“Teori-teori Tentang Pengetahuan”
Pengetahuan
adalah informasi yang diketahui atau disadari oleh manusia, atau pengetahuan
adalah berbagai gejala yang ditemui dan diperoleh manusia melalui pengamatan
indrawi. Pengetahuan akan muncul ketika orang menggunakan akal atau indranya
untuk mengenali benda atau peristiwa tertentu yang belum pernah dilihat atau
dirasakan. Misalnya, saat pertama kali orang makan cabai maka Dia akan tahu
bagaimana rasa cabai itu, bentuknya, warnanya, atau bahkan akan bertanya-tanya
apa zat-zat apa yang dikandungnya.
Pengetahuan
empiris menekankan pada pengamatan dan pengalaman indrawi, sedangkan
pengetahuan rasional didapatkan melalui akal budi. Misalnya, orang mengetahui
bahwa cabai rasanya pedas karena dia pernah memakannya. Tidak mungkin hanya
dengan dipikir-pikir orang itu akan mengetahui bahwa rasa cabai adalah pedas.
Namun, pernyataan 1+1=2 adalah hasil dari pemikiran (akal) manusia, bukan merupakan
suatu pengamatan empiris.
Keyakinan
adalah suatu sikap yang ditunjukkan manusia saat dia merasa cukup tahu dan
menyimpulkan bahwa dirinya telah mencapai kebenaran. Maksudnya adalah orang
akan merasa yakin kalau apa yang mereka ketahui adalah benar. Jadi, keyakinan
terjadi setelah orang percaya adanya suatu kebenaran.
Menurut
teori kebenaran sebagai kesesuaian, keyakinan adalah suatu pernyataan yang
tidak disertai bukti yang nyata. Misalnya, petir disebabkan oleh amukan para
dewa. Pernyataan ini tidak bisa dibuktikan, sehingga hanya bisa dikatakan
sebagai suatu keyakinan. Sementara pernyataan petir disebabkan kerena adanya
tabrakan antara awan yang bermuatan positif dan negative adalah suatu
kebenaran, karena dapat dibuktikan. Sehingga pernyataan ini disebut sebagai
pengetahuan.
Ada dua istilah yang
berhubungan dengan keyakinan dan pengetahuan :
1. Magic power-
(kekuatan magis) –> fenomena kekuatan gaib. Orang yang lebih percaya pada
sesuatu yang aneh(karena tidak tahu sebabnya) sebagai kekuatan magis
2. Naturalisme, berarti
sesuatu yang alami.
B.
Sumber
Pengetahuan Rasionalisme dan Empirisme
Sumber Pengetahuan :
Rasionalisme, Empirisme dan Sintesis.
1. Rasionalisme.
Rasionalisme
adalah bahwa hanya dengan menggunakan prosedur tertentu dari akal saja bisa
sampai pada pengetahuan yang sebenarnya, yaitu pengetahuan yang tidak mungkin
salah. Menurut kaum rasionalis, sumber pengetahuan, adalah akal budi manusia.
Dengan akal budi yang memberi pengetahuan yang pasti benar tentang sesuatu.
Oleh karena itu, konsekuensinya adalah kaum rasionalis menolak anggapan bahwa
seseorang bisa menemukan pengetahuan melalui pancaindra.Pemahaman rasionalisme
oleh pemikiran dua tokoh yaitu :
a) Plato
Anggapan
rasionalisme telah muncul dalam pemikiran Plato. Menurut Plato, satu-satunya
pengetahuan sejati adalah apa yang disebutnya sebagai episteme, yaitu
pengetahuan tunggal dan tak berubah, sesuai dengan ide-ide abadi. Oleh karena
itu didapat melalui pancaindra hanya merupakan tiruan cacat dari ide-ide
tertentu yang abadi dengan bersifat nyata dan sempurna.
Di
dalam kehidupan sementara ini, hanya ada bayangan dari ide yang abadi, bayangan
itu banyak, rupa, dan selalu berubah. Jika manusia melihat bayangan itu,
teringat dengan ide abadi. Yang artinya, manusia mengenal dan mengetahui
bayangan tadi melalui Ide Abadi. Pengetahuan bagi Plato adalah hasil ingatan
yang melekat pada manusia. Pengetahuan adalah pengenalan kembali akan hal yang
sudah diketahui dalam Ide Abadi. Pengetahuan adalah kumpulan ingatan terpendam
dalam benak manusia. Dengan demikian untuk meneliti sesuatu sampai dengan
pengetahuan sejati hanya mengandalkan akal budi yang sudah mengenal Ide Abadi.
b) Rene
Descartes
Descartes
adalah filsuf yang meragukan semua keyakinan dan pengetahuan. Sasaran utama dari
Descartes adalah bagaimana seseorang bisa sampai pada pengetahuan yang pasti
benar. Menurut seseorang perlu meragukan sesuatu sampai mempunyai ide yang
jelas dan tepat (clara et distincta). Ini disebut keraguan metodis
berfungsi sebagai alat untuk menyingkirkan semua prasangka, tebakan, dan dugaan
yang menipu, dan karenanya menghalangi untuk sampai pada pengetahuan yang
benar-benar punya dasar yang kuat. Dengan cara ini, seseorang bisa merasa yakin
bahwa punya pengetahuan. Atas dasar ini , Descartes beranggapan bahwa akal budi
dapat membuktikan bahwa ada dasar bagi pengetahuan manusia, ada dasar untuk
merasa pasti dan yakin apa yang diketahui.
Salah satu unsur pertama untuk menipu dan menghalangi orang untuk sampai pada
pengetahuan sejati adalah pengalaman indrawi seseorang. Contohnya, pancaindra
menipu bahwa benda-benda ruang angkasa kecil saja atau botol berisi air sebagai
kosong. Hal ini membuat Descartes meragukan semua yang ditangkapnya melalui
pancaindra. Bahwa kenyataanya bahwa dia sedang membayangkan sesuatu, padahal
sesunggunya semua itu hanya omong kosong, hanya khayalan belaka. Dengan
keraguan inilah, Descartes mengatakan bahwa kalau apa yang ditangkap oleh
pancaindratelah dilihat melalui terang akal budi sebagai pasti dan tidak bisa diragukan,
karena bisa diterima sebagai pengetahuan. Semakin jelas ide tersebut dalam
terang akal budi, semakin ide tersebut sesuai dengan realitas. Jadi, bukan
sebaliknya bahwa semakin sesuai dengan reslitas, ide itu semakin besar.
Menurut Descartes, jika
metode yang digunakan dalam ilmu ukur, yang mengandalakan deduksi akal budi,
bisa berhasil untuk sampai pada kebenaran-kebenaran yang tak bisa diragukan,
metode yang sama tidak bisa digunakan dalam bidang yang lain, Descartes
berpendapat bahwa untuk sampai pada pengetahuan yang pasti dan tak teragukan
mengenai apa saja, perlu mengandalkan akal budi, sebagaimana halnya dalam ilmu
ukur. Yang perlu dilakukan adalah menggunakan alat yang sama yang memungkinkan
ahli ilmu ukur dan matematika sampai pada kebenaran yang pasti, yaitu akal
budi, karena hanya akal budi yang bisa memberi kepastian.
Tujuan dari cara
kerja yang mengandalkan akal budi adalah supaya seseorang tidak hanya sampai
pada pengethuan sejati yang punya dasar yang kokoh, melainkan pada pengetahuan
bersifat umum atau universal, yaitu pengetahuan yang tidak terbatas pada objek
khusus tertentu yang diberikan pancaindra dan karena itu bisa menipu.
Dengan
dipraktekan metode tersebut, Descartes akhirnya sampai pada suatu kenyataan
yang tidak bisa diragukannya, yaitu bahea ia ada. Maka kata Descartes :Cogito
ergo sum. Ia masih ada. Adanya manusia ( si aku) sebagai entitas yang berpikir
merupakan kebenaran yang pasti dan tak terbantahkan yang menjadi landasan bagi
pemikiran dan pengetahuan manusia. Artinya jika keraguan mau dianggap sebagai
metode yang ilmiah, keraguan harus menjadi dasar dari pemikiran dan pengetahuan
manusia.
Bahwa
berfikir, akal budi, adalah unsur paling pokok pada manusia, sekaligus bagi
pengetahuan bagi manusia. Akal budi adalah landasan paling kokohdan paling
pokok dari pengetahuan manusia. Artinya, apa yang lolos dari seleksi akal budi
dapat diterima sebagai pengetahuan yang benar.
c) Beberapa
hal penting
Jadi kesimpulannya,
dapat dirumuskan beberapa hal penting mengenai rasionalisme ini.
Pertama, kaum rasionalis lebih mengandalkan geometri atau ilmu ukur dan
matematika, yang memiliki aksioma-aksioma umum lepas dari pengamatan atau
pengalaman pancaindra. Bagi kaum rasionalis, matematika dan ilmu ukur adalah
model bagi pengetahuan dan pemahaman manusia. Dengan kata lain, cara kerja ilmu
ukurdan matematika adalah bahwa kita bisa sampai pada pengetahuan yang dapat
diandalkan hanya dengan menggunakan akal budi kita. Karena itu mereka berpikir
dalam kerangka prinsip-prinsip pertama yang terbukti dengan sendirinya.
Kedua, konsekuensinya, kaum rasionalis meremehkan peran pengalaman dan
pengamatan pancaindra bagi pengetahuan. Oleh karena itu, pancaindra tak bisa
diandalkan untuk memberi kita pengetahuan yang bisa diandalkan. Artinya kalau
sekali pernah menipu seseorang, ia tidak boleh percaya begitu saja pada
pancaindra itu, dan sebaliknya harus selalu meragukan apa saja yang
ditangkapnya. Sebagaimana dikatakan Plato, yang ditangkap pancaindra hanyalah
dunia gejala, yang semu, yang tidak nyata dan tidak sempurna. Demikian pula,
pancaindra hanya memberi informasi tentang objek khusus tertentu yang terbatas,
dan karena itu tidak memungkinkan untuk bisa sampai pada pengetahuan yang
berlaku umum atau universal. Jadi, Pengetahuan yang sejati, umum, universal
hanya bisa ditemukan dalam dan dengan bantuan akal budi.
Karena kaum rasionalisme lebih mengandalakan ilmu ukur dan matematika, hanya
menerima metode deduktif. Dengan cara ini terjadi proses pengetahuan manusia
adalah bahwa manusia mendeduksikan, menurunkan, pengetahuan-pengetahuan
particular dari prinsip-prinsip umum atau pertama yang bersifat pasti dan
universal yang merupakan bawaan manusia dalam akal budinya jauh sebelum ia
mengalami apapun juga. Sepeti ilmu ukur Euklides milai dengan aksioma-aksioma
yang sudah terbukti benar dengan sendirinya, dan dari situ ditarik
teorema-teorema sedemikian rupa sehingga kebenaran aksioma menjamin kebenaran
teorema, demikian pula pengetahuan manusia secara keseluruha harus bertumpu
pada kebenaran –kebenaran tertentu yang sudah pasti dan terbukti benar dengan
sendirinya.
Bagi
kaum rasionalis, semua pengetahuan adalah pengetahuan apriori yang terutama
mengandalkan silogisme, karena manusia sudah memiliki pengetahuan itu sebelum
dan mendahului pengalaman. Bagi kaum rasionalis, data atau fakta tidak begitu
penting yang di tekankan adalah kemampuan akal budi manusia untuk menarik
kesimpulan dan prinsip umum tertentu yang sudah ada dalam benaknya. Oleh karena
itu, logika silogisme menjadi penting.
2. Empirisme
Seperti
halnya rasionalisme dan para filsuf rasionalis, empirisme dan juga para filsuf
empirisis, sesunggunya ingin menanggapi persoalan yang diajukan skeptisisme.
Kaum empirisis pun ingin mencari dasar yang kokoh, dasar pembenaran bagi
pengetahuan sejati dengan menvcari bukti yang kuat bagi pengetahuan yang benar,
berusaha menemukan pembenaran, atau pembuktian yang kokoh bagi pengetahuan
manusia dengan menuntut kepastian akan kebenaran pengetahuan manusia, dan
karena itu menolak pengetahuan yang tidak didasarkan pada bukti yang
menyakinkan.
Empirisisme
adalah paham filosofis yang mengatakan bahwa sumber satu-satunya bagi
pengetahuan manusia adalah pengalaman. Untuk bisa sampai pada pengetahuan yang
benar, menurutnya adalah data dan fakta yang ditangkap oleh pancaindra. Dengan
kata lain pengetahuan yang benar adalah yang diperoleh melalui pengalaman dan
pengamatan pancaindra, dengan sumber pengalaman dan pengamatan pancaindra
tersebut yang memberi data dan fakta bagi pengetahuan seseorang. Semua konsep
dan ide dianggap benar dengan sumber dari pengalaman seseorang dengan objek
yang ditangkap melalui pancaindra.
Atas dasar ini, semua
pengetahuan manusia bersifat empiris. Pengetahuan yang benar dan sejati, yaitu
pengetahuan yang pasti benar adalah pengetahuan indrawi, pengetahuan empiris.
Pengalaman yang
dimaksud adalah pengalaman yang terjadi melalui dan berkat bantuan pancaindra.
Pengalaman semacam ini berkaitan dengan data yang ditangkap melalui pancaindra,
khususnya yang bersifat spontan dan langsung.dengan kata lain bertujuan untuk
mengumpulkan fakta dan data itulah yang merupakan titik tolak dari pengetahuan
manusia karena pada dasarnya mengetahui tentang sesuatu hanya berdasarkan dan
hanya dengan titik tolak pengalaman indrawi.
Pancaindra memainkan
peranan penting dibandingkan dengan akal budi, karena : pertama, semua
proposisi yang diucapkan merupakan hasil laporan dari pengalaman atau
disimpilkan dari pengalaman. Kedua, seseorang tidak bisa punya konsep atau ide
apapun tentang sesuatu kecuali yang didasarkan pada apa yang diperoleh dari
pengalaman. Ketiga, akal budi hanya bisa berfungsi kalau punya acuan ke
realitas atau pengalaman.
pemikiran kaum
empirisis menurut John Locke dan David Hume :
a) John
Locke
Sebagaimana
dikatakan, John Locke, dalam bukunya An Essay Concerning Human
Understanding, ingin “mencari hal yang asli atau kepastian mengenai pengetahuan
manusia”karena semua konsep atau ide yang mengungkapkan pengetahuan manusia,
sesungguhnya berasal dari pengalaman manusia. Konsep atau ide-ide ini diperoleh
dari pancaindra atau dari refleksi atas apa yang diberikan oleh pancaindra.
Locke
beranggapan bahwa semua konsep, pemikiran dan ide kita bersumber dari apa yang
ditangkap melalui dan dengan pancaindra. Akal budi berada dalam keadaan kosong,
tanpa isi apapun. Akal budi seseorang hanya bisa mengetahui sesuatu karena
mendapat informasi yang diperoleh melalui pancaindra. Sebelum ada informasi
dari pancaindra, akal budi mirip dengan kertas yang belum ditulis apa-apa.
Locke
membedakan antara dua macam ide : ide sederhana dan ide-ide kompleks. Ide-ide
sederhana adalah ide yang ditangkap melalui penciuman, penglihatan, perabaan,
dan semacamnya. Pada saat indra mengenai sesuatu objek terasa manis, kasar,
hitam, besar kecil dan semacamnya. Tetapi, akal budi tidak hanya menerima
secara pasifkarena mengolah lebih lanjut ide-ide itu, dengan memikirkan,
meragukan, mempertanyakan, menggolongkan, dan mengolah. Dengan demikian
lahirlah refleksi. Refleksi inilah memungkinkan adanya ide-ide yang lebih
kompleks dari ide-ide sederhana.
Locke
mengatakan bahwa yang ditangkap secara langsung dari pancaindra hanyalah
ide-ide sederhana, kemudian terbentuklah ide kompleks. Ide-ide sederhana adalah
ide yang muncul dan disebabkan oleh benda-benda yang ditangkap dengan
pancaindra. Sedangkan ide-ide kompleks adalah hasil dari refleksi, hasil dari
olah piker akal budi.
Berbanding
terbalik sebagaimana dikatakan oleh kaum rasionalis, dimanah dalam hal ide-ide
sedehana sangat mungkin terjadi kekeliruan. Locke mengatakan bahwa tidak
mungkin terjadi karena jiwa, atau akal budi, manusia berada dalam, keadaan
kosong, hampa. Jadi tidak mungkin ada pengaruh subjekif yang membelokan apa
yang ditangkapnya, dan demikian mengecoh seseorang.
C.
Kebenaran
Ilmiah
A. Pandangan
Tentang Kebenaran Ilmiah
Manusia
sebagai subjek yang mengetahui hakikat kebenaran terhadap suatu
objek berkembang karena kreativitas menusia mencapai puncak pada zaman tertentu. MenurutSemiawan,
dkk (1999: 76), berpendapat bahwa setiap evolusi ilmu selalu dimulai
dengansuatu bahwa intelektual (intellectual exercise) oleh kelompok ilmuan
tertentu yangmenumbuhkan suatu gagasan baru kemudian berkembang menjadi suatu
konsep baru dankemnudia berkembang menajdi sutau konsep atau pola pengetahuan
baru yang sebelumnyatidak ada ataupun tidak diharapkan akan ada; suatu tindakan
kreatif yang bersumber darisuatu inovatif,bertolak dari masukan ilmu yang sudah
ada sebagai batu loncatan tranformasi fundamental”. Munculnya berbagai teori
ilmu (sciense) karena manusia dengan demensikreatifnya mencapai puncak
pembicaraan tentang apa yang disebut kebenaran ilmiah.Menurut Lincoln dan Cuba
(1985: 14) sebagaimana pendapat Julienne Ford
dalam Paradigms
and Fairy Tales (1975) yang mengemukakan bahwa istilah kebenaran
atau
truth (T) bisa memiliki
arti yang berbeda yang disimbolkan dengan T1, T2, T3, T4
(Supriadi,1998).Kebenaran pertama (T1) adalah kebenaran metafisik. Sesungguhnya
kebenaran initidak bisa diuji kebenarannya (baik melalui justifikasi maupun
falsifikasi/kritik) berdasarkannorma eksternal seperti kesesuaian dengan alam,
logika deduktif atau
standart-standart perilaku prosefional. Kebenaran metafisik merupakan kebenaran yang paling mendasar dan puncak dari seluruh kebenaran (basic,
ultimate truth), karena itu harus diterima apa adanya(given for granted).
Misalnya kebenaran Iman dan doktrin-doktrin absolut agamaKebenaran kedua (T2)
adalah kebenaran etik yang merujuk kepada perangkat standartmoral atau
profesioanl tentang perilaku yang pantas dilakukan, termasuk kode etik (code
ofconduct). Seseorang dikatakan benar ecara etik bila ia berperilaku sesuai
dengan
standart perilaku itu. Sumber T2 bisa dari T1 atau dari norma sosial budaya suatu kelompok
masyarakat atau komunitas profesi tertentu. Kebenaran ini ada yang mutlak (memenuhi
standar etika universal) dan ada pula yang relatif.Kebenaran ketiga (T3) adalah
suatu kebenaran logika. Sesuatu dianggap benar apabilasecara logik atau
matematis konsisten dan koheren dengan apa yang telah diakui sebagai benar, (dalam pengertian T3) atau sesuai dengan apa yang benar menurut kepercayaanmetafisik
(T1). Aksioma metafisik yang menyatakan bahwa sudut-sudut segitiga sama
sisimasing-masing 60 derajat, atau 1+1= 2, adalah contoh kebenaran logik. Peran
rasio ataulogika sanagt dominan dalam T3. Meskipun demikian, sebagaimana pada
bagian kebenaranT2, kebenarab ini tidak terlepas dari konsensus orang-orang
yang terlibat di dalamnya.Bahkan 1 + 1 = 2 pun pada dasarnya adalah hasil
konsensus, mengapa tidak 1 + 1 = 3? Tapikarena konsessus itu logis maka
diterima secara bersama.Kebenaran keempat (T4) adalah kebenaran empirik yang
lazimnya dipercayaimelandasi pekerjaan ilmuan dalam melakukan penelitian.
Sesuai (kepercayaan asumsi, dalil,hipotesis, proposisi ) dianggap benar apabila
konsisten dengan kenyataan alam, dalam artidapat diverifikasi, dijastifikasi
atau kritik. Dalam konteks ini, teori korespondensi anatarateori dengan fakta
antara pengetahuan a prioriti dengan pengetahuan a posteriori (demikianImmanuel
Kant menyebutnya), menjadi persoalan utama. Di antara ke
emapat kenis kebenaran menurut Ford di atas, maka dalam
kajianfilsafat ilmu kajian yang difokuskan adalah terhadap kebenaran empirik
(T4) yang di sebut juga kebenaran ilmiah, tentu saja dengan tidak
mengesampingkan kebenaran pertama, kedua,dan ketiga. Kebenaran ilmiah yang
melibatkan subjek (manusia, knower, observer) dengan objek (fakta, realitas,
dan known) maka ada tiga teori utama tentang kebenaran, yaitu:1. Korenpondensi,
2. Koherensi, dan
3. Pragmatisme
D.
Masalah
kepastian dan Falibilisme
Masalah Kepastian dan
Fabilisme Moderat
1. Masalah Kepastian
kebenaran Ilmiah
Ilmu pengetahuan tidak
akan pernah memberikan suatu formulasi final dan absolute tentang seluruh
universum. Pengakuan ini dalam filsafat ilmu pengetahuan disebut falibilisme.
Falibilisme tidak berarti bahwa ilmu pengetahuan salah sama sekali, melainkan
bahwa ilmuwan harus bersikap kritis terhadap apa yang sudah dicapainya.
2. Fabilisme dan Metode
Ilmu Pengetahuan
Falibilisme ilmu pengetahuan berasal dari dua sumber, yaitu sebagai konsekuensi
dari metode ilmu pengetahuan, dan dari objek ilmu pengetahuan yaitu universum
alam. Beberapa indikasi metodologis bisa dilihat sebagai alas an dari
falibilisme moderat ini.
1) Peneliti
sendiri tidak pernah merasa pasti dengan apa yang dicapainya sendiri
2) Fokus utama
dari kegiatan penelitian ilmiah adalah verifikasi atau hipotesis
3) Karena metode
induksi, seperti akan dibahas lebih lanjut, selalu tidak legkap
4) Setiap
hipotesis pada dasarnya tidak pasti.
Maka dengan keempat
alas an ini kita dapat mengatakan bahwa pengetahuan ilmiah itu tidak luput dari
kekeliruan dan selalu terbuka pada kritik dan perbaikan.
3. Falisme dan Objek
Ilmu Pengetahuan
Objek ilmu pengetahuan adalah peristiwa-peristiwa alam. Alam tidak berada dalam
kondisi statis, melainkan selalu mengalami evolusi. Karena itu selalu saja ada
hal yang baru dan tak terduga, bahkan oleh hukum ilmiah yang sudah ditemukan.
a. Realitas Objek
Ilmuawan yang baik adalah seorang realis yang tidak memandang konsep-konsep
ilmiahnya semata-mata sebagai hasil imajinasi tanpa hubungannya dengan dunia
nyata melainkan merupakan hasil dari pemikiran tentang dunia nyata. Objek ilmu
pengetahuan dapat dikatakan nyata atau real jika sekurang-kurangnya mengandung
tiga arti, yaitu sebagai berikut.
1) Yang nyata berarti
lepas dari pikiran manusia
2) Meskipun dunia real
yang dipelajari ilmu pengetahuan bebas dari pemikiran manusia, realitas itu
sendiri dapat dikatakan real jika memang dapat dikenal.
3) Realitas yang
dibicarakan ilmu pengetahuan adalah realitas public, realitas yang menjadi
perhatian banyak orang. Yang real berarti yang memiliki dimensi sosial.
Jika kebenaran pengetahuan ilmiah tidak dapat dilihat sebagai kenyataan public,
yang diterima dan didiskusikan public, maka pengetahuan akan menjadi pendapat
pribadi yang pada akhirnya bisa tidak dapat dipercaya oleh siapapun.
b. Evolusi objek
pengetahuan ilmiah
Pengertian mengenai evolusi objek menyangkut dua aspek, yaitu
1) Objek pengetahuan
ilmiah selalu berubah-ubah sehingga pengetahuan yang kita capai, sekalipun
sangat akurat, harus ditinjau kembali
2) Objek dari
pengetahuan kita selalu berkembang kepada regularitas.
Maka dengan dua alas an tersebut, pengetahuan kita selalu rentan terhadap kesalahan,
tetapi tetap ada harapan akan tercapainya suatu pemahaman yang lebih baik
tentang alam semesta, asalkan penelitian terus dilakukan dari generasi ke
generasi. Jika penelitian berhenti maka dua akibat dapat terjadi, yaitu :
1) ilmu tidak lagi
menjelaskan realitas yang sesungguhnya karena realitas selalu berubah
2) ilmu pengetahuan
memutuskan hubungannya dengan realitas yang semakin lama semakin terbuka untuk
diketahui.
Ilmu Teknologi dan
Budaya
A. Pengertian
Ilmu, Teknologi, Dan Kebudayaan
1. Pengertian
Ilmu
Ada orang yang
menamakannya ilmu, ada yang menamainya ilmu pengetahuan, dan pula ada yang
menyebutnya sains. Keberagaman istilah tersebut adalah suatu usaha untuk
melahirkan padanan (meng-Indonesiakan) kata science yang asalnya dari
bahasa Inggris. Pengertian yang terkandung dibalik kata-kata yang berbeda
tersebut ternyata juga tidak kalah serba ragamnya. Keberagamannya bahkan
kadang-kadang seolah-olah mengingkari citra ilmu pengetahuan itu sendiri yang
pada dasarnya bertujuan untuk merumuskan sesuatu dengan tepat, tunggal.
Menurut
Kamus Besar Bahasa Indonesia[4] ilmu artinya
adalah pengetahuan atau kepandaian. Dari penjelasan dan beberapa
contohnya, maka yang dimaksud pengetahuan atau kepandaian tersebut tidak saja
berkenaan dengan masalah keadaan alam, tapi juga termasuk “kebatinan” dan
persoalan-persoalan lainnya. Sebagaimana yang sudah kita kenal mengenai
beberapa macam nama ilmu, maka tampak dengan jelas bahwa cakupan ilmu sangatlah
luas, misalnya ilmu ukur, ilmu bumi, ilmu dagang, ilmu hitung, ilmu silat, ilmu
tauhid, ilmu mantek, ilmu batin (kebatinan), ilmu hitam, dan sebagainya.
Ilmu adalah
seluruh usaha sadar untuk menyelidiki, menemukan, dan meningkatkan
pemahaman manusia dari
berbagai segi kenyataan dalam alam manusia[5]. Segi-segi ini
dibatasi agar dihasilkan rumusan-rumusan yang pasti. Ilmu memberikan kepastian
dengan membatasi lingkup pandangannya, dan kepastian ilmu-ilmu diperoleh dari
keterbatasannya[6].
Ilmu
bukan sekadar pengetahuan (knowledge),
tetapi merangkum sekumpulan pengetahuan berdasarkan teori-teori
yang disepakati dan dapat secara sistematik diuji dengan seperangkat metode yang
diakui dalam bidang ilmu tertentu. Dipandang dari sudut filsafat, ilmu
terbentuk karena manusia berusaha berfikir lebih jauh mengenai pengetahuan yang
dimilikinya. Ilmu pengetahuan adalah produk dariepistemologi.
Secara
bahasa, kata ilmu dalam bahasa Arab berasal dari kata “ilm”[7] yang
berarti memahami, mengerti, atau mengetahui. Dalam kaitan penyerapan katanya,
ilmu pengetahuan dapat berarti memahami suatu pengetahuan, dan ilmu sosial dapat
berarti mengetahui masalah-masalah sosial, dan sebagainya.
Kata
ilmu sudah digunakan masyarakat sejak ratusan tahun yang lalu. Di Indonesia,
bahkan sebelum ada kata ilmu sudah dikenal kata-kata lain yang maksudnya sama,
misalnya kepandaian, kecakapan, pengetahuan, ajaran, kawruh, pangrawuh,
kawikihan, jnana, widya, parujnana, dan lain-lain. Sejak lebih dari seribu
tahun yang lampau nenek moyang bangsa kita telah menghasilkan banyak macam
ilmu, contohnya kalpasastra (ilmu farmasi), supakasastra (ilmu tataboga),
jyotisa (ilmu perbintangan), wedastra (ilmu olah senjata), yudanegara atau niti
(ilmu politik), wagmika (ilmu pidato), sandisutra (sexiology), dharmawidi (ilmu
keadilan), dan masih banyak lagi yang lainnya.
Ada
yang mencoba membedakan antara pengetahuan (knowledge) dan ilmu
(science). Pengetahuan diartikan hanyalah sekadar “tahu”, yaitu hasil
tahu dari usaha manusia untuk menjawab pertanyaan “what”, misalnya apa batu,
apa gunung, apa air, dan sebagainya. Sedangkan ilmu bukan hanya
sekadar dapat menjawab “apa” tetapi akan dapat menjawab “mengapa” dan
“bagaimana” (why dan how)., misalnya mengapa batu banyak macamnya,
mengapa gunung dapat meletus, mengapa es mengapung dalam air.
Pengetahuan
dapat dikembangkan lebih lanjut menjadi ilmu apabila memenuhi tiga kriteria,
yaitu obyek kajian, metoda pendekatan dan bersifat universal.
Adapun difinisi ilmu
menurut para ahli[8] diantaranya
sebagai berikut:
Ø Mohammad
Hatta, mendifinisikan ilmu adalah pengetahuan yang teratur tentang pekerjaan
hukum kausal dalam suatu golongan masalah yang sama tabiatnya, maupun menurut
kdudukannya tampak dari luar, amupun menurut hubungannya dari dalam
Ø Ralp Ross
dan Ernest Van Den Haag, mengatakan ilmu adalah yang empiris, rasional, umum
dan sistematik, dan keempatnya serentak
Ø Karl
Pearson, mengatakan ilmu adalah lukisan atau keterangan yang komprehensif dan
konsisten tentang fakta pengalaman dengan istilah sederhana
Ø Ashely Montagu,
Guru Besar Antropolo di Rutgers University menyimpulkan bahwa ilmu adalah
pengetahuan yang disususn dalam satu system yang berasal dari pengamatan, studi
dan percobaan untuk menetukan hakikat prinsip tentang hal yang sedang dikaji.
Ø Harsojo,
Guru Besar antropolog di Universitas Pajajaran, menerangkan bahwa ilmu adalah
· Merupakan
akumulasi pengetahuan yang disistematisasikan.
· Merupakan
suatu pendekatan atau mmetode pendekatan terhadap seluruh dunia empirisyaitu
dunia yang terikat oleh factor ruang dan waktu yang pada prinsipnya dapat
diamati panca indera manusia.
· Merupakan
suatu cara menganlisis yang mengizinkan kepada ahli-ahlinya untuk menyatakan
suatu proposisi dalam bentuk: “jika,….maka…”
Ø Afanasyef,
seorang pemikir Marxist bangsa Rusia mendefinisikan ilmu adalah pengetahuan
manusia tentang alam, masyarakat, dan pikiran. Ia mencerminkan alam dan
konsep-konsep, kategori dan hukum-hukum, yang ketetapnnya dan kebenarannya
diuji dengan pengalaman praktis.
Ada persyaratan ilmiah sesuatu
dapat disebut sebagai ilmu[9]. Adapun
syarat-syarat ilmu, diantaranya:
a. Objektif.
Ilmu harus memiliki objek kajian yang terdiri dari satu golongan masalah yang
sama sifat hakikatnya, tampak dari luar maupun bentuknya dari dalam. Objeknya
dapat bersifat ada, atau mungkin ada karena masih harus diuji keberadaannya.
Dalam mengkaji objek, yang dicari adalah kebenaran, yakni persesuaian antara
tahu dengan objek, sehingga disebut kebenaran objektif; bukan subjektif
berdasarkan subjek peneliti atau subjek penunjang penelitian.
b. Metodis adalah
upaya-upaya yang dilakukan untuk meminimalisasi kemungkinan terjadinya
penyimpangan dalam mencari kebenaran. Konsekuensinya, harus ada cara tertentu
untuk menjamin kepastian kebenaran. Metodis berasal dari bahasa Yunani
“Metodos” yang berarti: cara, jalan. Secara umum metodis berarti metode
tertentu yang digunakan dan umumnya merujuk pada metode ilmiah.
c. Sistematis.
Dalam perjalanannya mencoba mengetahui dan menjelaskan suatu objek, ilmu harus
terurai dan terumuskan dalam hubungan yang teratur dan logis sehingga membentuk
suatu sistem yang berarti secara utuh, menyeluruh, terpadu, dan mampu
menjelaskan rangkaian sebab akibat menyangkut objeknya. Pengetahuan yang
tersusun secara sistematis dalam rangkaian sebab akibat merupakan syarat ilmu
yang ketiga.
d. Universal.
Kebenaran yang hendak dicapai adalah kebenaran universal yang bersifat umum
(tidak bersifat tertentu). Contoh: semua segitiga bersudut 180º. Karenanya
universal merupakan syarat ilmu yang keempat. Belakangan ilmu-ilmu sosial
menyadari kadar ke-umum-an (universal) yang dikandungnya berbeda dengan
ilmu-ilmu alam mengingat objeknya adalah tindakan manusia. Karena itu untuk
mencapai tingkat universalitas dalam ilmu-ilmu sosial, harus tersedia konteks
dan tertentu pula.
2. Pengertian
Teknologi
Teknologi
bagi kita merupakan pengetahuan terhadap penggunaan alat dan kerajinan, dan
bagaimana hal tersebut mempengaruhi kemampuan untuk mengontrol dan beradaptasi
dengan lingkungan alamnya. Kata teknologi berasal dari bahasa Yunani
technología‐techne, yang berarti serangkaian
prinsip atau metode rasionalyang
berkaitan dengan pembuatan suatu objek, atau kecakapan tertentu, atau
pengetahuan tentang prinsip-prinsip atau metode dan seni[10].
Istilah teknologi sendiri untuk pertama kali dipakai oleh Philips pada tahun
1706 dalam sebuah buku berjudul Teknologi: Diskripsi Tentang Seni-Seni,
Khususnya Mesin (Technology:
A Description Of The Arts, Especially The Mechanical)[11]. Teknologi
juga dapat diartikan benda‐benda yang
berguna bagi manusia, seperti mesin, tetapi dapat juga mencakup hal yang lebih
luas, termasuk sistem, metode organisasi, dan teknik. Istilah ini dapat
diterapkan secara umum atau spesifik: contoh‐contoh
mencakup "teknologi konstruksi", "teknologi medis", atau
"state‐of‐the‐art
teknologi".
Teknologi adalah
metode ilmiah untuk mencapai tujuan praktis, ilmu pengetahuan terapan atau
dapat pula diterjemahkan sebagai keseluruhan sarana untuk menyediakan
barang-barang yang diperlukan bagi kelangsungan dan kenyamanan hidup manusia[12].
Kita
menggunakan teknologi dimulai dengan konversi sumber daya alam menjadi
peralatan sederhana. Penemuan yang prasejarah kemampuan untuk mengendalikan api
sehingga dapat mengolah makanan dan penemuan roda membantu manusia dalam
perjalanan di dalam dan mengendalikan lingkungan mereka. Perkembangan teknologi
terbaru, termasuk mesin cetak, telepon, dan Internet, mengatasi hambatan fisik
untuk komunikasi dan memungkinkan manusia untuk berinteraksi dengan bebas pada
skala global atau luas. Namun, tidak semua teknologi ini telah digunakan untuk
tujuan damai; pengembangan senjata yang semakin meningkat kekuatan destruktif
telah berkembang sepanjang sejarah, dari klub untuk senjata nuklir.
Teknologi
telah mempengaruhi masyarakat dan sekitarnya dalam beberapa cara. Dalam
masyarakat, teknologi telah membantu mengembangkan ekonomi yang lebih maju
(termasuk ekonomi global saat ini). Tetapi banyak proses‐proses
teknologi juga menghasilkan produk yang tidak diinginkan atau mengakibatkan
sesuatu hal, contohnya polusi, dan menguras sumber daya alam, dengan merusak
bumi dan lingkungannya. Berbagai implementasi teknologi mempengaruhi nilai‐nilai
masyarakat dan teknologi baru sering menimbulkan pertanyaan‐pertanyaan
etika baru. Contohnya meliputi munculnya gagasan tentang efisiensi dalam hal
produktivitas manusia, istilah yang awalnya hanya berlaku bagi mesin, dan
tantangan dari norma‐norma tradisional.
Dalam
memasuki Era Industrialisasi,
pencapaiannya sangat ditentukan oleh penguasaan teknologi karena teknologi
merupakan mesin penggerak pertumbuhan melalui industri[13].
Oleh sebab itu, tepat momentumnya jika
kita merenungkan masalah teknologi,menginventarisasi yang
kita miliki, memperkirakan apa yang ingin kita capai dan bagaimana caranya
memperoleh teknologi yang kita perlukan itu, serta mengamati betapa besar
dampaknya terhadap transformasibudaya
kita[14].
Sebagian
dari kita beranggapan bahwa teknologi adalah barang atau sesuatu yang
baru[15],
padahal kalau kita membaca sejarah, teknologi itu telah berumur sangat panjang
dan merupakan suatu gejala kontemporer[16].
Setiap zaman memiliki teknologinya sendiri[17].Sejarah Perkembangan
teknologi berlangsung secara evolutif[18].
Sejak zaman Romawi Kuno pemikiran dan hasil kebudayaan telah
nampakberorientasi menuju
bidang teknologi[19].
Dalam bentuk yang paling sederhana, kemajuan teknologi dihasilkan dari
pengembangan cara-cara lama atau penemuan metode baru dalam
menyelesaikan tugas-tugastradisional seperti bercocok
tanam, membuat baju, atau membangun rumah[20]
Ø Kemajuan
teknologi yang bersifat netral (bahasa
Inggris:neutral technological progress)
Terjadi bila tingkat pengeluaran (output) lebih tinggi dicapai dengan kuantitas dan kombinasi faktor-faktor pemasukan (input) yang sama.
Terjadi bila tingkat pengeluaran (output) lebih tinggi dicapai dengan kuantitas dan kombinasi faktor-faktor pemasukan (input) yang sama.
Ø Kemajuan
teknologi yang terjadi sejak akhir abad kesembilan belas banyak ditandai oleh
meningkatnya secara cepat teknologi yang hemat tenaga kerja dalam memproduksi
sesuatu mulai dari kacang-kacangan sampai sepeda hingga jembatan.
Ø Kemajuan
teknologi yang hemat modal (bahasa
Inggris:capital-saving technological progress) Fenomena
yang relatif langka. Hal ini terutama disebabkan karena hampir semua riset
teknologi dan ilmu pengetahuan di dunia dilakukan di negara-negara maju, yang
lebih ditujukan untuk menghemat tenaga kerja, bukan modalnya.
Pengalaman
di berbagai negara berkembang menunjukan
bahwa campur tangan langsung secara berlebihan, terutama berupa peraturan pemerintah yang
terlampau ketat, dalam pasar teknologi asing justru menghambat arus teknologi asing
ke negara-negara berkembang[22].
Di
lain pihak suatu kebijaksanaan 'pintu yang lama sekali terbuka' terhadap arus
teknologi asing, terutama dalam bentuk Penanaman Modal Asing (PMA),
justru menghambat kemandirian yang lebih besar dalam proses pengembangan
kemampuan teknologi negara berkembang karena ketergantungan yang terlampau
besar pada pihak investor asing,
karena merekalah yang melakukan segala upaya teknologi yang sulit dan rumit[23].
3. Pengertian
Kebudayaan
Budaya adalah
suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok
orang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya terbentuk dari
banyak unsur yang rumit, termasuksistem agama dan politik,
adat istiadat, bahasa,
perkakas, pakaian,bangunan,
dan karya seni.
Budaya adalah suatu pola hidup menyeluruh. budaya bersifat kompleks, abstrak,
dan luas. Banyak aspek budaya turut menentukan perilaku komunikatif.
Unsur-unsur sosio-budaya ini tersebar dan meliputi banyak kegiatan sosial
manusia[24].
Beberapa
alasan mengapa orang mengalami kesulitan ketika berkomunikasi dengan orang dari
budaya lain terlihat dalam definisi budaya: Budaya adalah suatu perangkat
rumit nilai-nilai yang dipolarisasikan oleh suatu citra yang mengandung
pandangan atas keistimewaannya sendiri."Citra yang memaksa" itu
mengambil bentuk-bentuk berbeda dalam berbagai budaya seperti
"individualisme kasar" di Amerika,
"keselarasan individu dengan alam"
d Jepang dan
"kepatuhan kolektif" di Cina.
Citra
budaya yang bersifat memaksa tersebut membekali anggota-anggotanya dengan
pedoman mengenai perilaku yang layak dan menetapkan dunia makna dan
nilai logis yang
dapat dipinjam anggota-anggotanya yang paling bersahaja untuk memperoleh rasa
bermartabat dan pertalian dengan hidup mereka.
Dengan
demikian, budayalah yang menyediakan suatu kerangka yang koheren untuk mengorganisasikan
aktivitas seseorang dan memungkinkannya meramalkan perilaku orang lain.
Asal
kata “kebudayaan” adalah cultuur (dalam bahasa Belanda), culture (dalam bahasa
Inggris), colere (dalam bahasa latin) yang berarti mengolah, mengerjakan,
menyuburkan, dan mengembangkan terutama mengolah tanah atau bertani. Dari segi
arti ini berkembanglah arti culture sebagai segala daya dan aktivitas manusia
untuk mengubah alam.
Dalam
bahasa Indonesia, kebudayaan berasal dari bahasa Sansakerta “buddhayah”, yaitu
bentuk jamak dari buddhi yang artinya budi atau akal. Ada juga yang berpendapat
bahwa kebudayaan adalah sebagai suatu perkembangan dari kata majemuk budi daya,
yang berarti daya dari budi. Budaya adalah daya dari budi yang berupa cipta,
karsa, dan rasa, sedangkan kebudayaan adalah hasil dari cipta, karsa, dan rasa
tersebut[
Elwood
menyatakan bahwa kebudayaan itu mencakup benda-benda material dan spiritual,
yang pada kedua-duanya diperoleh dalam interaksi kelompok atau dipelajari dalam
bentuk kelompok. Kebudayaan mencakup kekuatan untuk menguasai alam dan dirinya
sendiri
Dalam
Oxford Advanced Learners’s Dictionary of Current English, diuraikan bahwa kata
kebudayaan semakna dengan culture yang memiliki pengertian beragam, sebagai berikut:
a. Advanced
development of the human powers: development of the body, maind and spirit by
training and experience;
b. Evidence
of intellectual development (of arts, science, ets) in human society;
c. State
of intellectual development among a people;
d. All
the arts, beliefs, social institutions, ets characteristic of a community,
race;
e. Cultivating;
the rearing of bees, silkworms,
f. (biol)
growth of bacteria (for medical or scientific study)
Pengertian
culture di atas dapat dipahami bahwa kebudayaan adalah pembangunan yang
didasarkan pada kekuatan manusia, baik pembangunan jiwa, pikiran, dan semangat
melalui latihan dan pengalaman; bukti nyata pembangunan intelektual, seperti
seni dan pengetahuan; atau pembangunan intelektual diantara budaya orang; bahwa
kebudayaan adalah semua seni, kepercayaan institusi sosial, seperti
karakteristik masyarakat,suku, dan sebagainya; mengolah pertanian sampai pada
tingkat teknologi biologi bakteri.
Sekilas pengertian
kebudayaan diatas tidak secara sistematik dan teknis. Pengertian secara
komprehensif dapat dilihat dari dua berikut ini.
Buku The
World University Encyclopediamenjelaskan bahwa culture adalaha the world
of life of a socisty. It is the totality of the spiritual, intellectual, and
artistic attitudes shared by a group, including its tradition, habits, social
customs, morals, laws, and social relations. Yang artinya kebudayaan adalah
pandangan hidup masyarakat, ia adalah totalitas spiritual, intelektual, dan
sikap artistik yang dibentuk oleh masyarakat, termasuk tradisi, kebiasaan,
adat, moral, hukum, dan hubungan sosial[29].
Buku The
World Book Encyclopedia menjelaskan secara rinci dan sistematik dibandig
kamus Oxford, bahwa kebudayaan adalah all distinctively human
activities, and includes achievements in every field, which man passes on from
one generation to the next. Culture means such activities as using a language,
getting wared, briging up children, earning a living, running a goverment,
fighting a war, and taking part in religious ceremonies. Artinya semua
aktivitas manusia yang nyata termasuk dalam berbagai bidang, yang berlangsung
dari satu generasi manusia ke generasi berikutnya. Kebudayaan bermakna berbagai
kegiatan yang menggunakan bahasa, menikah, membesarkan anak-anak, mencari
nafkah, menjalankan peerintahan, berjuang dalam perang, dan ikut serta dalam
berbagai kegiatan keagamaan[30].
Adapun kebudayaan dalam arti sempit adalah the sum total of the ways of life of
a group of people (serangkaian cara hidup dari komunitas masyarakat)[31].
Dalam
tulian Jaih Mubarok, definisi kebudayaan diantara yang terbaik sebagaimana yang
dibuat oleh E.B. Tayor bahwa budaya adalah that complex whole which
includes knowledge, belief, art, morals, laws, custom, and any other
capabilities and habits acquired by man as a member of society, yaitu
keseluruhan yang kompleks yang meliputi pengetahuan, kepercayaan, seni, moral,
hukum, adat, serta kemampuan dan kebiasaan lain yang diperoleh manusia sebagai
bagaian dari masyarakat[32].
Secara singkat dan
sederhana, sebagaimana dipahami secara umum, kebudayaan adalah semua hasil
karya, rasa, dan cipta masyarakat[33].
Karya masyarakat
menghasilkan teknologi dan kebudyaan kebendaaan (material culture) yang
diperlukan manusia untuk menguasai alam sekitarnya, agar kekuatan serta
hasilnya dapat digunakan untuk keperluan masyarakat. Rasa yang meliputi jiwa
manusia, mewujudkan segala kaidah dan nilai-nilai sosial yang perlu untuk
mengatur masalah-masalah kemasyarakatan dalam arti luas. Agama, ideologi,
kebatinan, dan kesenian yang merupakan hasil eksplisit jiwa manusia yang hidup
sebagai anggota masyarakat, termasuk didalamnya.
Cipta
merupakan kemampuan mental, kemampuan berpikir orag-orang yang hidup
bermasyarakat, antara lain menghasilkan filsafat serta ilmu pengetahuan. Cipta
bisa berbentuk teori murni dan buisa juga telah disusun sehingga dapat langsung
diamalkan oleh masyarakat. Semua karya, rasa, dan cipta, dikuasai oleh karsa
orang-orang yang menentukan kegunaannya agar seseuai dengan kepentingan
sebagaian besar atau seluruh masyarakat[34].
Perwujudan
dari kebudayaan adalah benda-benda yang diciptakan oleh manusia sebagai makhluk
yang berbudaya, berupa perilaku dan benda-benda yang bersifat nyata, misalnya
pola-pola perilaku, bahasa, peralatan hidup, organisasi sosial, religi, seni,
dan lain-lain, yang kesemuanya ditujukan untuk membantu manusia dalam melangsungkan
kehidupan bermasyarakat.
B. Hubungan
Antara Ilmu Dan Teknologi
Ilmu
memegang peranan penting bagi negara-negara berkembang dalam proses peningkatan
standar hidup, kesejahteraan, dan melindungi sumber daya alam dan
keanekaragaman hayati. Negara-negara berkembang menghadapi berbagai tantangan
jangka pendek dan jangka panjang. Perubahan penggunaan lahan melalui
penggundulan hutan dan perubahan lahan pertanian akibat aktivitas sosio-ekonomi
di daerah tangkapan air di hulu, telah menyebabkan terjadinya berbagai
kerusakan lingkungan dan infrastruktur akibat bencana yang ditimbulkannya.
Kerusakan lingkungan di daerah tangkapan air, menyebabkan kelangkaan air bersih
di berbagai negara, selain bencana banjir ketika musim penghujan.
Komunikasi
ilmu terhadap masyarakat dan pemahaman masyarakat terhadap ilmu merupakan
subyek riset yang relatif baru di lingkungan akademis, namun berkembang untuk
dipelajari lebih lanjut untuk mendukung proses pengambilan kebijakan publik.
Pemahaman yang baik terhadap dinamika kompleksitas ilmu dan interaksi ilmu
dengan masyarakat, berguna dalam peningkatan aksesibilitas masyarakat terhadap
ilmu dan akhirnya berkembang menjadi suatu sistem pengelolaan dan kontrol
sosial masyarakat terhadap ilmu.
Dalam
komunikasi ilmu, perangkat komunikasi atau penyampai informasi yang digunakan
akan disesuaikan untuk menciptakan jaminan terjadinya pemahaman dan penerimaan
masyarakat awam terhadap ilmu. Sedangkan aspek ketiga adalah aspek kreativitas,
yang membantu perkembangan kecerdasan dan kapabilitas masyarakat sehingga
menghasilkan kemampuan dalam mengintegrasikan ilmu ke kehidupan sehari-hari.
Ilmu
memainkan peran penting sebagai sebuah agen pembaharu di masyarakat. Sebagai
bangsa yang bergerak ke arah ekonomi berbasis pengetahuan, dibandingkan ekonomi
berbasis sumber daya alam sesuai dengan paradigma tekno-ekonomi, ilmu menjadi
landasan keberhasilan pembangunan ekonomi yang didukung oleh kapasitas dan
kapabilitas sumber daya manusia yang kompetitif.
Ilmu, dan teknologi
memiliki kaitan struktur yang jelas. Ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan
dua hal yang tak terpisahkan dalam peranannya untuk memenuhi kebutuhan insani.
Ilmu pengetahuan digunakan untuk mengetahui “apa” sedangkan teknologi
mengetahui “bagaimana”. Ilmu pengetahuan sebagai suatu badan pengetahuan
sedangkan teknologi sebagai seni yang berhubungan dengan proses produksi,
berkaitan dalam suatu sistem yang saling berinteraksi. Teknologi merupakan
penerapan ilmu pengetahuan, sementara teknologi mengandung ilmu pengetahuan di
dalamnya.
Ilmu
dan teknologi dalam penerapannya, keduanya menghasilkan suatu kehidupan di
dunia (satu dunia), yang diantaranya membawa malapetaka yang belum pernah
dibayangkan. Oleh karena itu, ketika manusia sudah mampu membedakan ilmu
pengetahuan (kebenaran) dengan etika (kebaikan), maka kita tidak dapat netral
dan bersikap netral terhadap penyelidikan ilmiah. Sehingga dalam penerapan atau
mengambil keputusan terhadap sikap ilmiah dan teknologi, terlebih dahulu
mendapat pertimbangan moral dan ajaran agama.
Ilmu pengetahuan
mendorong teknologi, teknologi mendorong penelitian, penelitian yang
menghasilkan ilmu pengetahuan baru. Ilmu pengetahuan baru mendorong teknologi
baru.
C. Hubungan
Antara Ilmu Dan Kebudayaan
Dalam
unsur budaya terdapat adanya sistem pengetahuan, dimana ilmu dan teknologi
termasuk di dalamnya. Dengan demikian ilmu itu sendiri merupakan bagian dari
budaya. Ilmu dan budaya mempunyai hubungan yang saling mempengaruhi dan saling
tergantung. Pada satu pihak perkembangan ilmu dalam satu masyarakat tergantung
dari kondisi budaya masyarakat tesebut, dan juga perkembangan ilmu akan
mempengaruhi berkembangnya budaya masyarakat. Sumbangan ilmu terhadap budaya
adalah pada nilai yang terkandung dalam ilmu, yakni tentang etika, estetika dan
logika.. Ilmu merupakan sumber nilai dan tata hidup, baik bagi perkembangan
kepribadian secara individual maupun pengembangan masyarakat secara
keseluruhan. Selain itu menurut Rene Dubos dalam bukunya Reasong Awake :
Science for man, ilmu turut membentuk profil budaya bukan saja lewat
aspek-aspek teknisnya, melainkan juga dengan jalan memberikan
pandangan-pandangan baru yang membuahkan sikap yang baru.
Contohnya
adalah dalam masyarakat pedalaman, budaya yang berkembang adalah budaya
agraris. Adapun ilmu yang berkembang adalah ilmu pertanian. Ilmu pertanian ini
memberikan pandangan-pandangan baru terhadap budaya, misalnya ritual-ritual
khusus menjelang panen, mata pencaharian sebagai petani, alat-alat pertanian
dan lain-lain. Pola Hubungan Ilmu dan budaya dan Teknologi antara ilmu dan
budaya keduanya memiliki keterkaitan karena kedua-duanya saling mempengaruhi.
Keduanya juga memiliki kaitan erat dengan manusia, karena manusia inilah yang
membentuk budaya, merumuskan ilmu dan menciptakan teknologi, serta
mengembangkan kedua-duanya, karena manusia mempunyai akal dan bahasa.
Jadi,
antara ilmu dan budaya keduanya memiliki keterkaitan. Hubungan antara ilmu, dan
budaya adalah saling mempengeruhi. Budaya mempenagruhi Ilmu dan budaya, ilmu
memepengaruhi budaya mempengaruhi ilmu dan budaya. Ilmu dan budaya semuanya
dikembangkan manusia. Ilmu dirumuskan manusia, budaya dibentuk manusia. Dan
juga keduanya memberikan sumbangan terhadap manusia.
D. Hubungan
Teknologi Dan Kebudayaan
Teknologi merupakan
salah satu komponen kebudayaan. Teknologi menyangkut cara-cara atau teknik
memproduksi, memakai, serta memelihara segala peralatan dan perlengkapan.
Teknologi muncul dalam cara-cara manusia mengorganisasikan masyarakat, dalam
cara-cara mengekspresikan rasa keindahan, atau dalam memproduksi hasil-hasil
kesenian.
Masyarakat kecil yang
berpindah-pindah atau masyarakat pedesaan yang hidup dari pertanian paling
sedikit mengenal delapan macam teknologi tradisional (disebut juga sistem
peralatan dan unsur kebudayaan fisik), yaitu:
a. Alat-alat
produktif
b. Senjata
c. Wadah
d. Alat-alat
menyalakan api
e. Makanan
f. Pakaian
g. Tempat
berlindung dan perumahan
h. Alat-alat
transportasi
Dengan
semakin majunya perkembangan teknologi, maka hal tersebut akan berdampak pada
perubahan kebudayaan. Dampak tersebut diantaranya adalah:
Ø Perubahan
Sosial Budaya
Perubahan
sosial budaya adalah sebuah gejala berubahnya struktur sosial dan pola budaya
dalam suatu masyarakat. Perubahan sosial budaya merupakan gejala umum yang
terjadi sepanjang masa dalam setiap masyarakat. Perubahan itu terjadi sesuai
dengan hakikat dan sifat dasar manusia yang selalu ingin mengadakan perubahan.
Seiring dengan kemajuan teknologi, sebuah budaya dapat terpengaruh dan pada
akhirnya terjadi perubahan budaya.
Ø Penetrasi
Kebudayaan
Yang
dimaksud dengan penetrasi kebudayaan adalah masuknya pengaruh suatu kebudayaan
ke kebudayaan lainnya. Dengan semakin pesatnya perkembangan teknologi dapat
membuat masuknya kebudayaan lain.
Oleh
karena itu, keberadaan budaya harus kita junjung tinggi sebagai tanda
penghormatan kepada para leluhur kita dengan tetap melestarikannya, jangan
hanya karena kemajuan teknologi yang semakin pesat membuat kita melupakan
kebudayaan yang sudah susah payah dijaga. Sebagai generasi muda marilah kita
menjaga warisan leluhur yang salah satunya adalah kebudayaan yang beragam.
E.
Etika
Keilmuan
E.1 Etika Keilmuwan
Istilah etika keilmuwan
mengantarkan kita pada kontemplasi mendalam, baik mengenai hakekat, proses
pembentukan, lembaga yang memproduksi ilmu lingkungan yang kondusif dalam
pengembangan ilmu, maupun moralitas dalam memperoleh dan mendayagunakan ilmu
tersebut. Oleh karena itu, ada beberapa hal yang mesti diperhatikan.
E..1.1 Etika
Menurut Kamus Besar
Bahasa Indonesia (KBBI) edis ketiga (2005:309), etika adalah ilmu tentang apa
yang baik dan apa yang buruk serta tentang hak dan kewajiban moral. Moral yang
dimaksudkan di sini adalah akhlak, yakni budi pekerti atau kelakuan makhluk
hidup. Sementara itu, dalamwikipedia.com disebutkan bahwa etika itu
membahas tentang perilaku menuju kehidupan yang baik, yang di dalamnya ada
aspek kebenaran, tanggung jawab, peran, dan sebagainya.
Dapat diketahui bahwa
persoalan etika tidak terlepas dari pengetahuan tentang manusia sebagai makhluk
hidup yang sempurna. Jika kembali kepada kata muasalnya, etika berasal dari
bahasa Yunani; ethos, yang artinya kebiasaan (perbuatan), tetapi bukan adat,
melainkan adab.
E.1.2 Moral
Kata moral diidentikkan
pada suatu tindakan manusia yang bercorak khusus, yaitu didasarkan kepada
pengertian mengenai baik-buruk. Berbicara tentang moral seseorang sama dengan
membicarakan tentang kepribadian seseorang dimaksud. Karena itu, sesungguhnya
moral telah membuat posisi manusia berbeda (terhormat) dengan makhluk Tuhan
lainnya.
KBBI membuat dua pandangan tentang pengertian moral.
Pertama, sebagai ajaran tentang baik-buruk yang diterima akibat perbuatan,
sikap, kewajiban, dan sebagainya oleh manusia. Kedua, kondisi mental yang
mebuat orang tetap berani, bergairah, berdisiplin, dan sebagainya, yang
berpangkal pada isi hati atau keadaan perasaan sebagaimana terungkap dalam
perbuatan (KBBI, 2005:6-7).
E.1.3 Norma
Norma adalah aturan
atau ketentuan yang mengikat warga kelompok di masyarakat, dipakai sebagai
panduan, tatanan, dan pengendali tingkah laku yang sesuai dan berterima. Norma
juga dapat disebutkan sebagai ukuran atau kaedah yang menjadi tolok ukur untuk
menilai atau memperbandingkan sesuatu (KBBI, 2005:787). Misalnya, setiap
masyarakat harus menaati …. yang berlaku.
E.1.4 Kesusilaan
Kesusilaan atau susila
merupakan bagian kecil dari norma sehingga kita mengenal nama norma susila,
yaitu aturan yang menata tindakan manusia dalam pergaulan sosial sehari-hari,
seperti pergaulan antara pria dan wanita. Kesusilaan dapat pula menjadi bagian
dari adab dan sopan santun (KBBI, 2005: 787 dan 1110).
Di samping empat hal di atas, tinjauan filsafat juga
mesti memiliki estetika, yakni mengenai keindahan dan implementasinya dalam
kehidupan. Dari estetika lahirlah berbagai macam teori mengenai kesenian atau
aspek seni dari berbagai macam hasil budaya.
E.2 Problematika Keilmuwan
Cabang ilmu yang
mencakup pengetahun tentang baik-buruk dan pengetahuan tentang indah-jelek
merupakan kombinasi antara dua kategori pengetahuan, yaitu ilmu yang berbasis
pada logika dan etika atau moralitas yang mempersoalkan baik dan buruk.
Berbicara keilmuwan
berarti bicara mengenai orang dan lembaga tentang disiplin ilmu tertentu.
Lembaga itu secara umum dapat dilihat pada perguruan tinggi dan lembaga-lembaga
riset lainnya.
Sejak lama disadari
bahwa keberadaan perguruan tinggi dan lembaga-lembaga riset menempati kedudukan
yang strategis untuk bertindak sebagai produsen ilmu. Akan tetapi, dalam
perjalanan waktu diketahui bahwa kompleksitas ilmu dan keilmuwan tidak hanya
bersentuhan dengan lembaga-lembaga pendidikan tinggi (institute of higher
educations). Sebelumnya, pada proses dan prediksi setelah era revormasi
menyadarkan kita bahwa masalah keilmuwan dengan segala kompleksitasnya akan
bersentuhan secara langsung dan tidak langsung dengan bangunan yang besar,
yaitu elemen-elemen nilai-nilai dasar (core values) atau indeks demokrasi
(indices of democracy).
Pengalaman di pelbagai
negara yang pernah mengalami pemerintahan otoriter membuktikan pula bahwa
perkembangan ilmu dan keilmuwan tidak mungkin bisa terbentuk dan tumbuh dengan
baik manakala kehidupan politik tidak kondusif, kebebasan akademik (academic
freedom) ditekan, dan/atau kultur akademik yang mendambakan kebenaran terancam
(Muladi, makalah kuliah perdana pascasarjana Universitas Diponegoro).
E.3 Ilmu: Bebas Nilai dan Tidak Bebas Nilai
Ilmu pengetahuan yang
dikatakan bebas nilai adalah pada pandangan bahwa ilmu itu berkembang tanpa
merujuk pada suatu hukum atau sistem tertentu. Beda dengan teknologi. Karena
teknologi lahir atas dasar penciptaan manusia, ia terikat oleh suatu aturan
atau sistem, terikat juga dengan selera pasar dan perundang-undangan. Namun,
bagaimana mengetahui tentang teknologi, tak diikat oleh undang-undang apa pun.
Allah swt. sendiri berfirman untuk memberikan kebebasan bagi hamba-Nya
menjelajahi seluruh jagat raya, di bumi dan di langit, yang semua itu hanya
bisa dilakukan dengan ilmu.
Akan tetapi, jika kita
mengacu kepada pengertian yang ditulis dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, yang
dikatakan ilmu adalah:
“Pengetahuan tentang suatu bidang yang disusun
secara bersistem menurut metode tertentu, yang dapat digunakan untuk
menerangkan gejala tertentu di dalam bidang (pengetahuan) tersebut.” (KBBI,
2005:423)
Dengan pengertian yang diberikan
oleh KBBI tercermin bahwa sebuah ilmu mesti memiliki sistemik dan sistematis
sehingga terkesan ada hal yang mengingkatnya sebagai suatu nilai.
E.4 Sikap Ilmiah yang Harus Dimiliki Ilmuwan
Sikap dan perilaku
sangat penting dalam kehidupan. Setiap tingkah, sikap, dan perilaku seseorang
akan menjadi tolok ukur tentang kepribadian seseorang tersebut. Oleh karena
itu, seorang ilmuwan mesti memiliki sikap ilmiah yang mencerminkan dirinya
sebagai ilmuwan. Sikap dimaksud bisa berupa rendah diri, tidak sombong atau
angkuh, dan selalu menghargai orang lain. Karenanya, seorang yang memiliki ilmu
dan sikap yang baik cenderung dikaitkan dengan padi atau kepada seseorang yang
memiliki ilmu akan diminta untuk memiliki “ilmu padi” semakin merunduk semakin
berisi.
Sikap ilmiah diharapkan
dimiliki oleh seorang ilmuwan sebab sesuai dengan pengertiannya bahwa ilmuwan
adalah orang yang ahli atau banyak pengetahuannya mengenai suatu ilmu. Ilmuwan
dapat pula dikatakan kepada orang yang berkecimpung dalam bidang ilmu pengetahuan
(KBBI, 2005:425).
Kaitannya dalam
pembahasan ini, sikap ilmiah dimaksudkan bagi seorang ilmuwan adalah memiliki
dan memahami etika, moral, norma, dan kesusialaan. Dalam Islam, disebutkan pula
bagi setiap ilmuwan (alim—orang berilmu) mesti memiliki iman. Hal ini senada
dengan firman Allah swt. dalam Al-Qran, surat Al-Mujadalah:11, yang artinya
“Allah mengangkat derajat orang-orang yang beriman di antara kamu dan yang
berilmu pengetahuan bertingkat-tingkat.”
