman pencerahan atau renaisans.[22]
g.Ibnu
Khaldun (1332 M-1406 M), adalah seorang sejarawan muslim dari Tunisia dan
sering disebut sebagai bapak pendiri ilmu historiografi, sosiologi dan ekunomi.
Karyanya yang terkenal adalah Muqaddimah (pendahuluan).
h.Jabir
Ibnu Hayyan atau Gebert (721 M-815 M), dia adalah seorang tokoh Islam yang
mempelajari dan mengembangkan ilmu kimia.
i.Al-Razi
(856 M-925 M), yang dikenal dengan nama Razes. Seorang dokter klinis ynag
terbesar pada masa itu dan pernah mengadakan suatu penelitian al-Kimi
atau lebih dikenal dengan sebutan ilmu kimia. Beliau mengarang Ensiklopedia
ilmu kedokteran yang berjudul Contenens.
j.Ibnu
Haitam dikenal dalam kalangan cerdik pandai di barat, dengan nama Alhazen, Dia
adalah seorang ilmuwan islam yang ahli dalam bidang sains, falak, matematika,
geometri, pengobatan, dan filsafat. Ia banyak pula melakukan penyelidikan
mengenai cahaya dan telah memberiakn ilham kepada ahli sains barat seperti
Boger, Bacon, dan Kepler dalam menciptakan mikroskop dan teleskop.
k.Al–Battāni
(850 M-929 M), memberikan kontribusi untuk astronomi dan matematika. Dalam
astronomi, al–Battāni juga meningkatkan ketepatan pengukuran presesi sumbu
bumi.[23]
Selain dari daftar nama
ilmuwan di atas, masih banyak lagi ilmuwan muslim yang lain. Dalam bidang fiqih
ada Imam Hanāfi (699M-767 M), Imam Mālik (712 M-798 M), Imam Syafi’i (767 M-820
M) dan Imam Hanbali (780 M-855 M) yang besar dengan kitab masing-masing.
Sementara dalam bidang sosial, terdapat nama Yaqut bin Abdullah al-Hamāwi (1179
M-1229 M) yang mengarang kitab Mu’jam al-Buldan (Kamus Negara). Ibnu
Yunis, yang menggabungkan dokumen-dokumen penelitian yang dibuat 200 tahun
sebelumnya dan menyiapkannya untuk tabel astronomi Hakimite. Umar al-Khayyām,
yang dikenal dengan karya kalender Jalali-nya yang sempurna dan dipakai
di Persia untuk penanggalan. Cendekiawan seperti Will Durant
dan Fielding H. Garrison,
kimiawan Muslim dianggap sebagai pendiri kimia. Abu Rayhan al-Biruni
sebagai perintis indologi,geodesi
dan antropologi.
Sebagian bangsa di Asia
juga mulai memperlihatkan perkembangan ilmu mereka. Dari Cina ada salah satu
contoh terbaik akan Shen Kuo
(1031 M - 1095 M), seorang ilmuwan dan negarawan yang pertama kali
menggambarkan magnet-jarumkompas
yang digunakan untuk navigasi,
menemukan konsep utara sejati,
perbaikan desain astronomi Gnomon,armillary
bola,penglihatan tabung,
dan clepsydra,
dan menggambarkan penggunaan drydocks
untuk memperbaiki perahu. Selain itu, Shen Kuo juga menyusun teori pembentukan
tanah, atau geomorfologi.
Ada juga Su Song
(1020 M - 1101 M) juga seorang astronom yang menciptakan langit bintang atlas
peta, menulis sebuah risalah farmasi dengan subyek terkait botani,zoologi,mineralogi,
dan metalurgi,
dan telah mendirikan besar astronomiclocktower di
Kaifeng
pada tahun 1088.[24]
4.ZamanRenaissance
Zaman ini berlangsung pada
awal abad 14 M sampai dengan abad 17 M. Renaissance sering diartikan denagn
kebangkitan, peralihan, atau lahir kembali (rebirth), yaitu di lahirkan kembali
sebagai manusia yang bebas untuk berpikir , dan jauh dari ajaran-ajaran agama.
Tokoh-tokoh ilmuwan yang berpengaruh di masa
ini ialah sebagai berikut :
a.Nicolaus
Capernicus (1473 M-1543 M), adalah seorang astronom, matematikawan, dan ekunom
yang berkembangsaan Polandia. Ia mengembangkan Teori Heliosentris (Tata
Suryaberpusat di matahari).
b.Galileo
Galilei (1564 M-1642 M), adalah seorang astronom, filsuf, dan fisikawan Italia
yang memiliki peran besar dalam revolusi ilmiah. Sumbangannya dalam keilmuan
antara lain adalah penyempurnaan teleskop (dengan 32 x pembesaran) dan berbagai
observasi astronomi. Dia adalah orang pertama yang melukiskan tata surya
seperti yang kita kenal sekarang.
c.Tycho
Brahe (1546 M-1601 M), adalah seorang bangsawan Denmark yang terkenal sebagai
astronom/astrolog dan alkimiawan. Tycho adalh astronom pengamat paling menonjol
di zaman pra –teleskop. Akurasi pengamatannya pada posisi bintang dan planet
tak tertandingi pada masa itu.
d.Johannes
Kepler (1571 M-1630 M), adalah astronom jerman, Matematikawan dan astrolog. Ia
paling di kenal melalui hukum gerakan planetnya. Kepler juga ahli optic
dan astronomi. Penjelasannya tentang pembiasan cahaya tertuang dalam buku Supplement
To Witelo, Expounding The Optical Part Of Astronomy. Ia orang pertama yang
menjelaskan cara kerja mata.
e.Fancies
Bacon (1561 M-1626 M), adalah seorang filsuf, negarawan dan penulis Inggris.
Karya-karyanya antar lain membangun dan mempopulerkan motodologi induksi untuk
penelitian ilmiah, sering kali disebut metode Baconian.[25]
5.Zaman
modern
Zaman ini sebenarnya sudah
terintis mulai dari abad 15 M. Tetapi, indikator yang nyata terlihat jelas pada
abad 17 M dan berlangsung hingga abad 20 M. Hal ini ditandai dengan ditandai
dengan adanya penemuan-penemuan dalam bidang ilmiah.[26] Menurut Slamet Iman
Sontoso, ada tiga sumber pokok yang menyebabkan berkembangnya ilmu pengetahuan
di Eropa dengan pesat, yaitu hubungan antara kerajaan Islam di Semenanjung
Liberia dengan negara Perancis, terjadinya Perang Salib dari tahun
1100-1300, dan jatuhnya Istambul ke tangan Turki pada tahun 1453.[27]
Zaman
ini sudah dimulai sejak abad 14 M. zaman ini juga dikenal sebagai masa
rasionalisme yang tumbuh di zaman modern karena munculnya berbagai penemuan
ilmu pengetahuan. Tokoh yang menjadi pioner pada masa ini adalah Rene Decrates,
Isaac Newton, Charles Darwin, dan JJ. Thompson. Keterangan lebih lengkap
sebagai berikut :
a.Isaac
Newton (1643 M-1727 M ), adalah seorang fisikawan, matematikawan, ahli
astronomi, filsuf alam, alkimiawan, dan theolog. Dia di katakana sebagai “Bapak
ilmu fisika klasik”. Karyanya yang berjudul Philosophiae Naturalis Principia
Mathematica menjabarkan tentang hukum gravitasi dan tiga hukum gerak yang
mendominasi pandangan sains mengenai alam semesta selama tiga abad ini.
b.Rene
Descartes (1596 M-1650 M), ia di kenal sebagai Renatus Cartesius, adalah
seorang filsuf dan matematikawan Perancis. Descartes kadang di panggil “Penemu
filsafat Modern” dan “Bapak matematika modern”. Pemikirannya yang menggunakan
revolusi adalah semuanya tida ada yang pasti, kecuali kenyataan bahwa seseorang
berfikir.
c.Charles
Robert Darwin 1809 M-1882 M) adalah seorang naturalis yang teori
revolusionernya meletakkan landasan bagi teori evolusi modern dan prinsip garis
keturunan yang sama (common Descent) dengan mengajukan seleksi alam
sebagai mekanismenya. Teorinya yang paling menggemparkan adalah “Nenenk moyang
manusia adalah kera”.
d.Joseph
John Thompson (1856 M-1940 M) adalah seorang ilmuan dengan penelitiannya yang
membuahkan penemuan Elektron. Thompson mengungkapkan bahwa gas mampu
mengantarkan listrik. Ia menjadi seorang perintis ilmu fisika nuklir. Dia juga
menemukan sebuah metode untuk memisahkan jenis atom dan sinar molekul yang
berbeda dengan menggunakan sinar positif.[28]
Selain pioneer di
atas masih banyak ilmuwan lain yang memegang peran dalam perkembangan ilmu.
Diantaranya seperti Michael Faraday (1791 M
-1867 M)
yang mendapat julukan “Bapak Listrik“,
karena berkat usahanya listrik menjadi teknologi yang banyak gunanya, dan
Blaise Pascal (1623 M-1662 M) adalah seorang ahli matematika,fisika,
dan agamafilsuf.
Karyanya berupa kontribusi penting pada pembangunan mekanis kalkulator.
Kemudian dari perkembangan ilmu sosial, muncul nama Auguste Comte (1798 M-1857
M). Menurut Thoyibi, ia adalah tokoh yang mengusung “Filsafat Positivisme”
dengan karyanya Cours De Philosophie Positive (Uraian tentang filsafat
positivisme). Istilah dari “positif” ini sebagai sesuatu yang nyata, tepat,
pasti, dan memberi manfaat.[29]
6.Zaman
Kontemporer
Zaman ini bermula dari abad
20 M dan masih berlangsung hingga saat ini. Zaman ini ditandai dengan adanya
teknologi-teknologi canggih, dan spesialisasi ilmu-ilmu yang semakin tajam dan
mendalam. Pada zaman ini bidang fisika menempati kedudukan paling tinggi dan
banyak dibicarakan oleh para filsuf. Hal ini disebabkan karena fisika dipandang
sebagai dasar ilmu pengetahuan yang subjek materinya mengandung unsur-unsur
fundamental yang membentuk alam semesta.
Sebagian besar aplikasi
ilmu dan teknologi di abad 21 merupakan hasil penemuan mutakhir di abad 20.
Pada zaman ini, ilmuwan yang menonjol dan banyak dibicarakan adalah fisikawan.
Bidang fisika menjadi titik pusat perkembangan ilmu pada masa ini. Fisikawan
yang paling terkenal pada abad ke-20 adalah Albert Einstein.[30]
Ialahir pada tanggal 14
maret1879 dan meninggal pada tanggal 18
April1955 (umur 76 tahun). Alberth Einstein adalah seorang ilmuwan
fisika. Dia mengemukakan teori
relativitas dan juga banyak menyumbang
bagi pengembangan mekanika
kuantum, mekanika statistik,
dan kosmologi.
Dia dianugerahi Penghargaan Nobel dalam
Fisika pada tahun 1921 untuk penjelasannya tentang efek fotoelektrik
dan “pengabdiannya bagi Fisika Teoretis”. Karyanya yang lain berupa gerak Brownian, efek fotolistrik,
dan rumus Einstein yang paling dikenal adalah E=mc².
Di artikel pertamanya di tahun 1905
bernama “On the Motion-Required by the Molecular Kinetic Theory of Heat-of
Small Particles Suspended in a Stationary Liquid“, mencakup penelitian
tentang gerakan Brownian.
Menggunakan teori
kinetik cairan yang pada saat itu kontroversial, dia
menetapkan bahwa fenomena, yang masih kurang penjelasan yang memuaskan setelah
beberapa dekade setelah ia pertama kali diamati, memberikan bukti empirik (atas
dasar pengamatan dan eksperimen) kenyataan pada atom.
Dan juga meminjamkan keyakinan pada mekanika statistika,
yang pada saat itu juga kontroversial.
Pada zaman ini juga melihat
integrasi fisika dan kimia, pada zaman ini disebut dengan “Sains Besar”. Linus
Pauling (1953) mengarang sebuah buku yang berjudul The
Nature of Chemical Bond menggunakan prinsip-prinsip mekanika kuantum.
Kemudian, karya Pauling memuncak dalam pemodelan fisik DNA, “rahasia
kehidupan”. Pada tahun ini juga James D. Watson,Francis CrickdanRosalind Franklin
menjelaskan struktur dasar DNA, bahan genetik
untuk mengungkapkan kehidupan dalam segala bentuknya. Hal ini memicu rekayasa
genetika yang dimulai tahun 1990 untuk memetakan seluruh manusia genom
(dalam Human
Genome Project)
dan telah disebut-sebut sebagai berpotensi memiliki manfaat medis yang besar.
Pada tahun yang sama, percobaan Miller-Urey
dibuktikan dalam sebuah simulasi proses primordial, yang merupakan unsur
dasar protein, sederhana asam amino,
bisa dibangun sendiri dari molekul sederhana. Pada tahun 1925, Werner
Heisenberg dan Erwin
Schrödinger memformulasikan mekanika kuantum,
yang menjelaskan teori kuantum sebelumnya. Kemudian ada juga pengamatan oleh Edwin Hubble
pada tahun 1929 bahwa kecepatan di mana galaksi surut berkorelasi positif
dengan jarak, mengarah pada pemahaman bahwa alam semesta mengembang, dan
perumusan teori Big Bang
oleh Georges
Lemaitre. Pengembangan bom atom di
era “Sains Besar”
selanjutnya terjadi selama Perang Dunia II, yang mengarah ke aplikasi praktis
dari radar
dan pengembangan dan penggunaan bom atom.
Meskipun proses itu dimulai dengan penemuan siklotron
oleh Ernest
O. Lawrence di tahun 1930-an. Di
bidang Geologi yang paling fenomenal adalah teori “pergeseran benua” oleh Alfred Wegener.
Teori “Lempeng Tektonik” itu sudah digagas pada tahun 1910-an, data dikumpulkan
pada 1950 sampai 1960-an, kemudian diakui dan digunakan pada tahun 1970.
Selain kimia dan fisika,
teknologi komunikasi dan informasi berkembang pesat pada zaman ini. Sebut saja
beberapa penemuan yang dilansir oleh nusantaranews.wordpress.com sebagai
penemuan yang merubah warna dunia, yaitu: Listrik, Elektronika (transistor dan
IC), Robotika (mesin produksi dan mesin pertanian), TV dan Radio, Teknologi
Nuklir, Mesin Transportasi, Komputer, Internet, Pesawat Terbang, Telepon dan
Seluler, Rekayasa Pertanian dan DNA, Perminyakan, Teknologi Luar Angkasa, AC
dan Kulkas, Rekayasa Material, Teknologi Kesehatan (laser, IR, USG), Fiber
Optic, dan Fotografi (kamera, video). Kini, penemuan terbaru di bidang
Teknologi telah muncul kembali. sumber lain telah memberitakan penemuan
“Memristor”. Ini merupakan penemuan Leon Chua, profesor teknik elektro dan ilmu
komputer di University of California Berkeley. Keberhasilan itu menghidupkan
kembali mimpi untuk bisa mengembangkan sistem-sistem elektronik dengan
efisiensi energi yang jauh lebih tinggi daripada saat ini. Caranya, memori yang
bisa mempertahankan informasi bahkan ketika power-nya mati, sehingga tidak
perlu ada jeda waktu untuk komputer untuk boot up, misalnya, ketika dinyalakan
kembali dari kondisi mati. Hal ini digambarkan seperti menyala-mematikan lampu
listrik, ke depan komputer juga seperti itu (bisa dihidup-matikan dengan sangat mudah dan cepat.
I.
Landasan Penelahaan Ilmu
Landasan pokok dalam penelaahan ilmu
bertumpu pada tiga cabang filsafat, yaitu ontologi, epistimologi dan aksiologi.
Landasan ontologi berkaitan dengan pemahaman seseorang tentang kenyataan,
landasan epistemologi memberikan pemahaman tentang sumber dan sarana
pengetahuan manusia sedangkan landasan aksiologi yang memberikan suatu
pemahaman tentang nilai hubungan kualitas obyek dengan subyek (ilmuan) .
1. Landasan Ontologi
Ontologi adalah cabang filsafat yang membicarakan tentang yang ada. Dalam kaitannya dengan ilmu, landasan ontologi mempertanyakan tentang objek apa yang ditelaah ilmu, bagaimana wujud hakiki dari objek tersebut . Secara ontologi ilmu membatasi lingkup penelaahan keilmuannya hanya pada daerah-daerah yang berada dalam jangkauan pengalaman manusia. Objek penelaahan yang berada dalam batas pra-pengalaman dan pasca pengalaman diserahkan ilmu kepada pengetahuan lain. Ilmu hanya merupakan salah satu pengetahuan dari sekian banyak pengetahuan yang mencoba menelaah kehidupan dalam batas ontologi tertentu. Penetapan lingkup batas penelaahan keilmuan yang bersifat empiris ini adalah konsisten dengan asas epistimologi keilmuan yang mensyaratkan adanya verifikasi secara empiris dalam proses penemuan dan penyusunan pernyataan yang bersifat benar secara ilmiah .
Disamping itu, secara ontologi ilmu bersifat netral terhadap nilai-nilai yang bersifat dogmatik dalam menafsirkan hakikat realitas, sebab ilmu merupakan upaya manusia untuk mempelajari alam sebagaimana adanya. Sebagaimana kita mendefinisikan manusia, maka berbagai pengertianpun akan muncul.
Contoh: ada pertanyaan, Siapakah manusia itu? Jawab ilmu ekonomi ialah makhluk ekonomi sedang ilmu politik menjawab manusia adalah mahluk politikal.
2. Landasan Epistimologi
Epistimologi adalah cabang filsafat yang membicarakan tentang asal muasal, sumber, metode, struktur dan validitas atau kebenaran pengetahuan. Dalam kaitannya dengan ilmu, landasan epistimologi mempertanyakan bagaimana proses yang memungkinkan ditimbanya pengetahuan yang berupa ilmu? Bagaimana prosedurnya? Apa kriterianya? Cara atau teknik atau sarana apa yang membantu kita dalam mendapatkan pengetahuan yan berupa ilmu? .
Landasan epistimologi ilmu tercermin secara operasional dalam metode ilmiah. Pada dasarnya metode ilmiah merupakan cara ilmu memperoleh dan menyusun tubuh pengetahuan berdasarkan:
a. Kerangka pemikiran yang bersifat logis dengan argumentasi yang bersifat konsisten dengan pengetahuan sebelumnya yang telah berhasil disusun.
b. Menjabarkan hipotesis yang merupakan deduksi dari kerangka pemikiran tersebut.
c. Melakukan verifikasi terhadap hipotesis termaksud untuk menguji kebenaran pernyataan secara faktual .
Kerangka pemikiran yang logis adalah argumentasi yang bersifat rasional dalam mengembangkan terhadap fenomena alam. Verifikasi secara empiris berarti evaluasi secara obyektif dari suatu pernyataan hipotesis terhadap kenyataan faktual. Verifikasi ini berarti bahwa ilmu terbuka untuk kebenaran lain selain yang terkandung dalam hipotesis. Demikian juga verifikasi faktual membuka diri terhadap kritik kerangka pemikiran yang mendasari pengajuan hipotesis. Kebenaran ilmiah dengan keterbukaan terhadap kebenaran baru mempunyai sifat pragmatis yang prosesnya secara berulang (siklus) berdasarkan cara berpikir kritis . Karena ilmu merupakan sikap hidup untuk mencari suatu kebanaran dan mencintai kebenaran sesuai dengan kaitan moral.
3. Landasan Aksiologi
Aksiologi adalah cabang filsafat yang mempelajari tentang nilai secara umum. Sebagai landasan ilmu, aksiologi mempertanyakan untuk apa pengetahuan yang berupa ilmu itu dipergunakan? Bagaimana kaitan antara cara penggunaan tersebut dengan kaidah-kaidah moral? Bagaimana penentuan objek yang ditelaah berdasarkan pilihan-pilihan moral? Bagaimana kaitan antara teknik, prosedural yang merupakan operasional? .
Pada dasarnya ilmu harus dipergunakan dan dimanfaatkan untuk kemaslahatan manusia. Dalam hal ini, ilmu dapat dimanfaatkan sebagai sarana atau alat dalam meningkatkan taraf hidup manusia dengan memperhatikan kodrat, martabat manusia dan kelestarian atau keseimbangan alam .
Untuk kepentingan manusia tersebut pengetahuan ilmiah yang diperoleh dan disusun dipergunakan secara komural dan universal. Komural berarti ilmu merupakan pengetahuan yang menjadi milik bersama, semua orang berhak memanfaatkan ilmu menurut kebutuhannya. Universal berarti ilmu tidak memiliki konotasi ras, ideologi atau agama.
Sebagaimana contoh seorang kepala desa mempelajari ilmu manajemen desa secara detail, mulai dari wilayah desa, mata pencaharian penduduk sampai dengan kehidupan sehari-hari para penduduk sekitar. Dengan landasan aksiologi mempertanyakan nilai apa yang terdapat didalam ilmu manajemen desa tersebut, sehingga terjawablah pertanyaan nilai tersebut dengan gambaran keberhasilan kepala desa untuk memajukan desanya dalam bidang kesejahteraan penduduk desa dan kelestarian wilayah desa.
1. Landasan Ontologi
Ontologi adalah cabang filsafat yang membicarakan tentang yang ada. Dalam kaitannya dengan ilmu, landasan ontologi mempertanyakan tentang objek apa yang ditelaah ilmu, bagaimana wujud hakiki dari objek tersebut . Secara ontologi ilmu membatasi lingkup penelaahan keilmuannya hanya pada daerah-daerah yang berada dalam jangkauan pengalaman manusia. Objek penelaahan yang berada dalam batas pra-pengalaman dan pasca pengalaman diserahkan ilmu kepada pengetahuan lain. Ilmu hanya merupakan salah satu pengetahuan dari sekian banyak pengetahuan yang mencoba menelaah kehidupan dalam batas ontologi tertentu. Penetapan lingkup batas penelaahan keilmuan yang bersifat empiris ini adalah konsisten dengan asas epistimologi keilmuan yang mensyaratkan adanya verifikasi secara empiris dalam proses penemuan dan penyusunan pernyataan yang bersifat benar secara ilmiah .
Disamping itu, secara ontologi ilmu bersifat netral terhadap nilai-nilai yang bersifat dogmatik dalam menafsirkan hakikat realitas, sebab ilmu merupakan upaya manusia untuk mempelajari alam sebagaimana adanya. Sebagaimana kita mendefinisikan manusia, maka berbagai pengertianpun akan muncul.
Contoh: ada pertanyaan, Siapakah manusia itu? Jawab ilmu ekonomi ialah makhluk ekonomi sedang ilmu politik menjawab manusia adalah mahluk politikal.
2. Landasan Epistimologi
Epistimologi adalah cabang filsafat yang membicarakan tentang asal muasal, sumber, metode, struktur dan validitas atau kebenaran pengetahuan. Dalam kaitannya dengan ilmu, landasan epistimologi mempertanyakan bagaimana proses yang memungkinkan ditimbanya pengetahuan yang berupa ilmu? Bagaimana prosedurnya? Apa kriterianya? Cara atau teknik atau sarana apa yang membantu kita dalam mendapatkan pengetahuan yan berupa ilmu? .
Landasan epistimologi ilmu tercermin secara operasional dalam metode ilmiah. Pada dasarnya metode ilmiah merupakan cara ilmu memperoleh dan menyusun tubuh pengetahuan berdasarkan:
a. Kerangka pemikiran yang bersifat logis dengan argumentasi yang bersifat konsisten dengan pengetahuan sebelumnya yang telah berhasil disusun.
b. Menjabarkan hipotesis yang merupakan deduksi dari kerangka pemikiran tersebut.
c. Melakukan verifikasi terhadap hipotesis termaksud untuk menguji kebenaran pernyataan secara faktual .
Kerangka pemikiran yang logis adalah argumentasi yang bersifat rasional dalam mengembangkan terhadap fenomena alam. Verifikasi secara empiris berarti evaluasi secara obyektif dari suatu pernyataan hipotesis terhadap kenyataan faktual. Verifikasi ini berarti bahwa ilmu terbuka untuk kebenaran lain selain yang terkandung dalam hipotesis. Demikian juga verifikasi faktual membuka diri terhadap kritik kerangka pemikiran yang mendasari pengajuan hipotesis. Kebenaran ilmiah dengan keterbukaan terhadap kebenaran baru mempunyai sifat pragmatis yang prosesnya secara berulang (siklus) berdasarkan cara berpikir kritis . Karena ilmu merupakan sikap hidup untuk mencari suatu kebanaran dan mencintai kebenaran sesuai dengan kaitan moral.
3. Landasan Aksiologi
Aksiologi adalah cabang filsafat yang mempelajari tentang nilai secara umum. Sebagai landasan ilmu, aksiologi mempertanyakan untuk apa pengetahuan yang berupa ilmu itu dipergunakan? Bagaimana kaitan antara cara penggunaan tersebut dengan kaidah-kaidah moral? Bagaimana penentuan objek yang ditelaah berdasarkan pilihan-pilihan moral? Bagaimana kaitan antara teknik, prosedural yang merupakan operasional? .
Pada dasarnya ilmu harus dipergunakan dan dimanfaatkan untuk kemaslahatan manusia. Dalam hal ini, ilmu dapat dimanfaatkan sebagai sarana atau alat dalam meningkatkan taraf hidup manusia dengan memperhatikan kodrat, martabat manusia dan kelestarian atau keseimbangan alam .
Untuk kepentingan manusia tersebut pengetahuan ilmiah yang diperoleh dan disusun dipergunakan secara komural dan universal. Komural berarti ilmu merupakan pengetahuan yang menjadi milik bersama, semua orang berhak memanfaatkan ilmu menurut kebutuhannya. Universal berarti ilmu tidak memiliki konotasi ras, ideologi atau agama.
Sebagaimana contoh seorang kepala desa mempelajari ilmu manajemen desa secara detail, mulai dari wilayah desa, mata pencaharian penduduk sampai dengan kehidupan sehari-hari para penduduk sekitar. Dengan landasan aksiologi mempertanyakan nilai apa yang terdapat didalam ilmu manajemen desa tersebut, sehingga terjawablah pertanyaan nilai tersebut dengan gambaran keberhasilan kepala desa untuk memajukan desanya dalam bidang kesejahteraan penduduk desa dan kelestarian wilayah desa.
J. Sarana Berfikir Ilmiah
Sarana
berpikir ilmiah ini, dalam proses pendidikan kita, merupakan bidang studi
tersendiri. Artinya, kita mempelajari sarana berpikir ilmiah ini seperti kita
mempelajari berbagai cabang ilmu. Dalam hal ini, kita harus memperhatikan dua
hal, yakni:
- Pertama,
sarana ilmiah "bukan merupakan ilmu", dalam pengertian bahwa
sarana ilmiah itu merupakan "kumpulan pengetahuan" yang bisa
kita dapatkan berdasarkan metode
ilmiah.
Seperti kita ketahui, bahwa salah satu karakteristik dalam ilmu, misalnya,
adalah penggunaan berpikir induktif dan deduktif untuk
mendapatkan pengetahuan yang benar. Sarana berpikir ilmiah tidak
menggunakan cara ini dalam mendapatkan pengetahuannya. Secara lebih
tuntas, dapat dikatakan bahwa sarana berpikir ilmiah mempunyai
"metode tersendiri" dalam mendapatkan pengetahuannya, yang
berbeda dengan metode
ilmiah.
- Kedua,
tujuan mempelajari sarana ilmiah adalah "untuk memungkinkan kita
dalam melakukan penelaahan ilmiah secara lebih baik". Sedangkan
tujuan mempelajari ilmu dimaksudkan "untuk mendapatkan pengetahuan
yang memungkinkan kita untuk bisa memecahkan masalah kita
sehari-hari".
Dalam hal ini, maka sarana berpikir ilmiah
merupakan "alat bagi cabang-cabang pengetahuan" untuk mengembangkan
materi pengetahuannya berdasarkan metode
ilmiah.3) Atau secara lebih sederhana, sarana berpikir
ilmiah ini merupakan "alat bagi metode
ilmiah dalam melakukan fungsinya secara baik". Jelaslah
sekarang, kiranya mengapa sarana berpikir ilmiah mempunyai metode tersendiri, yang
berbeda dengan metode
ilmiah dalam mendapatkan pengetahuannya, sebab salah satu
fungsi sarana ilmiah adalah membantu proses metode
ilmiah, dan bukan merupakan ilmu itu sendiri.
Untuk dapat melakukan kegiatan berpikir ilmiah dengan baik, maka kita membutuhkan sarana yang berupa Bahasa (γλώσσα), Logika (λογική), Matematika (μαθηματικά), dan Statistika (στατιστική). Bahasa, dalam hal ini merupakan alat komunikasi verbal, yang dipakai dalam seluruh proses berpikir ilmiah, dimana bahasa merupakan "alat berpikir" dan "alat komunikasi" untuk menyampaikan suatu jalan pikiran kepada orang lain.4) Ditinjau dari pola berpikirnya (mindset), maka ilmu merupakan gabungan antara berpikir deduktif dan berpikir induktif. Untuk itu, maka sudah barang tentu penalaran ilmiah menyandarkan diri kepada proses logika deduktif dan logika induktif. Matematika, mempunyai peranan yang sangat penting dalam proses berpikir deduktif ini. Sedangkan Statistika, juga mempunyai peranan yang sangat penting dalam berpikir induktif.
Proses pengujian dalam kegiatan ilmiah, menurut Jujun S. Suriasumantri dalam bukunya, Filsafat Ilmu, sangat mengharuskan kita untuk menguasai metode penelitian ilmiah, yang pada hakikatnya adalah merupakan "pengumpulan fakta untuk menerima atau menolak" terhadap sebuah hipotesis yang diajukan. Kemampuan berpikir ilmiah yang baik, harus diiringi oleh penguasaan sarana berpikir ilmiah ini dengan baik pula.
Salah satu langkah terbaik ke arah penguasaan itu adalah mengetahui dengan benar akan peranan masing-masing sarana berpikir tersebut dalam keseluruhan proses berpikir ilmiah tersebut. Berdasarkan pemikiran ini, maka tidak sulit untuk dimengerti bahwa mengapa mutu kegiatan keilmuan tidak mencapai taraf yang memuaskan jika sarana berpikir ilmiahnya memang kurang dikuasai. Bagaimana mungkin seseorang bisa melakukan penalaran yang cermat tanpa menguasai "struktur bahasa" yang tepat? Demikian juga, bagaimana seseorang bisa melakukan generalisasi tanpa menguasa statistika?
Memang benar, tidak semua masalah membutuhkan analisis statistik, namun hal ini bukan berati bahwa kita tidak peduli terhadap statistikasama sekali, dan berpaling kepada cara-cara yang justru "tidak bersifat ilmiah". Seperti dikatakan JOHN G. KEMENY (-), Sering kita melakukan rasionalisasi untuk membela kekurangan kita (beladiri.com, ceritanya); atau bahkan kompensasi, dengan menggunakan kata-kata yang muluk (mulek) untuk menutupi ketidaktahuan kita.
Untuk dapat melakukan kegiatan berpikir ilmiah dengan baik, maka kita membutuhkan sarana yang berupa Bahasa (γλώσσα), Logika (λογική), Matematika (μαθηματικά), dan Statistika (στατιστική). Bahasa, dalam hal ini merupakan alat komunikasi verbal, yang dipakai dalam seluruh proses berpikir ilmiah, dimana bahasa merupakan "alat berpikir" dan "alat komunikasi" untuk menyampaikan suatu jalan pikiran kepada orang lain.4) Ditinjau dari pola berpikirnya (mindset), maka ilmu merupakan gabungan antara berpikir deduktif dan berpikir induktif. Untuk itu, maka sudah barang tentu penalaran ilmiah menyandarkan diri kepada proses logika deduktif dan logika induktif. Matematika, mempunyai peranan yang sangat penting dalam proses berpikir deduktif ini. Sedangkan Statistika, juga mempunyai peranan yang sangat penting dalam berpikir induktif.
Proses pengujian dalam kegiatan ilmiah, menurut Jujun S. Suriasumantri dalam bukunya, Filsafat Ilmu, sangat mengharuskan kita untuk menguasai metode penelitian ilmiah, yang pada hakikatnya adalah merupakan "pengumpulan fakta untuk menerima atau menolak" terhadap sebuah hipotesis yang diajukan. Kemampuan berpikir ilmiah yang baik, harus diiringi oleh penguasaan sarana berpikir ilmiah ini dengan baik pula.
Salah satu langkah terbaik ke arah penguasaan itu adalah mengetahui dengan benar akan peranan masing-masing sarana berpikir tersebut dalam keseluruhan proses berpikir ilmiah tersebut. Berdasarkan pemikiran ini, maka tidak sulit untuk dimengerti bahwa mengapa mutu kegiatan keilmuan tidak mencapai taraf yang memuaskan jika sarana berpikir ilmiahnya memang kurang dikuasai. Bagaimana mungkin seseorang bisa melakukan penalaran yang cermat tanpa menguasai "struktur bahasa" yang tepat? Demikian juga, bagaimana seseorang bisa melakukan generalisasi tanpa menguasa statistika?
Memang benar, tidak semua masalah membutuhkan analisis statistik, namun hal ini bukan berati bahwa kita tidak peduli terhadap statistikasama sekali, dan berpaling kepada cara-cara yang justru "tidak bersifat ilmiah". Seperti dikatakan JOHN G. KEMENY (-), Sering kita melakukan rasionalisasi untuk membela kekurangan kita (beladiri.com, ceritanya); atau bahkan kompensasi, dengan menggunakan kata-kata yang muluk (mulek) untuk menutupi ketidaktahuan kita.
