Mau Widget Ini?

Rabu, 12 November 2014

READING COURSE 7&8 - Teori-teori Tentang Pengetahuan


“Teori-teori Tentang Pengetahuan”







A.    Pengetahuan dan Keyakinan

Pengetahuan adalah informasi yang diketahui atau disadari oleh manusia, atau pengetahuan adalah berbagai gejala yang ditemui dan diperoleh manusia melalui pengamatan indrawi. Pengetahuan akan muncul ketika orang menggunakan akal atau indranya untuk mengenali benda atau peristiwa tertentu yang belum pernah dilihat atau dirasakan. Misalnya, saat pertama kali orang makan cabai maka Dia akan tahu bagaimana rasa cabai itu, bentuknya, warnanya, atau bahkan akan bertanya-tanya apa zat-zat apa yang dikandungnya.
Pengetahuan empiris menekankan pada pengamatan dan pengalaman indrawi, sedangkan pengetahuan rasional didapatkan melalui akal budi. Misalnya, orang mengetahui bahwa cabai rasanya pedas karena dia pernah memakannya. Tidak mungkin hanya dengan dipikir-pikir orang itu akan mengetahui bahwa rasa cabai adalah pedas. Namun, pernyataan 1+1=2 adalah hasil dari pemikiran (akal) manusia, bukan merupakan suatu pengamatan empiris.
Keyakinan adalah suatu sikap yang ditunjukkan manusia saat dia merasa cukup tahu dan menyimpulkan bahwa dirinya telah mencapai kebenaran. Maksudnya adalah orang akan merasa yakin kalau apa yang mereka ketahui adalah benar. Jadi, keyakinan terjadi setelah orang percaya adanya suatu kebenaran.
Menurut teori kebenaran sebagai kesesuaian, keyakinan adalah suatu pernyataan yang tidak disertai bukti yang nyata. Misalnya, petir disebabkan oleh amukan para dewa. Pernyataan ini tidak bisa dibuktikan, sehingga hanya bisa dikatakan sebagai suatu keyakinan. Sementara pernyataan petir disebabkan kerena adanya tabrakan antara awan yang bermuatan positif dan negative adalah suatu kebenaran, karena dapat dibuktikan. Sehingga pernyataan ini disebut sebagai pengetahuan.
Ada dua istilah yang berhubungan dengan keyakinan dan pengetahuan      :
1. Magic power- (kekuatan magis) –> fenomena kekuatan gaib. Orang yang lebih percaya pada sesuatu yang aneh(karena tidak tahu sebabnya) sebagai kekuatan magis
2. Naturalisme, berarti sesuatu yang alami.

B.    Sumber Pengetahuan Rasionalisme dan Empirisme
Sumber Pengetahuan : Rasionalisme, Empirisme dan Sintesis.
1.      Rasionalisme.
Rasionalisme adalah bahwa hanya dengan menggunakan prosedur tertentu dari akal saja bisa sampai pada pengetahuan yang sebenarnya, yaitu pengetahuan yang tidak mungkin salah. Menurut kaum rasionalis, sumber pengetahuan, adalah akal budi manusia. Dengan akal budi yang memberi pengetahuan yang pasti benar tentang sesuatu. Oleh karena itu, konsekuensinya adalah kaum rasionalis menolak anggapan bahwa seseorang bisa menemukan pengetahuan melalui pancaindra.Pemahaman rasionalisme oleh pemikiran dua tokoh yaitu :
a)      Plato
Anggapan rasionalisme telah muncul dalam pemikiran Plato. Menurut Plato, satu-satunya pengetahuan sejati adalah apa yang disebutnya sebagai episteme, yaitu pengetahuan tunggal dan tak berubah, sesuai dengan ide-ide abadi. Oleh karena itu didapat melalui pancaindra hanya merupakan tiruan cacat dari ide-ide tertentu yang abadi dengan bersifat nyata dan sempurna.
Di dalam kehidupan sementara ini, hanya ada bayangan dari ide yang abadi, bayangan itu banyak, rupa, dan selalu berubah. Jika manusia melihat bayangan itu, teringat dengan ide abadi. Yang artinya, manusia mengenal dan mengetahui bayangan tadi melalui Ide Abadi. Pengetahuan bagi Plato adalah hasil ingatan yang melekat pada manusia. Pengetahuan adalah pengenalan kembali akan hal yang sudah diketahui dalam Ide Abadi. Pengetahuan adalah kumpulan ingatan terpendam dalam benak manusia. Dengan demikian untuk meneliti sesuatu sampai dengan pengetahuan sejati hanya mengandalkan akal budi yang sudah mengenal Ide Abadi.
b)      Rene Descartes
Descartes adalah filsuf yang meragukan semua keyakinan dan pengetahuan. Sasaran utama dari Descartes adalah bagaimana seseorang bisa sampai pada pengetahuan yang pasti benar. Menurut seseorang perlu meragukan sesuatu sampai mempunyai ide yang jelas dan tepat (clara et distincta). Ini disebut keraguan metodis berfungsi sebagai alat untuk menyingkirkan semua prasangka, tebakan, dan dugaan yang menipu, dan karenanya menghalangi untuk sampai pada pengetahuan yang benar-benar punya dasar yang kuat. Dengan cara ini, seseorang bisa merasa yakin bahwa punya pengetahuan. Atas dasar ini , Descartes beranggapan bahwa akal budi dapat membuktikan bahwa ada dasar bagi pengetahuan manusia, ada dasar untuk merasa pasti dan yakin apa yang diketahui.
            Salah satu unsur pertama untuk menipu dan menghalangi orang untuk sampai pada pengetahuan sejati adalah pengalaman indrawi seseorang. Contohnya, pancaindra menipu bahwa benda-benda ruang angkasa kecil saja atau botol berisi air sebagai kosong. Hal ini membuat Descartes meragukan semua yang ditangkapnya melalui pancaindra. Bahwa kenyataanya bahwa dia sedang membayangkan sesuatu, padahal sesunggunya semua itu hanya omong kosong, hanya khayalan belaka. Dengan keraguan inilah, Descartes mengatakan bahwa kalau apa yang ditangkap oleh pancaindratelah dilihat melalui terang akal budi sebagai pasti dan tidak bisa diragukan, karena bisa diterima sebagai pengetahuan. Semakin jelas ide tersebut dalam terang akal budi, semakin ide tersebut sesuai dengan realitas. Jadi, bukan sebaliknya bahwa semakin sesuai dengan reslitas, ide itu semakin besar.
Menurut Descartes, jika metode yang digunakan dalam ilmu ukur, yang mengandalakan deduksi akal budi, bisa berhasil untuk sampai pada kebenaran-kebenaran yang tak bisa diragukan, metode yang sama tidak bisa digunakan dalam bidang yang lain, Descartes berpendapat bahwa untuk sampai pada pengetahuan yang pasti dan tak teragukan mengenai apa saja, perlu mengandalkan akal budi, sebagaimana halnya dalam ilmu ukur. Yang perlu dilakukan adalah menggunakan alat yang sama yang memungkinkan ahli ilmu ukur dan matematika sampai pada kebenaran yang pasti, yaitu akal budi, karena hanya akal budi yang bisa memberi kepastian.
  Tujuan dari cara kerja yang mengandalkan akal budi adalah supaya seseorang tidak hanya sampai pada pengethuan sejati yang punya dasar yang kokoh, melainkan pada pengetahuan bersifat umum atau universal, yaitu pengetahuan yang tidak terbatas pada objek khusus tertentu yang diberikan pancaindra dan karena itu bisa menipu.
Dengan dipraktekan metode tersebut, Descartes akhirnya sampai pada suatu kenyataan yang tidak bisa diragukannya, yaitu bahea ia ada. Maka kata Descartes :Cogito ergo sum. Ia masih ada. Adanya manusia ( si aku) sebagai entitas yang berpikir merupakan kebenaran yang pasti dan tak terbantahkan yang menjadi landasan bagi pemikiran dan pengetahuan manusia. Artinya jika keraguan mau dianggap sebagai metode yang ilmiah, keraguan harus menjadi dasar dari pemikiran dan pengetahuan manusia.
Bahwa berfikir, akal budi, adalah unsur paling pokok pada manusia, sekaligus bagi pengetahuan bagi manusia. Akal budi adalah landasan paling kokohdan paling pokok dari pengetahuan manusia. Artinya, apa yang lolos dari seleksi akal budi dapat diterima sebagai pengetahuan yang benar.
c)      Beberapa hal penting
Jadi kesimpulannya, dapat dirumuskan beberapa hal penting mengenai rasionalisme ini.
            Pertama, kaum rasionalis lebih mengandalkan geometri atau ilmu ukur dan matematika, yang memiliki aksioma-aksioma umum lepas dari pengamatan atau pengalaman pancaindra. Bagi kaum rasionalis, matematika dan ilmu ukur adalah model bagi pengetahuan dan pemahaman manusia. Dengan kata lain, cara kerja ilmu ukurdan matematika adalah bahwa kita bisa sampai pada pengetahuan yang dapat diandalkan hanya dengan menggunakan akal budi kita. Karena itu mereka berpikir dalam kerangka prinsip-prinsip pertama yang terbukti dengan sendirinya.
            Kedua, konsekuensinya, kaum rasionalis meremehkan peran pengalaman dan pengamatan pancaindra bagi pengetahuan. Oleh karena itu, pancaindra tak bisa diandalkan untuk memberi kita pengetahuan yang bisa diandalkan. Artinya kalau sekali pernah menipu seseorang, ia tidak boleh percaya begitu saja pada pancaindra itu, dan sebaliknya harus selalu meragukan apa saja yang ditangkapnya. Sebagaimana dikatakan Plato, yang ditangkap pancaindra hanyalah dunia gejala, yang semu, yang tidak nyata dan tidak sempurna. Demikian pula, pancaindra hanya memberi informasi tentang objek khusus tertentu yang terbatas, dan karena itu tidak memungkinkan untuk bisa sampai pada pengetahuan yang berlaku umum atau universal. Jadi, Pengetahuan yang sejati, umum, universal hanya bisa ditemukan dalam dan dengan bantuan akal budi.
            Karena kaum rasionalisme lebih mengandalakan ilmu ukur dan matematika, hanya menerima metode deduktif. Dengan cara ini terjadi proses pengetahuan manusia adalah bahwa manusia mendeduksikan, menurunkan, pengetahuan-pengetahuan particular dari prinsip-prinsip umum atau pertama yang bersifat pasti dan universal yang merupakan bawaan manusia dalam akal budinya jauh sebelum ia mengalami apapun juga. Sepeti ilmu ukur Euklides milai dengan aksioma-aksioma yang sudah terbukti benar dengan sendirinya, dan dari situ ditarik teorema-teorema sedemikian rupa sehingga kebenaran aksioma menjamin kebenaran teorema, demikian pula pengetahuan manusia secara keseluruha harus bertumpu pada kebenaran –kebenaran tertentu yang sudah pasti dan terbukti benar dengan sendirinya.
Bagi kaum rasionalis, semua pengetahuan adalah pengetahuan apriori yang terutama mengandalkan silogisme, karena manusia sudah memiliki pengetahuan itu sebelum dan mendahului pengalaman. Bagi kaum rasionalis, data atau fakta tidak begitu penting yang di tekankan adalah kemampuan akal budi manusia untuk menarik kesimpulan dan prinsip umum tertentu yang sudah ada dalam benaknya. Oleh karena itu, logika silogisme menjadi penting.
2.      Empirisme
Seperti halnya rasionalisme dan para filsuf rasionalis, empirisme dan juga para filsuf empirisis, sesunggunya ingin menanggapi persoalan yang diajukan skeptisisme. Kaum empirisis pun ingin mencari dasar yang kokoh, dasar pembenaran bagi pengetahuan sejati dengan menvcari bukti yang kuat bagi pengetahuan yang benar, berusaha menemukan pembenaran, atau pembuktian yang kokoh bagi pengetahuan manusia dengan menuntut kepastian akan kebenaran pengetahuan manusia, dan karena itu menolak pengetahuan yang tidak didasarkan pada bukti yang menyakinkan.
Empirisisme adalah paham filosofis yang mengatakan bahwa sumber satu-satunya bagi pengetahuan manusia adalah pengalaman. Untuk bisa sampai pada pengetahuan yang benar, menurutnya adalah data dan fakta yang ditangkap oleh pancaindra. Dengan kata lain pengetahuan yang benar adalah yang diperoleh melalui pengalaman dan pengamatan pancaindra, dengan sumber pengalaman dan pengamatan pancaindra tersebut yang memberi data dan fakta bagi pengetahuan seseorang. Semua konsep dan ide dianggap benar dengan sumber dari pengalaman seseorang dengan objek yang ditangkap melalui pancaindra.
Atas dasar ini, semua pengetahuan manusia bersifat empiris. Pengetahuan yang benar dan sejati, yaitu pengetahuan yang pasti benar adalah pengetahuan indrawi, pengetahuan empiris.
Pengalaman yang dimaksud adalah pengalaman yang terjadi melalui dan berkat bantuan pancaindra. Pengalaman semacam ini berkaitan dengan data yang ditangkap melalui pancaindra, khususnya yang bersifat spontan dan langsung.dengan kata lain bertujuan untuk mengumpulkan fakta dan data itulah yang merupakan titik tolak dari pengetahuan manusia karena pada dasarnya mengetahui tentang sesuatu hanya berdasarkan dan hanya dengan titik tolak pengalaman indrawi.
Pancaindra memainkan peranan penting dibandingkan dengan akal budi, karena : pertama, semua proposisi yang diucapkan merupakan hasil laporan dari pengalaman atau disimpilkan dari pengalaman. Kedua, seseorang tidak bisa punya konsep atau ide apapun tentang sesuatu kecuali yang didasarkan pada apa yang diperoleh dari pengalaman. Ketiga, akal budi hanya bisa berfungsi kalau punya acuan ke realitas atau pengalaman.
pemikiran kaum empirisis menurut John Locke dan David Hume :
a)      John Locke
Sebagaimana dikatakan, John Locke, dalam bukunya An Essay Concerning Human Understanding, ingin “mencari hal yang asli atau kepastian mengenai pengetahuan manusia”karena semua konsep atau ide yang mengungkapkan pengetahuan manusia, sesungguhnya berasal dari pengalaman manusia. Konsep atau ide-ide ini diperoleh dari pancaindra atau dari refleksi atas apa yang diberikan oleh pancaindra.
Locke beranggapan bahwa semua konsep, pemikiran dan ide kita bersumber dari apa yang ditangkap melalui dan dengan pancaindra. Akal budi berada dalam keadaan kosong, tanpa isi apapun. Akal budi seseorang hanya bisa mengetahui sesuatu karena mendapat informasi yang diperoleh melalui pancaindra. Sebelum ada informasi dari pancaindra, akal budi mirip dengan kertas yang belum ditulis apa-apa.
Locke membedakan antara dua macam ide : ide sederhana dan ide-ide kompleks. Ide-ide sederhana adalah ide yang ditangkap melalui penciuman, penglihatan, perabaan, dan semacamnya. Pada saat indra mengenai sesuatu objek terasa manis, kasar, hitam, besar kecil dan semacamnya. Tetapi, akal budi tidak hanya menerima secara pasifkarena mengolah lebih lanjut ide-ide itu, dengan memikirkan, meragukan, mempertanyakan, menggolongkan, dan mengolah. Dengan demikian lahirlah refleksi. Refleksi inilah memungkinkan adanya ide-ide yang lebih kompleks dari ide-ide sederhana.
Locke mengatakan bahwa yang ditangkap secara langsung dari pancaindra hanyalah ide-ide sederhana, kemudian terbentuklah ide kompleks. Ide-ide sederhana adalah ide yang muncul dan disebabkan oleh benda-benda yang ditangkap dengan pancaindra. Sedangkan ide-ide kompleks adalah hasil dari refleksi, hasil dari olah piker akal budi.
Berbanding terbalik sebagaimana dikatakan oleh kaum rasionalis, dimanah dalam hal ide-ide sedehana sangat mungkin terjadi kekeliruan. Locke mengatakan bahwa tidak mungkin terjadi karena jiwa, atau akal budi, manusia berada dalam, keadaan kosong, hampa. Jadi tidak mungkin ada pengaruh subjekif yang membelokan apa yang ditangkapnya, dan demikian mengecoh seseorang.
C.    Kebenaran Ilmiah

A.     Pandangan Tentang Kebenaran Ilmiah
Manusia sebagai subjek yang mengetahui hakikat kebenaran terhadap suatu objek berkembang karena kreativitas menusia mencapai puncak pada zaman tertentu. MenurutSemiawan, dkk (1999: 76), berpendapat bahwa setiap evolusi ilmu selalu dimulai dengansuatu bahwa intelektual (intellectual exercise) oleh kelompok ilmuan tertentu yangmenumbuhkan suatu gagasan baru kemudian berkembang menjadi suatu konsep baru dankemnudia berkembang menajdi sutau konsep atau pola pengetahuan baru yang sebelumnyatidak ada ataupun tidak diharapkan akan ada; suatu tindakan kreatif yang bersumber darisuatu inovatif,bertolak dari masukan ilmu yang sudah ada sebagai batu loncatan tranformasi fundamental”. Munculnya berbagai teori ilmu (sciense) karena manusia dengan demensikreatifnya mencapai puncak pembicaraan tentang apa yang disebut kebenaran ilmiah.Menurut Lincoln dan Cuba (1985: 14) sebagaimana pendapat Julienne Ford
dalam Paradigms and Fairy Tales (1975) yang mengemukakan bahwa istilah kebenaran atau
truth (T) bisa memiliki arti yang berbeda yang disimbolkan dengan T1, T2, T3, T4 (Supriadi,1998).Kebenaran pertama (T1) adalah kebenaran metafisik. Sesungguhnya kebenaran initidak bisa diuji kebenarannya (baik melalui justifikasi maupun falsifikasi/kritik) berdasarkannorma eksternal seperti kesesuaian dengan alam, logika deduktif atau standart-standart perilaku prosefional. Kebenaran metafisik merupakan kebenaran yang paling mendasar dan puncak dari seluruh kebenaran (basic, ultimate truth), karena itu harus diterima apa adanya(given for granted). Misalnya kebenaran Iman dan doktrin-doktrin absolut agamaKebenaran kedua (T2) adalah kebenaran etik yang merujuk kepada perangkat standartmoral atau profesioanl tentang perilaku yang pantas dilakukan, termasuk kode etik (code ofconduct). Seseorang dikatakan benar ecara etik bila ia berperilaku sesuai dengan standart perilaku itu. Sumber T2 bisa dari T1 atau dari norma sosial budaya suatu kelompok masyarakat atau komunitas profesi tertentu. Kebenaran ini ada yang mutlak (memenuhi standar etika universal) dan ada pula yang relatif.Kebenaran ketiga (T3) adalah suatu kebenaran logika. Sesuatu dianggap benar apabilasecara logik atau matematis konsisten dan koheren dengan apa yang telah diakui sebagai benar, (dalam pengertian T3) atau sesuai dengan apa yang benar menurut kepercayaanmetafisik (T1). Aksioma metafisik yang menyatakan bahwa sudut-sudut segitiga sama sisimasing-masing 60 derajat, atau 1+1= 2, adalah contoh kebenaran logik. Peran rasio ataulogika sanagt dominan dalam T3. Meskipun demikian, sebagaimana pada bagian kebenaranT2, kebenarab ini tidak terlepas dari konsensus orang-orang yang terlibat di dalamnya.Bahkan 1 + 1 = 2 pun pada dasarnya adalah hasil konsensus, mengapa tidak 1 + 1 = 3? Tapikarena konsessus itu logis maka diterima secara bersama.Kebenaran keempat (T4) adalah kebenaran empirik yang lazimnya dipercayaimelandasi pekerjaan ilmuan dalam melakukan penelitian. Sesuai (kepercayaan asumsi, dalil,hipotesis, proposisi ) dianggap benar apabila konsisten dengan kenyataan alam, dalam artidapat diverifikasi, dijastifikasi atau kritik. Dalam konteks ini, teori korespondensi anatarateori dengan fakta antara pengetahuan a prioriti dengan pengetahuan a posteriori (demikianImmanuel Kant menyebutnya), menjadi persoalan utama. Di antara ke emapat kenis kebenaran menurut Ford di atas, maka dalam kajianfilsafat ilmu kajian yang difokuskan adalah terhadap kebenaran empirik (T4) yang di sebut juga kebenaran ilmiah, tentu saja dengan tidak mengesampingkan kebenaran pertama, kedua,dan ketiga. Kebenaran ilmiah yang melibatkan subjek (manusia, knower, observer) dengan objek (fakta, realitas, dan known) maka ada tiga teori utama tentang kebenaran, yaitu:1.  Korenpondensi,
                                     2.  Koherensi, dan
                                     3.  Pragmatisme


D.    Masalah kepastian dan Falibilisme
Masalah Kepastian dan Fabilisme Moderat
1. Masalah Kepastian kebenaran Ilmiah
Ilmu pengetahuan tidak akan pernah memberikan suatu formulasi final dan absolute tentang seluruh universum. Pengakuan ini dalam filsafat ilmu pengetahuan disebut falibilisme. Falibilisme tidak berarti bahwa ilmu pengetahuan salah sama sekali, melainkan bahwa ilmuwan harus bersikap kritis terhadap apa yang sudah dicapainya. 
2. Fabilisme dan Metode Ilmu Pengetahuan
     Falibilisme ilmu pengetahuan berasal dari dua sumber, yaitu sebagai konsekuensi dari metode ilmu pengetahuan, dan dari objek ilmu pengetahuan yaitu universum alam. Beberapa indikasi metodologis bisa dilihat sebagai alas an dari falibilisme moderat ini.
1)  Peneliti sendiri tidak pernah merasa pasti dengan apa yang dicapainya sendiri
2) Fokus utama dari kegiatan penelitian ilmiah adalah verifikasi atau hipotesis
3) Karena metode induksi, seperti akan dibahas lebih lanjut, selalu tidak legkap
4) Setiap hipotesis pada dasarnya tidak pasti.
Maka dengan keempat alas an ini kita dapat mengatakan bahwa pengetahuan ilmiah itu tidak luput dari kekeliruan dan selalu terbuka pada kritik dan perbaikan.
3. Falisme dan Objek Ilmu Pengetahuan
     Objek ilmu pengetahuan adalah peristiwa-peristiwa alam. Alam tidak berada dalam kondisi statis, melainkan selalu mengalami evolusi. Karena itu selalu saja ada hal yang baru dan tak terduga, bahkan oleh hukum ilmiah yang sudah ditemukan.
a. Realitas Objek
     Ilmuawan yang baik adalah seorang realis yang tidak memandang konsep-konsep ilmiahnya semata-mata sebagai hasil imajinasi tanpa hubungannya dengan dunia nyata melainkan merupakan hasil dari pemikiran tentang dunia nyata. Objek ilmu pengetahuan dapat dikatakan nyata atau real jika sekurang-kurangnya mengandung tiga arti, yaitu sebagai berikut.
1) Yang nyata berarti lepas dari pikiran manusia
2) Meskipun dunia real yang dipelajari ilmu pengetahuan bebas dari pemikiran manusia, realitas itu sendiri dapat dikatakan real jika memang dapat dikenal.
3) Realitas yang dibicarakan ilmu pengetahuan adalah realitas public, realitas yang menjadi perhatian banyak orang. Yang real berarti yang memiliki dimensi sosial.
     Jika kebenaran pengetahuan ilmiah tidak dapat dilihat sebagai kenyataan public, yang diterima dan didiskusikan public, maka pengetahuan akan menjadi pendapat pribadi yang pada akhirnya bisa tidak dapat dipercaya oleh siapapun. 
b. Evolusi objek pengetahuan ilmiah
     Pengertian mengenai evolusi objek menyangkut dua aspek, yaitu
1) Objek pengetahuan ilmiah selalu berubah-ubah sehingga pengetahuan yang kita capai, sekalipun sangat akurat, harus ditinjau kembali
2) Objek dari pengetahuan kita selalu berkembang kepada regularitas.
     Maka dengan dua alas an tersebut, pengetahuan kita selalu rentan terhadap kesalahan, tetapi tetap ada harapan akan tercapainya suatu pemahaman yang lebih baik tentang alam semesta, asalkan penelitian terus dilakukan dari generasi ke generasi. Jika penelitian berhenti maka dua akibat dapat terjadi, yaitu           :
1) ilmu tidak lagi menjelaskan realitas yang sesungguhnya karena realitas selalu berubah
2) ilmu pengetahuan memutuskan hubungannya dengan realitas yang semakin lama semakin terbuka untuk diketahui.

Ilmu Teknologi dan Budaya

A.    Pengertian Ilmu, Teknologi, Dan Kebudayaan
1.      Pengertian Ilmu
Ada orang yang menamakannya ilmu, ada yang menamainya ilmu pengetahuan, dan pula ada yang menyebutnya sains. Keberagaman istilah tersebut adalah suatu usaha untuk melahirkan padanan (meng-Indonesiakan) kata science yang asalnya dari bahasa Inggris. Pengertian yang terkandung dibalik kata-kata yang berbeda tersebut ternyata juga tidak kalah serba ragamnya. Keberagamannya bahkan kadang-kadang seolah-olah mengingkari citra ilmu pengetahuan itu sendiri yang pada dasarnya bertujuan untuk merumuskan sesuatu dengan tepat, tunggal.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia[4] ilmu artinya adalah pengetahuan atau kepandaian. Dari penjelasan dan beberapa contohnya, maka yang dimaksud pengetahuan atau kepandaian tersebut tidak saja berkenaan dengan masalah keadaan alam, tapi juga termasuk “kebatinan” dan persoalan-persoalan lainnya. Sebagaimana yang sudah kita kenal mengenai beberapa macam nama ilmu, maka tampak dengan jelas bahwa cakupan ilmu sangatlah luas, misalnya ilmu ukur, ilmu bumi, ilmu dagang, ilmu hitung, ilmu silat, ilmu tauhid, ilmu mantek, ilmu batin (kebatinan), ilmu hitam, dan sebagainya.
Ilmu adalah seluruh usaha sadar untuk menyelidiki, menemukan, dan meningkatkan pemahaman manusia dari berbagai segi kenyataan dalam alam manusia[5]. Segi-segi ini dibatasi agar dihasilkan rumusan-rumusan yang pasti. Ilmu memberikan kepastian dengan membatasi lingkup pandangannya, dan kepastian ilmu-ilmu diperoleh dari keterbatasannya[6].
Ilmu bukan sekadar pengetahuan (knowledge), tetapi merangkum sekumpulan pengetahuan berdasarkan teori-teori yang disepakati dan dapat secara sistematik diuji dengan seperangkat metode yang diakui dalam bidang ilmu tertentu. Dipandang dari sudut filsafat, ilmu terbentuk karena manusia berusaha berfikir lebih jauh mengenai pengetahuan yang dimilikinya. Ilmu pengetahuan adalah produk dariepistemologi.
Secara bahasa, kata ilmu dalam bahasa Arab berasal dari kata “ilm”[7] yang berarti memahami, mengerti, atau mengetahui. Dalam kaitan penyerapan katanya, ilmu pengetahuan dapat berarti memahami suatu pengetahuan, dan ilmu sosial dapat berarti mengetahui masalah-masalah sosial, dan sebagainya.
Kata ilmu sudah digunakan masyarakat sejak ratusan tahun yang lalu. Di Indonesia, bahkan sebelum ada kata ilmu sudah dikenal kata-kata lain yang maksudnya sama, misalnya kepandaian, kecakapan, pengetahuan, ajaran, kawruh, pangrawuh, kawikihan, jnana, widya, parujnana, dan lain-lain. Sejak lebih dari seribu tahun yang lampau nenek moyang bangsa kita telah menghasilkan banyak macam ilmu, contohnya kalpasastra (ilmu farmasi), supakasastra (ilmu tataboga), jyotisa (ilmu perbintangan), wedastra (ilmu olah senjata), yudanegara atau niti (ilmu politik), wagmika (ilmu pidato), sandisutra (sexiology), dharmawidi (ilmu keadilan), dan masih banyak lagi yang lainnya.
Ada yang mencoba membedakan antara pengetahuan (knowledge) dan ilmu (science). Pengetahuan diartikan hanyalah sekadar “tahu”, yaitu hasil tahu dari usaha manusia untuk menjawab pertanyaan “what”, misalnya apa batu, apa gunung, apa air, dan sebagainya. Sedangkan ilmu bukan hanya sekadar dapat menjawab “apa” tetapi akan dapat menjawab “mengapa” dan “bagaimana” (why dan how)., misalnya mengapa batu banyak macamnya, mengapa gunung dapat meletus, mengapa es mengapung dalam air.
Pengetahuan dapat dikembangkan lebih lanjut menjadi ilmu apabila memenuhi tiga kriteria, yaitu obyek kajian, metoda pendekatan dan bersifat universal.
Adapun difinisi ilmu menurut para ahli[8] diantaranya sebagai berikut:
Ø  Mohammad Hatta, mendifinisikan ilmu adalah pengetahuan yang teratur tentang pekerjaan hukum kausal dalam suatu golongan masalah yang sama tabiatnya, maupun menurut kdudukannya tampak dari luar, amupun menurut hubungannya dari dalam
Ø  Ralp Ross dan Ernest Van Den Haag, mengatakan ilmu adalah yang empiris, rasional, umum dan sistematik, dan keempatnya serentak
Ø  Karl Pearson, mengatakan ilmu adalah lukisan atau keterangan yang komprehensif dan konsisten tentang fakta pengalaman dengan istilah sederhana
Ø  Ashely Montagu, Guru Besar Antropolo di Rutgers University menyimpulkan bahwa ilmu adalah pengetahuan yang disususn dalam satu system yang berasal dari pengamatan, studi dan percobaan untuk menetukan hakikat prinsip tentang hal yang sedang dikaji.
Ø  Harsojo, Guru Besar antropolog di Universitas Pajajaran, menerangkan bahwa ilmu adalah
·         Merupakan akumulasi pengetahuan yang disistematisasikan.
·         Merupakan suatu pendekatan atau mmetode pendekatan terhadap seluruh dunia empirisyaitu dunia yang terikat oleh factor ruang dan waktu yang pada prinsipnya dapat diamati panca indera manusia.
·         Merupakan suatu cara menganlisis yang mengizinkan kepada ahli-ahlinya untuk menyatakan suatu proposisi dalam bentuk: “jika,….maka…”
Ø  Afanasyef, seorang pemikir Marxist bangsa Rusia mendefinisikan ilmu adalah pengetahuan manusia tentang alam, masyarakat, dan pikiran. Ia mencerminkan alam dan konsep-konsep, kategori dan hukum-hukum, yang ketetapnnya dan kebenarannya diuji dengan pengalaman praktis.
Ada persyaratan ilmiah sesuatu dapat disebut sebagai ilmu[9]. Adapun syarat-syarat ilmu, diantaranya:
a.       Objektif. Ilmu harus memiliki objek kajian yang terdiri dari satu golongan masalah yang sama sifat hakikatnya, tampak dari luar maupun bentuknya dari dalam. Objeknya dapat bersifat ada, atau mungkin ada karena masih harus diuji keberadaannya. Dalam mengkaji objek, yang dicari adalah kebenaran, yakni persesuaian antara tahu dengan objek, sehingga disebut kebenaran objektif; bukan subjektif berdasarkan subjek peneliti atau subjek penunjang penelitian.
b.      Metodis adalah upaya-upaya yang dilakukan untuk meminimalisasi kemungkinan terjadinya penyimpangan dalam mencari kebenaran. Konsekuensinya, harus ada cara tertentu untuk menjamin kepastian kebenaran. Metodis berasal dari bahasa Yunani “Metodos” yang berarti: cara, jalan. Secara umum metodis berarti metode tertentu yang digunakan dan umumnya merujuk pada metode ilmiah.
c.       Sistematis. Dalam perjalanannya mencoba mengetahui dan menjelaskan suatu objek, ilmu harus terurai dan terumuskan dalam hubungan yang teratur dan logis sehingga membentuk suatu sistem yang berarti secara utuh, menyeluruh, terpadu, dan mampu menjelaskan rangkaian sebab akibat menyangkut objeknya. Pengetahuan yang tersusun secara sistematis dalam rangkaian sebab akibat merupakan syarat ilmu yang ketiga.
d.      Universal. Kebenaran yang hendak dicapai adalah kebenaran universal yang bersifat umum (tidak bersifat tertentu). Contoh: semua segitiga bersudut 180º. Karenanya universal merupakan syarat ilmu yang keempat. Belakangan ilmu-ilmu sosial menyadari kadar ke-umum-an (universal) yang dikandungnya berbeda dengan ilmu-ilmu alam mengingat objeknya adalah tindakan manusia. Karena itu untuk mencapai tingkat universalitas dalam ilmu-ilmu sosial, harus tersedia konteks dan tertentu pula.
2.      Pengertian Teknologi
Teknologi bagi kita merupakan pengetahuan terhadap penggunaan alat dan kerajinan, dan bagaimana hal tersebut mempengaruhi kemampuan untuk mengontrol dan beradaptasi dengan lingkungan alamnya. Kata teknologi berasal dari bahasa Yunani technología‐techne, yang berarti serangkaian prinsip atau metode rasionalyang berkaitan dengan pembuatan suatu objek, atau kecakapan tertentu, atau pengetahuan tentang prinsip-prinsip atau metode dan seni[10]. Istilah teknologi sendiri untuk pertama kali dipakai oleh Philips pada tahun 1706 dalam sebuah buku berjudul Teknologi: Diskripsi Tentang Seni-Seni, Khususnya Mesin (Technology: A Description Of The Arts, Especially The Mechanical)[11]. Teknologi juga dapat diartikan benda‐benda yang berguna bagi manusia, seperti mesin, tetapi dapat juga mencakup hal yang lebih luas, termasuk sistem, metode organisasi, dan teknik. Istilah ini dapat diterapkan secara umum atau spesifik: contoh‐contoh mencakup "teknologi konstruksi", "teknologi medis", atau "state‐of‐the‐art teknologi".
Teknologi adalah metode ilmiah untuk mencapai tujuan praktis, ilmu pengetahuan terapan atau dapat pula diterjemahkan sebagai keseluruhan sarana untuk menyediakan barang-barang yang diperlukan bagi kelangsungan dan kenyamanan hidup manusia[12].
Kita menggunakan teknologi dimulai dengan konversi sumber daya alam menjadi peralatan sederhana. Penemuan yang prasejarah kemampuan untuk mengendalikan api sehingga dapat mengolah makanan dan penemuan roda membantu manusia dalam perjalanan di dalam dan mengendalikan lingkungan mereka. Perkembangan teknologi terbaru, termasuk mesin cetak, telepon, dan Internet, mengatasi hambatan fisik untuk komunikasi dan memungkinkan manusia untuk berinteraksi dengan bebas pada skala global atau luas. Namun, tidak semua teknologi ini telah digunakan untuk tujuan damai; pengembangan senjata yang semakin meningkat kekuatan destruktif telah berkembang sepanjang sejarah, dari klub untuk senjata nuklir.
Teknologi telah mempengaruhi masyarakat dan sekitarnya dalam beberapa cara. Dalam masyarakat, teknologi telah membantu mengembangkan ekonomi yang lebih maju (termasuk ekonomi global saat ini). Tetapi banyak proses‐proses teknologi juga menghasilkan produk yang tidak diinginkan atau mengakibatkan sesuatu hal, contohnya polusi, dan menguras sumber daya alam, dengan merusak bumi dan lingkungannya. Berbagai implementasi teknologi mempengaruhi nilai‐nilai masyarakat dan teknologi baru sering menimbulkan pertanyaan‐pertanyaan etika baru. Contohnya meliputi munculnya gagasan tentang efisiensi dalam hal produktivitas manusia, istilah yang awalnya hanya berlaku bagi mesin, dan tantangan dari norma‐norma tradisional.
Dalam memasuki Era Industrialisasi, pencapaiannya sangat ditentukan oleh penguasaan teknologi karena teknologi merupakan mesin penggerak pertumbuhan melalui industri[13]. Oleh sebab itu, tepat momentumnya jika kita merenungkan masalah teknologi,menginventarisasi yang kita miliki, memperkirakan apa yang ingin kita capai dan bagaimana caranya memperoleh teknologi yang kita perlukan itu, serta mengamati betapa besar dampaknya terhadap transformasibudaya kita[14].
Sebagian dari kita beranggapan bahwa teknologi adalah barang atau sesuatu yang baru[15], padahal kalau kita membaca sejarah, teknologi itu telah berumur sangat panjang dan merupakan suatu gejala kontemporer[16]. Setiap zaman memiliki teknologinya sendiri[17].Sejarah Perkembangan teknologi berlangsung secara evolutif[18]. Sejak zaman Romawi Kuno pemikiran dan hasil kebudayaan telah nampakberorientasi menuju bidang teknologi[19]. Dalam bentuk yang paling sederhana, kemajuan teknologi dihasilkan dari pengembangan cara-cara lama atau penemuan metode baru dalam menyelesaikan tugas-tugastradisional seperti bercocok tanam, membuat baju, atau membangun rumah[20]
Ada tiga klasifikasi dasar dari kemajuan teknologi yaitu[21] :
Ø  Kemajuan teknologi yang bersifat netral (bahasa Inggris:neutral technological progress)
Terjadi bila tingkat pengeluaran (output) lebih tinggi dicapai dengan 
kuantitas dan kombinasi faktor-faktor pemasukan (input) yang sama.
Ø  Kemajuan teknologi yang hemat tenaga kerja (bahasa Inggris: labor-saving technological progress)
Ø  Kemajuan teknologi yang terjadi sejak akhir abad kesembilan belas banyak ditandai oleh meningkatnya secara cepat teknologi yang hemat tenaga kerja dalam memproduksi sesuatu mulai dari kacang-kacangan sampai sepeda hingga jembatan.
Ø  Kemajuan teknologi yang hemat modal (bahasa Inggris:capital-saving technological progress) Fenomena yang relatif langka. Hal ini terutama disebabkan karena hampir semua riset teknologi dan ilmu pengetahuan di dunia dilakukan di negara-negara maju, yang lebih ditujukan untuk menghemat tenaga kerja, bukan modalnya.
Pengalaman di berbagai negara berkembang menunjukan bahwa campur tangan langsung secara berlebihan, terutama berupa peraturan pemerintah yang terlampau ketat, dalam pasar teknologi asing justru menghambat arus teknologi asing ke negara-negara berkembang[22].
Di lain pihak suatu kebijaksanaan 'pintu yang lama sekali terbuka' terhadap arus teknologi asing, terutama dalam bentuk Penanaman Modal Asing (PMA), justru menghambat kemandirian yang lebih besar dalam proses pengembangan kemampuan teknologi negara berkembang karena ketergantungan yang terlampau besar pada pihak investor asing, karena merekalah yang melakukan segala upaya teknologi yang sulit dan rumit[23].

3.      Pengertian Kebudayaan
Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya terbentuk dari banyak unsur yang rumit, termasuksistem agama dan politik, adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaian,bangunan, dan karya seni. Budaya adalah suatu pola hidup menyeluruh. budaya bersifat kompleks, abstrak, dan luas. Banyak aspek budaya turut menentukan perilaku komunikatif. Unsur-unsur sosio-budaya ini tersebar dan meliputi banyak kegiatan sosial manusia[24].
Beberapa alasan mengapa orang mengalami kesulitan ketika berkomunikasi dengan orang dari budaya lain terlihat dalam definisi budaya: Budaya adalah suatu perangkat rumit nilai-nilai yang dipolarisasikan oleh suatu citra yang mengandung pandangan atas keistimewaannya sendiri."Citra yang memaksa" itu mengambil bentuk-bentuk berbeda dalam berbagai budaya seperti "individualisme kasar" di Amerika, "keselarasan individu dengan alam" d Jepang dan "kepatuhan kolektif" di Cina.
Citra budaya yang bersifat memaksa tersebut membekali anggota-anggotanya dengan pedoman mengenai perilaku yang layak dan menetapkan dunia makna dan nilai logis yang dapat dipinjam anggota-anggotanya yang paling bersahaja untuk memperoleh rasa bermartabat dan pertalian dengan hidup mereka.
Dengan demikian, budayalah yang menyediakan suatu kerangka yang koheren untuk mengorganisasikan aktivitas seseorang dan memungkinkannya meramalkan perilaku orang lain.
Asal kata “kebudayaan” adalah cultuur (dalam bahasa Belanda), culture (dalam bahasa Inggris), colere (dalam bahasa latin) yang berarti mengolah, mengerjakan, menyuburkan, dan mengembangkan terutama mengolah tanah atau bertani. Dari segi arti ini berkembanglah arti culture sebagai segala daya dan aktivitas manusia untuk mengubah alam.
Dalam bahasa Indonesia, kebudayaan berasal dari bahasa Sansakerta “buddhayah”, yaitu bentuk jamak dari buddhi yang artinya budi atau akal. Ada juga yang berpendapat bahwa kebudayaan adalah sebagai suatu perkembangan dari kata majemuk budi daya, yang berarti daya dari budi. Budaya adalah daya dari budi yang berupa cipta, karsa, dan rasa, sedangkan kebudayaan adalah hasil dari cipta, karsa, dan rasa tersebut[
Elwood menyatakan bahwa kebudayaan itu mencakup benda-benda material dan spiritual, yang pada kedua-duanya diperoleh dalam interaksi kelompok atau dipelajari dalam bentuk kelompok. Kebudayaan mencakup kekuatan untuk menguasai alam dan dirinya sendiri
Dalam Oxford Advanced Learners’s Dictionary of Current English, diuraikan bahwa kata kebudayaan semakna dengan culture yang memiliki pengertian beragam, sebagai berikut:
a.       Advanced development of the human powers: development of the body, maind and spirit by training and experience;
b.      Evidence of intellectual development (of arts, science, ets) in human society;
c.       State of intellectual development among a people;
d.      All the arts, beliefs, social institutions, ets characteristic of a community, race;
e.       Cultivating; the rearing of bees, silkworms,
f.       (biol) growth of bacteria (for medical or scientific study)
Pengertian culture di atas dapat dipahami bahwa kebudayaan adalah pembangunan yang didasarkan pada kekuatan manusia, baik pembangunan jiwa, pikiran, dan semangat melalui latihan dan pengalaman; bukti nyata pembangunan intelektual, seperti seni dan pengetahuan; atau pembangunan intelektual diantara budaya orang; bahwa kebudayaan adalah semua seni, kepercayaan institusi sosial, seperti karakteristik masyarakat,suku, dan sebagainya; mengolah pertanian sampai pada tingkat teknologi biologi bakteri.
Sekilas pengertian kebudayaan diatas tidak secara sistematik dan teknis. Pengertian secara komprehensif dapat dilihat dari dua berikut ini.
Buku The World University Encyclopediamenjelaskan bahwa culture adalaha the world of life of a socisty. It is the totality of the spiritual, intellectual, and artistic attitudes shared by a group, including its tradition, habits, social customs, morals, laws, and social relations. Yang artinya kebudayaan adalah pandangan hidup masyarakat, ia adalah totalitas spiritual, intelektual, dan sikap artistik yang dibentuk oleh masyarakat, termasuk tradisi, kebiasaan, adat, moral, hukum, dan hubungan sosial[29].
Buku The World Book Encyclopedia menjelaskan secara rinci dan sistematik dibandig kamus Oxford, bahwa kebudayaan adalah all distinctively human activities, and includes achievements in every field, which man passes on from one generation to the next. Culture means such activities as using a language, getting wared, briging up children, earning a living, running a goverment, fighting a war, and taking part in religious ceremonies. Artinya semua aktivitas manusia yang nyata termasuk dalam berbagai bidang, yang berlangsung dari satu generasi manusia ke generasi berikutnya. Kebudayaan bermakna berbagai kegiatan yang menggunakan bahasa, menikah, membesarkan anak-anak, mencari nafkah, menjalankan peerintahan, berjuang dalam perang, dan ikut serta dalam berbagai kegiatan keagamaan[30]. Adapun kebudayaan dalam arti sempit adalah the sum total of the ways of life of a group of people (serangkaian cara hidup dari komunitas masyarakat)[31].
Dalam tulian Jaih Mubarok, definisi kebudayaan diantara yang terbaik sebagaimana yang dibuat oleh E.B. Tayor bahwa budaya adalah that complex whole which includes knowledge, belief, art, morals, laws, custom, and any other capabilities and habits acquired by man as a member of society, yaitu keseluruhan yang kompleks yang meliputi pengetahuan, kepercayaan, seni, moral, hukum, adat, serta kemampuan dan kebiasaan lain yang diperoleh manusia sebagai bagaian dari masyarakat[32].
Secara singkat dan sederhana, sebagaimana dipahami secara umum, kebudayaan adalah semua hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat[33].
Karya masyarakat menghasilkan teknologi dan kebudyaan kebendaaan (material culture) yang diperlukan manusia untuk menguasai alam sekitarnya, agar kekuatan serta hasilnya dapat digunakan untuk keperluan masyarakat. Rasa yang meliputi jiwa manusia, mewujudkan segala kaidah dan nilai-nilai sosial yang perlu untuk mengatur masalah-masalah kemasyarakatan dalam arti luas. Agama, ideologi, kebatinan, dan kesenian yang merupakan hasil eksplisit jiwa manusia yang hidup sebagai anggota masyarakat, termasuk didalamnya.
Cipta merupakan kemampuan mental, kemampuan berpikir orag-orang yang hidup bermasyarakat, antara lain menghasilkan filsafat serta ilmu pengetahuan. Cipta bisa berbentuk teori murni dan buisa juga telah disusun sehingga dapat langsung diamalkan oleh masyarakat. Semua karya, rasa, dan cipta, dikuasai oleh karsa orang-orang yang menentukan kegunaannya agar seseuai dengan kepentingan sebagaian besar atau seluruh masyarakat[34].
Perwujudan dari kebudayaan adalah benda-benda yang diciptakan oleh manusia sebagai makhluk yang berbudaya, berupa perilaku dan benda-benda yang bersifat nyata, misalnya pola-pola perilaku, bahasa, peralatan hidup, organisasi sosial, religi, seni, dan lain-lain, yang kesemuanya ditujukan untuk membantu manusia dalam melangsungkan kehidupan bermasyarakat.
B.     Hubungan Antara Ilmu Dan Teknologi
Ilmu memegang peranan penting bagi negara-negara berkembang dalam proses peningkatan standar hidup, kesejahteraan, dan melindungi sumber daya alam dan keanekaragaman hayati. Negara-negara berkembang menghadapi berbagai tantangan jangka pendek dan jangka panjang. Perubahan penggunaan lahan melalui penggundulan hutan dan perubahan lahan pertanian akibat aktivitas sosio-ekonomi di daerah tangkapan air di hulu, telah menyebabkan terjadinya berbagai kerusakan lingkungan dan infrastruktur akibat bencana yang ditimbulkannya. Kerusakan lingkungan di daerah tangkapan air, menyebabkan kelangkaan air bersih di berbagai negara, selain bencana banjir ketika musim penghujan.
Komunikasi ilmu terhadap masyarakat dan pemahaman masyarakat terhadap ilmu merupakan subyek riset yang relatif baru di lingkungan akademis, namun berkembang untuk dipelajari lebih lanjut untuk mendukung proses pengambilan kebijakan publik. Pemahaman yang baik terhadap dinamika kompleksitas ilmu dan interaksi ilmu dengan masyarakat, berguna dalam peningkatan aksesibilitas masyarakat terhadap ilmu dan akhirnya berkembang menjadi suatu sistem pengelolaan dan kontrol sosial masyarakat terhadap ilmu.
Dalam komunikasi ilmu, perangkat komunikasi atau penyampai informasi yang digunakan akan disesuaikan untuk menciptakan jaminan terjadinya pemahaman dan penerimaan masyarakat awam terhadap ilmu. Sedangkan aspek ketiga adalah aspek kreativitas, yang membantu perkembangan kecerdasan dan kapabilitas masyarakat sehingga menghasilkan kemampuan dalam mengintegrasikan ilmu ke kehidupan sehari-hari.
Ilmu memainkan peran penting sebagai sebuah agen pembaharu di masyarakat. Sebagai bangsa yang bergerak ke arah ekonomi berbasis pengetahuan, dibandingkan ekonomi berbasis sumber daya alam sesuai dengan paradigma tekno-ekonomi, ilmu menjadi landasan keberhasilan pembangunan ekonomi yang didukung oleh kapasitas dan kapabilitas sumber daya manusia yang kompetitif.
Ilmu, dan teknologi memiliki kaitan struktur yang jelas. Ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan dua hal yang tak terpisahkan dalam peranannya untuk memenuhi kebutuhan insani. Ilmu pengetahuan digunakan untuk mengetahui “apa” sedangkan teknologi mengetahui “bagaimana”. Ilmu pengetahuan sebagai suatu badan pengetahuan sedangkan teknologi sebagai seni yang berhubungan dengan proses produksi, berkaitan dalam suatu sistem yang saling berinteraksi. Teknologi merupakan penerapan ilmu pengetahuan, sementara teknologi mengandung ilmu pengetahuan di dalamnya.
Ilmu dan teknologi dalam penerapannya, keduanya menghasilkan suatu kehidupan di dunia (satu dunia), yang diantaranya membawa malapetaka yang belum pernah dibayangkan. Oleh karena itu, ketika manusia sudah mampu membedakan ilmu pengetahuan (kebenaran) dengan etika (kebaikan), maka kita tidak dapat netral dan bersikap netral terhadap penyelidikan ilmiah. Sehingga dalam penerapan atau mengambil keputusan terhadap sikap ilmiah dan teknologi, terlebih dahulu mendapat pertimbangan moral dan ajaran agama.
Ilmu pengetahuan mendorong teknologi, teknologi mendorong penelitian, penelitian yang menghasilkan ilmu pengetahuan baru. Ilmu pengetahuan baru mendorong teknologi baru.
C.    Hubungan Antara Ilmu Dan Kebudayaan
Dalam unsur budaya terdapat adanya sistem pengetahuan, dimana ilmu dan teknologi termasuk di dalamnya. Dengan demikian ilmu itu sendiri merupakan bagian dari budaya. Ilmu dan budaya mempunyai hubungan yang saling mempengaruhi dan saling tergantung. Pada satu pihak perkembangan ilmu dalam satu masyarakat tergantung dari kondisi budaya masyarakat tesebut, dan juga perkembangan ilmu akan mempengaruhi berkembangnya budaya masyarakat. Sumbangan ilmu terhadap budaya adalah pada nilai yang terkandung dalam ilmu, yakni tentang etika, estetika dan logika.. Ilmu merupakan sumber nilai dan tata hidup, baik bagi perkembangan kepribadian secara individual maupun pengembangan masyarakat secara keseluruhan. Selain itu menurut Rene Dubos dalam bukunya Reasong Awake : Science for man, ilmu turut membentuk profil budaya bukan saja lewat aspek-aspek teknisnya, melainkan juga dengan jalan memberikan pandangan-pandangan baru yang membuahkan sikap yang baru.
Contohnya adalah dalam masyarakat pedalaman, budaya yang berkembang adalah budaya agraris. Adapun ilmu yang berkembang adalah ilmu pertanian. Ilmu pertanian ini memberikan pandangan-pandangan baru terhadap budaya, misalnya ritual-ritual khusus menjelang panen, mata pencaharian sebagai petani, alat-alat pertanian dan lain-lain. Pola Hubungan Ilmu dan budaya dan Teknologi antara ilmu dan budaya keduanya memiliki keterkaitan karena kedua-duanya saling mempengaruhi. Keduanya juga memiliki kaitan erat dengan manusia, karena manusia inilah yang membentuk budaya, merumuskan ilmu dan menciptakan teknologi, serta mengembangkan kedua-duanya, karena manusia mempunyai akal dan bahasa.
Jadi, antara ilmu dan budaya keduanya memiliki keterkaitan. Hubungan antara ilmu, dan budaya adalah saling mempengeruhi. Budaya mempenagruhi Ilmu dan budaya, ilmu memepengaruhi budaya mempengaruhi ilmu dan budaya. Ilmu dan budaya semuanya dikembangkan manusia. Ilmu dirumuskan manusia, budaya dibentuk manusia. Dan juga keduanya memberikan sumbangan terhadap manusia.
D.    Hubungan Teknologi Dan Kebudayaan
Teknologi merupakan salah satu komponen kebudayaan. Teknologi menyangkut cara-cara atau teknik memproduksi, memakai, serta memelihara segala peralatan dan perlengkapan. Teknologi muncul dalam cara-cara manusia mengorganisasikan masyarakat, dalam cara-cara mengekspresikan rasa keindahan, atau dalam memproduksi hasil-hasil kesenian.
Masyarakat kecil yang berpindah-pindah atau masyarakat pedesaan yang hidup dari pertanian paling sedikit mengenal delapan macam teknologi tradisional (disebut juga sistem peralatan dan unsur kebudayaan fisik), yaitu:
a.       Alat-alat produktif
b.      Senjata
c.       Wadah
d.      Alat-alat menyalakan api
e.       Makanan
f.       Pakaian
g.      Tempat berlindung dan perumahan
h.      Alat-alat transportasi
Dengan semakin majunya perkembangan teknologi, maka hal tersebut akan berdampak pada perubahan kebudayaan. Dampak tersebut diantaranya adalah: 
Ø  Perubahan Sosial Budaya
Perubahan sosial budaya adalah sebuah gejala berubahnya struktur sosial dan pola budaya dalam suatu masyarakat. Perubahan sosial budaya merupakan gejala umum yang terjadi sepanjang masa dalam setiap masyarakat. Perubahan itu terjadi sesuai dengan hakikat dan sifat dasar manusia yang selalu ingin mengadakan perubahan. Seiring dengan kemajuan teknologi, sebuah budaya dapat terpengaruh dan pada akhirnya terjadi perubahan budaya.
Ø  Penetrasi Kebudayaan
Yang dimaksud dengan penetrasi kebudayaan adalah masuknya pengaruh suatu kebudayaan ke kebudayaan lainnya. Dengan semakin pesatnya perkembangan teknologi dapat membuat masuknya kebudayaan lain.
Oleh karena itu, keberadaan budaya harus kita junjung tinggi sebagai tanda penghormatan kepada para leluhur kita dengan tetap melestarikannya, jangan hanya karena kemajuan teknologi yang semakin pesat membuat kita melupakan kebudayaan yang sudah susah payah dijaga. Sebagai generasi muda marilah kita menjaga warisan leluhur yang salah satunya adalah kebudayaan yang beragam.

E.    Etika Keilmuan
E.1 Etika Keilmuwan
Istilah etika keilmuwan mengantarkan kita pada kontemplasi mendalam, baik mengenai hakekat, proses pembentukan, lembaga yang memproduksi ilmu lingkungan yang kondusif dalam pengembangan ilmu, maupun moralitas dalam memperoleh dan mendayagunakan ilmu tersebut. Oleh karena itu, ada beberapa hal yang mesti diperhatikan.
E..1.1 Etika
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) edis ketiga (2005:309), etika adalah ilmu tentang apa yang baik dan apa yang buruk serta tentang hak dan kewajiban moral. Moral yang dimaksudkan di sini adalah akhlak, yakni budi pekerti atau kelakuan makhluk hidup. Sementara itu, dalamwikipedia.com disebutkan bahwa etika itu membahas tentang perilaku menuju kehidupan yang baik, yang di dalamnya ada aspek kebenaran, tanggung jawab, peran, dan sebagainya.
Dapat diketahui bahwa persoalan etika tidak terlepas dari pengetahuan tentang manusia sebagai makhluk hidup yang sempurna. Jika kembali kepada kata muasalnya, etika berasal dari bahasa Yunani; ethos, yang artinya kebiasaan (perbuatan), tetapi bukan adat, melainkan adab.
E.1.2 Moral
Kata moral diidentikkan pada suatu tindakan manusia yang bercorak khusus, yaitu didasarkan kepada pengertian mengenai baik-buruk. Berbicara tentang moral seseorang sama dengan membicarakan tentang kepribadian seseorang dimaksud. Karena itu, sesungguhnya moral telah membuat posisi manusia berbeda (terhormat) dengan makhluk Tuhan lainnya.
KBBI membuat dua pandangan tentang pengertian moral. Pertama, sebagai ajaran tentang baik-buruk yang diterima akibat perbuatan, sikap, kewajiban, dan sebagainya oleh manusia. Kedua, kondisi mental yang mebuat orang tetap berani, bergairah, berdisiplin, dan sebagainya, yang berpangkal pada isi hati atau keadaan perasaan sebagaimana terungkap dalam perbuatan (KBBI, 2005:6-7).
E.1.3 Norma
Norma adalah aturan atau ketentuan yang mengikat warga kelompok di masyarakat, dipakai sebagai panduan, tatanan, dan pengendali tingkah laku yang sesuai dan berterima. Norma juga dapat disebutkan sebagai ukuran atau kaedah yang menjadi tolok ukur untuk menilai atau memperbandingkan sesuatu (KBBI, 2005:787). Misalnya, setiap masyarakat harus menaati …. yang berlaku.
E.1.4 Kesusilaan
Kesusilaan atau susila merupakan bagian kecil dari norma sehingga kita mengenal nama norma susila, yaitu aturan yang menata tindakan manusia dalam pergaulan sosial sehari-hari, seperti pergaulan antara pria dan wanita. Kesusilaan dapat pula menjadi bagian dari adab dan sopan santun (KBBI, 2005: 787 dan 1110).
Di samping empat hal di atas, tinjauan filsafat juga mesti memiliki estetika, yakni mengenai keindahan dan implementasinya dalam kehidupan. Dari estetika lahirlah berbagai macam teori mengenai kesenian atau aspek seni dari berbagai macam hasil budaya.
E.2 Problematika Keilmuwan
Cabang ilmu yang mencakup pengetahun tentang baik-buruk dan pengetahuan tentang indah-jelek merupakan kombinasi antara dua kategori pengetahuan, yaitu ilmu yang berbasis pada logika dan etika atau moralitas yang mempersoalkan baik dan buruk.
Berbicara keilmuwan berarti bicara mengenai orang dan lembaga tentang disiplin ilmu tertentu. Lembaga itu secara umum dapat dilihat pada perguruan tinggi dan lembaga-lembaga riset lainnya.
Sejak lama disadari bahwa keberadaan perguruan tinggi dan lembaga-lembaga riset menempati kedudukan yang strategis untuk bertindak sebagai produsen ilmu. Akan tetapi, dalam perjalanan waktu diketahui bahwa kompleksitas ilmu dan keilmuwan tidak hanya bersentuhan dengan lembaga-lembaga pendidikan tinggi (institute of higher educations). Sebelumnya, pada proses dan prediksi setelah era revormasi menyadarkan kita bahwa masalah keilmuwan dengan segala kompleksitasnya akan bersentuhan secara langsung dan tidak langsung dengan bangunan yang besar, yaitu elemen-elemen nilai-nilai dasar (core values) atau indeks demokrasi (indices of democracy).
Pengalaman di pelbagai negara yang pernah mengalami pemerintahan otoriter membuktikan pula bahwa perkembangan ilmu dan keilmuwan tidak mungkin bisa terbentuk dan tumbuh dengan baik manakala kehidupan politik tidak kondusif, kebebasan akademik (academic freedom) ditekan, dan/atau kultur akademik yang mendambakan kebenaran terancam (Muladi, makalah kuliah perdana pascasarjana Universitas Diponegoro).
E.3 Ilmu: Bebas Nilai dan Tidak Bebas Nilai
Ilmu pengetahuan yang dikatakan bebas nilai adalah pada pandangan bahwa ilmu itu berkembang tanpa merujuk pada suatu hukum atau sistem tertentu. Beda dengan teknologi. Karena teknologi lahir atas dasar penciptaan manusia, ia terikat oleh suatu aturan atau sistem, terikat juga dengan selera pasar dan perundang-undangan. Namun, bagaimana mengetahui tentang teknologi, tak diikat oleh undang-undang apa pun. Allah swt. sendiri berfirman untuk memberikan kebebasan bagi hamba-Nya menjelajahi seluruh jagat raya, di bumi dan di langit, yang semua itu hanya bisa dilakukan dengan ilmu.
Akan tetapi, jika kita mengacu kepada pengertian yang ditulis dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, yang dikatakan ilmu adalah:
“Pengetahuan tentang suatu bidang yang disusun secara bersistem menurut metode tertentu, yang dapat digunakan untuk menerangkan gejala tertentu di dalam bidang (pengetahuan) tersebut.” (KBBI, 2005:423)
Dengan pengertian yang diberikan oleh KBBI tercermin bahwa sebuah ilmu mesti memiliki sistemik dan sistematis sehingga terkesan ada hal yang mengingkatnya sebagai suatu nilai.
E.4 Sikap Ilmiah yang Harus Dimiliki Ilmuwan
Sikap dan perilaku sangat penting dalam kehidupan. Setiap tingkah, sikap, dan perilaku seseorang akan menjadi tolok ukur tentang kepribadian seseorang tersebut. Oleh karena itu, seorang ilmuwan mesti memiliki sikap ilmiah yang mencerminkan dirinya sebagai ilmuwan. Sikap dimaksud bisa berupa rendah diri, tidak sombong atau angkuh, dan selalu menghargai orang lain. Karenanya, seorang yang memiliki ilmu dan sikap yang baik cenderung dikaitkan dengan padi atau kepada seseorang yang memiliki ilmu akan diminta untuk memiliki “ilmu padi” semakin merunduk semakin berisi.
Sikap ilmiah diharapkan dimiliki oleh seorang ilmuwan sebab sesuai dengan pengertiannya bahwa ilmuwan adalah orang yang ahli atau banyak pengetahuannya mengenai suatu ilmu. Ilmuwan dapat pula dikatakan kepada orang yang berkecimpung dalam bidang ilmu pengetahuan (KBBI, 2005:425).
Kaitannya dalam pembahasan ini, sikap ilmiah dimaksudkan bagi seorang ilmuwan adalah memiliki dan memahami etika, moral, norma, dan kesusialaan. Dalam Islam, disebutkan pula bagi setiap ilmuwan (alim—orang berilmu) mesti memiliki iman. Hal ini senada dengan firman Allah swt. dalam Al-Qran, surat Al-Mujadalah:11, yang artinya “Allah mengangkat derajat orang-orang yang beriman di antara kamu dan yang berilmu pengetahuan bertingkat-tingkat.”